BAB I
PENDAHULUAN
Kegiatan ilmiah merupakan suatu kegiatan yang memerlukan
persyaratan panjang guna menemukan kebenaran dengan cara yang sistematis. Suatu
kebenaran dapat dituangkan dalam ilmu, sehingga teruji kebenarannya. Akan
tetapi harus melalui proses panjang, salah satunya dengan metode ilmiah, sarana
berpikir ilmiah, penelitian ilmiah dan lainnya.
Sarana berpikir ilmiah merupakan alat yang membantu
kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Hal inlah yang
membantu sehingga memudahkan kita dalam proses kegiatan ilmiah yang rumit
sehingga suatu ilmu tersebut dapat secara sistematis, terencana, tepat dan
lainnya.
Dalam makalah yang singkat ini penulis akan mencoba
memaparkan tentang Sarana Berpikir Ilmiah, Bahasa, Matematika, dan Statistika.
Dalam makalah yang singkat ini mungkin banyak kekurangan dalam penulisan juga
isi dalam makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran
dari saudara/i pembaca, khususnya dosen pembimbing guna kesempurnaan makalah
ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A. SARANA BERPIKIR ILMIAH
Sarana berpikir ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang
membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Sarana
berpikir ilmiah dalam pembelajaran ini, kita harus memperhatikan dua hal.
Pertama, sarana ilmiah bukan merupakan ilmu dalam pengertian bahwa saran ilmiah
itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah.
Kedua, tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita
melakukan penelaahan ilmiah secara baik.[1]
Dalam hal ini maka sarana berpikir ilmiah merupakan alat
bagi cabang-cabang pengetahuan untuk mengembangkan materi pengetahuannya
berdasarkan metode ilmiah. Untuk dapat melakukan kegiatan berfikir ilmiah dengan
baik maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika dan
statistika.
B. BAHASA
1. Pengertian
Bahasa merupakan alat komunikasi verbal
yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat
berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada
orang lain[2].
Sebagai sarana komunikasi maka segala yang berkaitan dengan komunikasi tidak
terlepas dari bahasa, seperti berpikir sistematis dalam menggapai ilmu dan
pengetahuan. Dengan kata lain, tanpa mempunyai kemampuan berbahasa, seseorang
tidak dapat melakukan kegiatan berpikir secara sistematis dan teratur.
Bloch and Trager mengatakan bahwa a
language is a system of arbitrary vocal symbols by means of which a social
group cooperates (bahasa adalah suatu sistem simbol-simbol bunyi yang arbitrer
yang dipergunakan oleh suatu kelompok sosial sebagai alat untuk berkomunikasi.[3]
2. Fungsi Bahasa
Aliran filsafat
bahasa dan psikolinguistik melihat fungsi bahasa sebagai sarana untuk
menyampaikan pikiran, perasaan, dan emosi, sedangkan aliran sosiolinguistik
berpendapat bahwa fungsi bahasa adalah sarana untuk perubahan masyarakat.
Secara umum dapat dinyatakan bahwa fungsi bahasa adalah:
- Koordinator kegiatan-kegiatan masyarakat
- Penetapan pemikiran dan pengungkapan
- Penyampaian pikiran dan perasaan
- Penyenangan jiwa
- Pengurangan kegoncangan jiwa[4]
Menurut Halliday sebagaimana yang
dikutip oleh Thaimah bahwa fungsi bahasa adalah sebagai berikut:
- Fungsi Instrumental
- Fungsi Regulatoris
- Fungsi interaksional
- Fungsi personal
- Fungsi heuristik
- Fungsi imajinatif
- Fungsi representasional[5]
3. Bahasa sebagai Sarana Berpikir Ilmiah
Berbicara
masalah sarana ilmiah, jika kita kaitkan dengan berpikir ilmiah, sarana ilmiah
merupakan alat bagi cabang-cabang pengetahuan untuk mengembangkan materi
pengetahuan berdasarkan metode ilmiah. Bahasa sebagai alat komunikasi verbal
yang digunakan dalam proses berpikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat
berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada
orang lain, baik pikiran yang berlandaskan logika induktif maupun deduktif.
