Translate

Rabu, 14 November 2012

SARANA BERPIKIR ILMIAH

BAB I
PENDAHULUAN

Kegiatan ilmiah merupakan suatu kegiatan yang memerlukan persyaratan panjang guna menemukan kebenaran dengan cara yang sistematis. Suatu kebenaran dapat dituangkan dalam ilmu, sehingga teruji kebenarannya. Akan tetapi harus melalui proses panjang, salah satunya dengan metode ilmiah, sarana berpikir ilmiah, penelitian ilmiah dan lainnya.
Sarana berpikir ilmiah merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Hal inlah yang membantu sehingga memudahkan kita dalam proses kegiatan ilmiah yang rumit sehingga suatu ilmu tersebut dapat secara sistematis, terencana, tepat dan lainnya.
Dalam makalah yang singkat ini penulis akan mencoba memaparkan tentang Sarana Berpikir Ilmiah, Bahasa, Matematika, dan Statistika. Dalam makalah yang singkat ini mungkin banyak kekurangan dalam penulisan juga isi dalam makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari saudara/i pembaca, khususnya dosen pembimbing guna kesempurnaan makalah ini.

BAB II
PEMBAHASAN

A. SARANA BERPIKIR ILMIAH
Sarana berpikir ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Sarana berpikir ilmiah dalam pembelajaran ini, kita harus memperhatikan dua hal. Pertama, sarana ilmiah bukan merupakan ilmu dalam pengertian bahwa saran ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. Kedua, tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik.[1]
Dalam hal ini maka sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang pengetahuan untuk mengembangkan materi pengetahuannya berdasarkan metode ilmiah. Untuk dapat melakukan kegiatan berfikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika dan statistika.

B. BAHASA
     1. Pengertian
Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain[2]. Sebagai sarana komunikasi maka segala yang berkaitan dengan komunikasi tidak terlepas dari bahasa, seperti berpikir sistematis dalam menggapai ilmu dan pengetahuan. Dengan kata lain, tanpa mempunyai kemampuan berbahasa, seseorang tidak dapat melakukan kegiatan berpikir secara sistematis dan teratur.
Bloch and Trager mengatakan bahwa a language is a system of arbitrary vocal symbols by means of which a social group cooperates (bahasa adalah suatu sistem simbol-simbol bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh suatu kelompok sosial sebagai alat untuk berkomunikasi.[3]

2. Fungsi Bahasa
      Aliran filsafat bahasa dan psikolinguistik melihat fungsi bahasa sebagai sarana untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan emosi, sedangkan aliran sosiolinguistik berpendapat bahwa fungsi bahasa adalah sarana untuk perubahan masyarakat. Secara umum dapat dinyatakan bahwa fungsi bahasa adalah:
  1. Koordinator kegiatan-kegiatan masyarakat
  2. Penetapan pemikiran dan pengungkapan
  3. Penyampaian pikiran dan perasaan
  4. Penyenangan jiwa
  5. Pengurangan kegoncangan jiwa[4]
Menurut Halliday sebagaimana yang dikutip oleh Thaimah bahwa fungsi bahasa adalah sebagai berikut:
  1. Fungsi Instrumental
  2. Fungsi Regulatoris
  3. Fungsi interaksional
  4. Fungsi personal
  5. Fungsi heuristik
  6. Fungsi imajinatif
  7. Fungsi representasional[5]


3. Bahasa sebagai Sarana Berpikir  Ilmiah
      Berbicara masalah sarana ilmiah, jika kita kaitkan dengan berpikir ilmiah, sarana ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang pengetahuan untuk mengembangkan materi pengetahuan berdasarkan metode ilmiah. Bahasa sebagai alat komunikasi verbal yang digunakan dalam proses berpikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain, baik pikiran yang berlandaskan logika induktif maupun deduktif.