4. Bahasa Ilmiah dan Bahasa Agama
Telah diutarakan sebelumnya bahwa bahasa
ilmiah adalah bahasa yang digunakan dalam kegiatan ilmiah, berbeda dengan
bahasa agama. Ada dua pengertian mendasar tentang bahasa agama, pertama, bahasa
agama adalah kalam ilahi yang terabadikan ke dalam kitab suci. Kedua, bahasa
agama merupakan ungkapan serta perilaku keagamaan dari seseorang atau sebuah
kelompok sosial.
Bahasa ilmiah dapat digunakan dalam
bahasa agama, baik dalam defenisi pertama maupun kedua tetapi bahasa agama
tidak selalu dapat digunakan dalam bahasa ilmiah.
C. MATEMATIKA
1. Matematika sebagai Bahasa
Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian
makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika
bersifat “artifisal” yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan
kepadanya. Tanpa itu maka matematika hanya merupakan kumpulan rumus-rumus yang
mati.[6]
Ciri utama matematika ialah metode dalam penalaran (reasoning).[7]
Matematika mempunyai kelebihan lain dibandingkan dengan bahasa verbal.
Matematika mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan
pengukuran secara kuantitatif. Matematika memungkinkan ilmu mengalami
perkembangan dari tahap kualitatif ke kuantitatif. Perkembangan ini merupakan
suatu hal yang imperatif bila kita menghendaki daya prediksi dan kontrol yang
lebih tepat dan cermat dari ilmu.[8]
2. Matematika sebagai Sarana Berpikir Deduktif
Matematika merupakan ilmu deduktif. Nama ilmu deduktif
diperoleh karena penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi tidak didasari atas
pengalaman seperti hanya yang terdapat di dalam ilmu-ilmu empirik, melainkan di
dasarkan atas deduksi-deduksi (penjabaran-penjabaran).[9]
Matematika merupakan pengetahuan dan sarana berpikir
deduktif. Bahasa yang digunakan adalah bahasa artifisial, yakni bahasa buatan.
Keistimewaan bahasa ini adalah terbebas dari aspek emotif dan efektif serta
jelas kelihatan bentuk hubungannya. Matematika lebih mementingkan bentuk logisnya.
Pernyataan-pernyataannya mempunyai sifat yang jelas.[10]
3. Matematika untuk Ilmu Alam dan Ilmu Sosial
Matematika marupakan salah satu
puncak kegemilangan intelektual. Matematika juga memberikan bahasa, prosses,
dan teori yang memberikan ilmu suatu bentuk dan kekuasaan.[11]
Dengan perkembangan ilmu pengetahuan
alam matematika memberikan kontribusi yang cukup besar. Kontrbusi matematika
dalam ilmu alam, lebih ditandai dengan penggunaan lambang-lambang bilangan
untuk perhitungan dan pengukuran, disamping hal lain seperti bahasa, metode,
dan lainnya.
Adapun ilmu-ilmu sosial dapat ditandai oleh kenyataan bahwa
kebanyakan dari masalah yang dihadapinya tidak mempunyai pengukuran yang
mempergunakan bilangan dan pengertian tentang ruang adalah sama sekali tidak relevan.
Seorang ilmuwan menggunakan model sistematis, karena bahasa matematika
marupakan suatu cara yang mudah dalam memformulasikan hpotesa keilmuan.
D. STATISTIK
1. Pengertian
Secara etimologi, kata “statistik”
berasal dari kata status (bahasa latin) yang mempunyai persamaan arti
dengan kata state (bahasa Inggris), yang dalam bahasa Indonesia
diterjemahkan dengan negara. Pada mulanya, kata “statistik” dartkan sebagai
“kumpulan bahan keterangan (data), baik yang berwujud angka maupun yang tidak
berwujud angka, yang mempunyai arti penting dan kegunaan yang besar bagi suatu
negara”.
Secara terminologi, statistik
terkandung berbagai macam pengertian, yaitu:
Pertama, yaitu kumpulan bahasa
keterangan berupa angka atau bilangan.
Kedua, sebagai kegiatan statistik
atau kegiatan perstatistikan atau kegiatan penstatistikan.
Ketiga, kadang juga dimaksudkan
sebaai metode statistik, yaitu cara-cara tertentu yang perlu ditempuh dalam
rangka mengumpulkan, menyusun atau mengatur, meyajikan, menganalisis, dan
memberikan interpretasi terhadap sekumpulan bahan keterangan yang berupa angka
itu dapat berbicara atau dapat membrikan pengertian makna tertentu.