4. Bahasa Ilmiah dan Bahasa  Agama
Telah diutarakan sebelumnya bahwa bahasa ilmiah adalah bahasa yang digunakan dalam kegiatan ilmiah, berbeda dengan bahasa agama. Ada dua pengertian mendasar tentang bahasa agama, pertama, bahasa agama adalah kalam ilahi yang terabadikan ke dalam kitab suci. Kedua, bahasa agama merupakan ungkapan serta perilaku keagamaan dari seseorang atau sebuah kelompok sosial.
Bahasa ilmiah dapat digunakan dalam bahasa agama, baik dalam defenisi pertama maupun kedua tetapi bahasa agama tidak selalu dapat digunakan dalam bahasa ilmiah.

C. MATEMATIKA
1. Matematika sebagai Bahasa
Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat “artifisal” yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa itu maka matematika hanya merupakan kumpulan rumus-rumus yang mati.[6]
Ciri utama matematika ialah metode dalam penalaran (reasoning).[7] Matematika mempunyai kelebihan lain dibandingkan dengan bahasa verbal. Matematika mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif. Matematika memungkinkan ilmu mengalami perkembangan dari tahap kualitatif ke kuantitatif. Perkembangan ini merupakan suatu hal yang imperatif bila kita menghendaki daya prediksi dan kontrol yang lebih tepat dan cermat dari ilmu.[8]

2. Matematika sebagai Sarana Berpikir Deduktif
Matematika merupakan ilmu deduktif. Nama ilmu deduktif diperoleh karena penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi tidak didasari atas pengalaman seperti hanya yang terdapat di dalam ilmu-ilmu empirik, melainkan di dasarkan atas deduksi-deduksi (penjabaran-penjabaran).[9]
Matematika merupakan pengetahuan dan sarana berpikir deduktif. Bahasa yang digunakan adalah bahasa artifisial, yakni bahasa buatan. Keistimewaan bahasa ini adalah terbebas dari aspek emotif dan efektif serta jelas kelihatan bentuk hubungannya. Matematika lebih mementingkan bentuk logisnya. Pernyataan-pernyataannya mempunyai sifat yang jelas.[10]

3. Matematika untuk Ilmu Alam dan Ilmu Sosial
            Matematika marupakan salah satu puncak kegemilangan intelektual. Matematika juga memberikan bahasa, prosses, dan teori yang memberikan ilmu suatu bentuk dan kekuasaan.[11]
            Dengan perkembangan ilmu pengetahuan alam matematika memberikan kontribusi yang cukup besar. Kontrbusi matematika dalam ilmu alam, lebih ditandai dengan penggunaan lambang-lambang bilangan untuk perhitungan dan pengukuran, disamping hal lain seperti bahasa, metode, dan lainnya.
Adapun ilmu-ilmu sosial dapat ditandai oleh kenyataan bahwa kebanyakan dari masalah yang dihadapinya tidak mempunyai pengukuran yang mempergunakan bilangan dan pengertian tentang ruang adalah sama sekali tidak relevan. Seorang ilmuwan menggunakan model sistematis, karena bahasa matematika marupakan suatu cara yang mudah dalam memformulasikan hpotesa keilmuan.

D. STATISTIK
1. Pengertian
            Secara etimologi, kata “statistik” berasal dari kata status (bahasa latin) yang mempunyai persamaan arti dengan kata state (bahasa Inggris), yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan negara. Pada mulanya, kata “statistik” dartkan sebagai “kumpulan bahan keterangan (data), baik yang berwujud angka maupun yang tidak berwujud angka, yang mempunyai arti penting dan kegunaan yang besar bagi suatu negara”.
            Secara terminologi, statistik terkandung berbagai macam pengertian, yaitu:
            Pertama, yaitu kumpulan bahasa keterangan berupa angka atau bilangan.
            Kedua, sebagai kegiatan statistik atau kegiatan perstatistikan atau kegiatan penstatistikan.
            Ketiga, kadang juga dimaksudkan sebaai metode statistik, yaitu cara-cara tertentu yang perlu ditempuh dalam rangka mengumpulkan, menyusun atau mengatur, meyajikan, menganalisis, dan memberikan interpretasi terhadap sekumpulan bahan keterangan yang berupa angka itu dapat berbicara atau dapat membrikan pengertian makna tertentu.
            Keempat, istilah statistik juga dapat diberi pengertian sebagai “ilmu statistik”. Ilmu statistik ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari dan memperkembangkan secara ilmiah tahap-tahap yang ada dalam kegiatan statistik.[12]
            Dalam kamus ilmiah populer, kata statistik berarti tabel, grafik, daftar informasi, angka-angka, informasi. Jadi, statistika merupakan sekumpulan metode untuk membuat keputusan yang bijaksana dalam keadaan yang tidak menentu.

2. Hubungan antara Sarana Ilmiah Bahasa, Logika, Matematika dan Statistika
            Ditinjau dari pola pikirnya, maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan berpikir induktif. Untuk itu, penalaran ilmiah menyandarkan diri kepada proses logika deduktif dan induktif. Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif, sedangkan statistika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir induktif. Jadi keempat sarana ilmiah ini saling berhubungan erat satu sama lain.

3. Tujuan Pengumpulan Data Statistik
Tujuan pengumpulan data statistik ada dua golongan, yaitu tujuan kegiatan praktis dan kegiatan ilmuan. Kedua tujuan tersebut tidak mempunyai perbedaan yang hakiki karen akegiatan ilmuan merupakan dasar dari kegiatan praktis. Dalam bidang statistika, perbedaan yang penting dari kedua kegiatan ini dibentuk oleh kenyataan bahwa dalam kegiatan praktis hakikat aternatif yang sedang diperimbangkan sudah di ketahui, paling tidak secara prinsip. Sedangkan dalam bidang ka ilmuan diterapkan pada pengambilan suatu keputusan yang konsekuensinya sama sekali belum diketahui. Walaupun begitu, kegiatan perbedaan ini hanya bersifat relatif dan bukan suatu perbedaan yang hakiki.[13]

4. Penerapan Statistika
Metode statistika secara meningkat makin sering dipergunakan dalam kegiatan niaga. Statistika diterapkan secara luas dalam hampir semua pengambilan keputusan dalam bidang manajemen.
Permintaan terhadap penelitian di bidang biologi tertentu, umpamanya anthropometri, agronomi, dan genetika, membawa kelahiran baru bagi statistika pada permuaan abad kedua puluh ini. Penerapan metode statistika dalam bidang opini terus berkembang.  Kemajuan di bidang genetika, sangat berhubungan erat dengan perkembangan statistika. Ilmu-ilmu alam terutama astronomi, geologi dan fisika adalah salah satu dari bidang-bidang keilmuan dimana metode statistikauntuk pertama kali di kembangkan dan diterapkan.[14]


BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Sarana berpikir ilmiah merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain. Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. statistika merupakan sekumpulan metode untuk membuat keputusan yang bijaksana dalam keadaan yang tidak menentu.
 DAFTAR PUSTAKA



Bakhtiar, Amsal. Filsafat ilmu. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2008.
Sudijono, Anas. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo Persada. 1996.
Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: PT Pancaranintan Indahgraha, 2007.
Suriasumantri, Jujun S. Ilmu dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan tentang Hakekat Ilmu. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1997.


[1] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: PT Pancaranintan Indahgraha, 2007), hal. 167.
[2] Ibid.
[3] Amsal Bakhtiar, Filsafat ilmu, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2008), hal. 176.
[4] Ibid., hal. 180.
[5] Ibid., hal 181
[6] Jujun S. Suriasumantri, Op-Cit., hal 190.
[7] Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan tentang Hakekat Ilmu, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1997), hal. 172.
[8] Amsal Bakhtiar, Op-Cit, hal. 191.
[9] Ibid.,
[11] Jujun S. Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif, Op-Cit, hal. 172.
[12] Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), hal. 1.
[13] Jujun S. Suriasumantri, Op-Cit, hal. 202.
[14] Amsal Bakhtiar, Op-Cit, hal. 211.