Keempat, istilah statistik juga
dapat diberi pengertian sebagai “ilmu statistik”. Ilmu statistik ialah ilmu
pengetahuan yang mempelajari dan memperkembangkan secara ilmiah tahap-tahap
yang ada dalam kegiatan statistik.[12]
Dalam kamus ilmiah populer, kata
statistik berarti tabel, grafik, daftar informasi, angka-angka, informasi.
Jadi, statistika merupakan sekumpulan metode untuk membuat keputusan yang
bijaksana dalam keadaan yang tidak menentu.
2. Hubungan antara Sarana Ilmiah Bahasa, Logika, Matematika dan
Statistika
Ditinjau dari pola pikirnya, maka
ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan berpikir induktif. Untuk
itu, penalaran ilmiah menyandarkan diri kepada proses logika deduktif dan
induktif. Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif,
sedangkan statistika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir induktif.
Jadi keempat sarana ilmiah ini saling berhubungan erat satu sama lain.
3. Tujuan Pengumpulan Data Statistik
Tujuan pengumpulan data statistik ada dua golongan, yaitu
tujuan kegiatan praktis dan kegiatan ilmuan. Kedua tujuan tersebut tidak
mempunyai perbedaan yang hakiki karen akegiatan ilmuan merupakan dasar dari
kegiatan praktis. Dalam bidang statistika, perbedaan yang penting dari kedua
kegiatan ini dibentuk oleh kenyataan bahwa dalam kegiatan praktis hakikat
aternatif yang sedang diperimbangkan sudah di ketahui, paling tidak secara
prinsip. Sedangkan dalam bidang ka ilmuan diterapkan pada pengambilan suatu
keputusan yang konsekuensinya sama sekali belum diketahui. Walaupun begitu,
kegiatan perbedaan ini hanya bersifat relatif dan bukan suatu perbedaan yang
hakiki.[13]
4. Penerapan Statistika
Metode statistika secara meningkat makin sering
dipergunakan dalam kegiatan niaga. Statistika diterapkan secara luas dalam
hampir semua pengambilan keputusan dalam bidang manajemen.
Permintaan terhadap penelitian di bidang biologi tertentu,
umpamanya anthropometri, agronomi, dan genetika, membawa kelahiran baru bagi
statistika pada permuaan abad kedua puluh ini. Penerapan metode statistika
dalam bidang opini terus berkembang.
Kemajuan di bidang genetika, sangat berhubungan erat dengan perkembangan
statistika. Ilmu-ilmu alam terutama astronomi, geologi dan fisika adalah salah
satu dari bidang-bidang keilmuan dimana metode statistikauntuk pertama kali di
kembangkan dan diterapkan.[14]
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sarana berpikir ilmiah merupakan alat yang membantu
kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Bahasa merupakan
alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah dimana
bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan
pikiran tersebut kepada orang lain. Matematika adalah bahasa yang melambangkan
serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. statistika
merupakan sekumpulan metode untuk membuat keputusan yang bijaksana dalam
keadaan yang tidak menentu.
DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiar,
Amsal. Filsafat ilmu. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2008.
Sudijono, Anas. Pengantar Statistik
Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo Persada. 1996.
Suriasumantri, Jujun S. Filsafat
Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: PT Pancaranintan Indahgraha, 2007.
Suriasumantri, Jujun S. Ilmu dalam
Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan tentang Hakekat Ilmu. Jakarta: Yayasan
Obor Indonesia, 1997.
[1] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer,
(Jakarta: PT Pancaranintan Indahgraha, 2007), hal. 167.
[2] Ibid.
[3] Amsal Bakhtiar, Filsafat ilmu, (Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada, 2008), hal. 176.
[4] Ibid., hal. 180.
[5] Ibid., hal 181
[6] Jujun S. Suriasumantri, Op-Cit., hal 190.
[7] Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan
Karangan tentang Hakekat Ilmu, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1997), hal.
172.
[8] Amsal Bakhtiar, Op-Cit, hal. 191.
[9] Ibid.,
[11]
Jujun S. Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif, Op-Cit, hal. 172.
[12] Anas
Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 1996), hal. 1.
[13]
Jujun S. Suriasumantri, Op-Cit, hal. 202.
[14]
Amsal Bakhtiar, Op-Cit, hal. 211.