EJAAN YANG DISEMPURNAKAN

BAB I
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan bahasa yang memiliki suku yang bermacam-macam atau bervariasi. Hal ini banyak ditandai dari benyaknya suku, bahasa, adapt, wilayah, dll. Bermula dari keanekaragaman inilah muncul suatu persatuan yang dapat ditandai dengan bahasa. Jhal ini sesuai dengan sumpah pemuda yaitu “Kami putra-putri Indonesia dengan ini menyatakan satu bahasa yaitu bahasa Indonesia”.
Sebagai suatu anak bangsa wajib bagi kita untuk menghargai bangsa atau bahasa dengan cara mempelajari bahasa itu sendiri. Salah satunya yaitu Ejaan Yang Disempurnakan.
Adapun dalam makalah yang singkat ini penulis akan memaparkan tentang pengertian EYD. Untuk menyempurnakan makalah ini penulis mengharapkan kritik dan saran dari saudara/I pembacajhususnya dosen pembimbing.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian
EYD (Ejaan yang Disempurnakan) adalah tata bahasa dalam Bahasa Indonesia yang mengatur penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan, mulai dari pemakaian dan penulisan huruf capital dan huruf miring, serta penulisan unsur serapan.
EYD disini diartikan sebagai tata bahasa yang disempurnakan. Dalam penulisan karya ilmiah perlu adanya aturan tata bahasa yang menyempurnakan sebuah karya tulis. Karena dalam sebuah karya tulis memerlukan tingkat kesempurnaan yang mendetail.
Singkatnya EYD digunakan untuk membuat tulisan dengan cara yang baik dan benar.
Pada dasarnya ejaan adalah kaidah yang mengandung bahasa tulis sehingga diperoleh tulisan yang benar. Dengan demikian tulisan yang tidak memperhatikan ejaan berarti tidak dijamin kebenarannya. Dengan kata lainpenulisan yang menyimpang dari tata aturan atau kaidah ejaan yang berlaku atau yang ditetapkan maka hasilnya belum tentu merupakan tulisan yang baku.
Adapun beberapa hal yang penting antara lain:
1.      penulisan huruf
2.      penulisan kata
3.      penulisan angka dan lambang bilangan
4.      penulisan tanda baca.

I.                   Penulisan Huruf
a. Penulisan Huruf Besar atau Huruf Kapital
Dalam Pedoman Umum Ejaan bahasa Indonesia yang Disempurnakan terdapat tiga belas penuisan huruf kapital. Berikut ini disajikan beberapa hal yang masih perlu diperhatikan :
1) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam menuliskan ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya : Allah
Yang Mahakuasa
Akan tetapi, huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama untuk menuliskan kata-kata, seperti imam, makmum, doa, puasa, dan misa.
Misalnya : Ia diangkat menjadi imam mesjid di kampungnya.
2) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Misalnya : Haji Agus Salim Imam Hanafi
Akan tetapi, huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.
Benar
Ayahnya menunaikan ibadah haji.
Salah
Ayahnya menunaikan ibadah Haji.
3) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya : Gubernur Asnawi Mangku Alam
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya :
Sebagai seorang gubernur yang baru, ia berkelilinag di daerahnya untuk berkenalan dengan masyarakat yang dipimpinnya.
(bukan : Sebagai seorang Gubernur yang baru, ia berkelilinag di daerahnya untuk berkenalan dengan masyarakat yang dipimpinnya.)
Hari Senin yang lalu Lenan Kolonel Saladin dilantik menjadi kolonel.
(bukan : Hari Senin yang lalu Lenan Kolonel Saladin dilantik menjadi Kolonel.)
4) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa.
Misalnya : bangsa Indonesia
Perlu kita ingat bahwa yang dituliskan dengan huruf kapital hanya nama bangsa; nama suku, dan nama bahasa, sedangkan kata bangsa, suku, dan bahasa ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya :
Benar Salah
bangsa Indonesia Bangsa Indonesia
5) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Misalnya :
Benar Salah
tahun Masehi Tahun Masehi
6) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama khas dalam geografi.
Misalnya :
Benar Salah
Teluk Jakarta teluk Jakarta
Bukit Barisan bukit Barisan
7) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama resmi badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi.
Misalnya :
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Benar
Dia menjadi pegawai di salah sebuah departemen.
Salah
Dia menjadi pegawai di salah sebuah Departemen.
8) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai sebagai kata ganti atau sapaan.
Misalnya :
Kapan Bapak berangkat ?
Apakah itu, Bu?
Benar
Kita harus menghormati ayah dan ibu kita.
Salah
Kita harus menghormati Ayah dan Ibu kita.
9) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
Misalnya :
Benar
Tahukan Anda bahwa gaji pegawai negeri dinaikkan?
Salah
Tahukan anda bahwa gaji pegawai negeri dinaikkan?
b. Penulisan Huruf Miring
Huruf miring dalam cetakan, yang dalam tulisan tangan atau ketikan dinyatakan dengan tanda garis bawah, dipakai untuk
(1) menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam karangan,
(2) menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata, dan
(3) menuliskan kata nama-nama ilmiah, atau ungkapan asing, kecuali kata yang telah disesuaikan ejaannya.
Misalnya :
Majalah bahan dan Sarana sangat digemari para pengusaha.
II.                Penulisan Kata

a)      Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Misalnya:
Ibu peraya bahwa engkau tahu.
  
b)     Kata Turunan
1.      Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Misalnya:
bergeletar, dikelola, penetapan, menengok, mempermainkan
2.      Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. (lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5.)
Misalnya:
bertepuk tangan, garis bawahi, menganak sungai, sebarluaskan
3.      Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai. (lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5.)
Misalnya:
menggarisbawahi, menyebarluaskan, dilipatgandakan, penghancur-leburan
4.      Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya:
adipati, aerodinamika, antarkota, anumerta, audiogram, dan awahama.
Catatan:
1.         Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).
Misalnya:
non-Indonesia, pan-Afrikanisme
2.         Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata esa dan kata yang bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah.
Misalnya:
Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.

c)      Kata Ulang
Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.
Misalnya:
anak-anak, buku-buku, kuda-kuda, mata-mata, hati-hati, undang-undang, biri-biri.



d)     Gabungan Kata
1.      Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.
Misalnya:
duta besar, kambing hitam, kereta api cepat luar biasa, mata pelajaran.
2.      Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan tanda hubunguntuk menegaskan pertalian unsur yang bersangkutan.
Misalnya:
alat pandang-dengar, anak-istri saya, buku sejarah-baru.
3.      Gabungan kata berikut ditulis serangkai.
Misalnya:
acapkali, adakalanya, akhirulkalam, alhamdulillah, astagfirullah, bagaimana.

e)      Kata Ganti ku, kau, mu, dan nya
Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; ku, mu, dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa yang kumiliki boleh kauambil.

f)       Kata Depan di, ke, dan dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kacuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.
Misalnya:
Kain itu terletak di dalam lemari.
Catatan:
Kata yang dicetak miring di bawah ini ditulis serangkai.
Si Amin lebih tua daripada si Ahmad.


g)      Kata si dan sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
Harimau itu marah sekali kepada sang kancil.

h)     Partikel
1.      Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Bacalah buku itu baik-baik.
Apakah yang tersirat dalam surat itu?
2.      Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.
Handak pulang pun sudah tak ada kendaraan.
Catatan:
Kelompok yang lazim dianggap padu, misalnya adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, walaupun ditulis serangkai.
Misalnya:
Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.
Bagaimanapun juga akan dicobanya menyelesaikan tugas itu.
3.      Partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’, dan ‘tiap’ ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.
Misalnya:
Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 April.

i)        Singkatan dan Akronim
1.      Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.
a.       Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
Misalnya:
A.S. Kramawijaya
S.E.                  sarjana ekonomi
S.Pd.                sarjana pendidikan
S.Sos.               sarjana sosial
b.      Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.
Misalnya:
DPR                Dewan Perwakilan Rakyat
PGRI               Persatuan Guru Republik Indonesia
c.       Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.
Misalnya:
dll.                                           dan lain lain
dsb.                                         dan sebagainya
Tetapi:
a.n.                              atas nama
d.a.                              dengan alamat
d.      Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
Misalnya:
Cu                               kuprum
TNT                             trinitrotoluen
2.      Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
a.       Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.
Misalnya:
ABRI              Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
LAN                Lembaga Administrasi Indonesia
b.      Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.
Misalnya:
Akabri             Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
Bappenas         Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
c.       Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya:
pemilu             pemilihan umum
radar                radio detecting and ranging
Catatan:
Jika dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya diperhatikan syarat-syarat berikut. (1) Jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku kata yang lazim pada kata Indonesia. (2) Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.

j)       Angka dan Lambang Bilangan
1.      Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.
Angka Arab             : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Angka Romawi        : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100),
D (500), M (1000), V (5.000), M (1.000.000)
Pemakaiannya diatur lebih lanjut dalam pasal-pasal yang berikut ini.
2.      Angka digunakan untuk menyatakan (i) ukuran panjang, berat, luas, dan isi, (ii) satuan waktu, (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas.
Misalnya:
Rp5.000,00                       50 dolar Amerika
US$3.50*                          10 paun Inggris          
$5.10*                               100 yen
* Tanda titik di sini merupakan tanda desimal.
3.      Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat.
Misalnya:
Jalan Tanah Abang I No. 15
Hotel Indonesia, Kamar 169
4.      Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.
Misalnya:
Bab X, Pasal 5, halaman 252
Surah Yasin: 9
5.      Penulisan lambang bilangan yang dengan huruf dilakukan sebagai berikut:
a.       Bilangan utuh
Misalnya:
dua belas                                 12
dua puluh dua                         22
b.      Bilangan pecahan
Misalnya:
setengah                                  1/2
satu persen                              1 %
satu permil                               1 0/00
6.      Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara yang berikut:
Misalnya:
Paku Buwono X; pada awal abad XX; pada awal abad ke-20 ini; lihat Bab II, Pasal 5; dalam bab ke-2 buku itu; di daerah tingkat II itu; di tingkat kedua gedung itu; di tingkat ke-2 itu; kantor di tingkat II itu.
7.      Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran –an mengikuti cara yang berikut. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5.)
Misalnya:
tahun  ’50-an                     atau tahun lima puluhan
uang 5000-an                    atau uang lima ribuan
lima uang 1000-an            atau lima uang seribuan
8.      Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan.
Misalnya:
Amir menonton drama itu sampai tiga kali.
Ayah memesan tiga ratus ekor ayam.
Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang memberikan suara blangko.
Kendaraan yang ditempah untuk pengangkutan umum terdiri atas 50 bus, 100 helicak, 100 bemo.
9.      Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
Misalnya:
Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu.
Pak Darmo mengundang 250 orang tamu.
Bukan:
15 orang tewas dalam kecelakaan itu.
Dua ratus lima puluh orang tamu diundang Pak Darmo.
10.  Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca.
Misalnya:
Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.
Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 120 juta orang.
11.  Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.
Misalnya:
Kantor kami mempunyai dua puluh orang pegawai.
Di lemari itu tersimpan 805 buku dan majalah.
Bukan:
Kantor kami mempunyai 20 (dua puluh) orang pegawai.
Di lemari itu tersimpan 805 (delapan ratus lima) buku dan majalah.
12.  Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.
Misalnya:
Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp55.500,00 (lima puluh lima ribu lima ratus rupiah).
Saya lampirkan tanda terima uang sebesar 55.500,00 (lima puluh lima ribu lima ratus) rupiah.

III. Tanda Baca
a.       Tanda Titik (.)
1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan
contoh: Saya suka makan nasi.
Sebuah kalimat diakhiri dengan titik. Apabila dilanjutkan dengan kalimat baru, harus diberi jarak satu ketukan. Cara ini dilakukan dalam penulisan karya ilmiah.
2. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang.
contoh:
• Irwan S. Gatot
• George W. Bush
Tetapi apabila nama itu ditulis lengkap, tanda titik tidak dipergunakan.
Contoh: Anthony Tumiwa
3. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.
Contoh:
• Dr. (Doktor)
• Ny. (Nyonya)
• S.E. (Sarjana Ekonomi)
4. Tanda titik dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah sangat umum. Pada singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih hanya dipakai satu tanda titik.
Contoh:
• dll. (dan lain-lain)
• dsb. (dan sebagainya)
• tgl. (tanggal)
Dalam karya ilmiah seperti skripsi, makalah, laporan, tesis, dan disertasi, dianjurkan tidak mempergunakan singkatan.
5. Tanda titik dibelakang huruf dalam suatu bagian ikhtisar atau daftar.
contoh:
I. Penyiapan Ulangan Umum.
A. Peraturan.
B. Syarat.
Jika berupa angka, maka urutan angka itu dapat disusun sebagai berikut dan tanda titik tidak dipakai pada akhir sistem desimal.
Contoh:
• 1.1
• 1.2
• 1.2.1
6. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.
Contoh: Pukul 7.10.12 (pukul 7 lewat 10 menit 12 detik)
7. Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang tidak menunjukkan jumlah.
contoh:
• Nama Ivan terdapat pada halaman 1210 dan dicetak tebal.
• Nomor Giro 033983 telah saya kasih kepada Michael.
8. Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan yang terdiri dari huruf-huruf awal kata atau suku kata, atau gabungan keduanya, yang terdapat di dalam nama badan pemerintah, lembaga- lembaga nasional di dalam akronomi yang sudah diterima oleh masyarakat.
contoh:
• Sekjen : (Sekretaris Jenderal)
• UUD : (Undang-Undang Dasar)
• SMA : (Sekolah Menengah Atas)
• WHO : (World Health Organization)
9. Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang.
contoh:
• Cu (Kuprum)
• 52 cm
• l (liter)
• Rp 350,00
10. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, atau kepala ilustrasi, tabel dan sebagainya.
contoh:
• Latar Belakang Pembentukan
• Sistem Acara
11. Tanda titik tidak dipakai di belakang alamat pengirim dan tanggal surat, atau nama dan alamat penerima surat.
contoh:
• Jalan Kebayoran 32
• Yth.Sdr.Ivan
Jalan Istana 30
Surabaya
b.      Tanda Koma
1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.
contoh: Saya menjual baju, celana, dan topi.
2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang berikutnya, yang didahului oleh kata seperti, tetapi, dan melainkan.
contoh: Saya bergabung dengan Wikipedia, tetapi tidak aktif.
3a. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk kalimatnya.
contoh:
• Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.

BAB III
PENUTUP
EYD (Ejaan yang Disempurnakan) adalah tata bahasa dalam Bahasa Indonesia yang mengatur penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan, mulai dari pemakaian dan penulisan huruf capital dan huruf miring, serta penulisan unsur serapan.
EYD disini diartikan sebagai tata bahasa yang disempurnakan.
Adapun beberapa hal yang penting antara lain:
1.      penulisan huruf
2.      penulisan kata
3.      penulisan angka dan lambang bilangan
4.      penulisan tanda baca.











Daftar Pustaka

Badudu, J. S. 1987. Pelik-Pelik Bahasa Indonesia. Bandung: CV. Pustaka Prima.
Junus, Husain. 1996. Bahasa Indonesia “Tujuan sejarahnya dan Pemakaian Kalimat Yang Baik dan Benar. Jakarta: Usaha Nasional.
Team Akar Media. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia.  Surabaya: Akar Media.
http://ibahasa.blogspot.com/2008/06/penulisan-huruf-dalam-bahasa-indonesia.html