BAB I
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan bahasa yang
memiliki suku yang bermacam-macam atau bervariasi. Hal ini banyak ditandai dari
benyaknya suku, bahasa, adapt, wilayah, dll. Bermula dari keanekaragaman inilah
muncul suatu persatuan yang dapat ditandai dengan bahasa. Jhal ini sesuai
dengan sumpah pemuda yaitu “Kami putra-putri Indonesia
dengan ini menyatakan satu bahasa yaitu bahasa Indonesia”.
Sebagai suatu anak bangsa wajib
bagi kita untuk menghargai bangsa atau bahasa dengan cara mempelajari bahasa
itu sendiri. Salah satunya yaitu Ejaan Yang Disempurnakan.
Adapun dalam makalah yang
singkat ini penulis akan memaparkan tentang pengertian EYD. Untuk
menyempurnakan makalah ini penulis mengharapkan kritik dan saran dari saudara/I
pembacajhususnya dosen pembimbing.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
EYD (Ejaan yang Disempurnakan) adalah tata bahasa dalam
Bahasa Indonesia yang mengatur penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan, mulai
dari pemakaian dan penulisan huruf capital dan huruf miring, serta penulisan
unsur serapan.
EYD disini diartikan sebagai tata bahasa yang disempurnakan. Dalam penulisan karya ilmiah perlu adanya aturan tata bahasa yang menyempurnakan sebuah karya tulis. Karena dalam sebuah karya tulis memerlukan tingkat kesempurnaan yang mendetail.
Singkatnya EYD digunakan untuk membuat tulisan dengan cara yang baik dan benar.
EYD disini diartikan sebagai tata bahasa yang disempurnakan. Dalam penulisan karya ilmiah perlu adanya aturan tata bahasa yang menyempurnakan sebuah karya tulis. Karena dalam sebuah karya tulis memerlukan tingkat kesempurnaan yang mendetail.
Singkatnya EYD digunakan untuk membuat tulisan dengan cara yang baik dan benar.
Pada dasarnya ejaan adalah
kaidah yang mengandung bahasa tulis sehingga diperoleh tulisan yang benar.
Dengan demikian tulisan yang tidak memperhatikan ejaan berarti tidak dijamin
kebenarannya. Dengan kata lainpenulisan yang menyimpang dari tata aturan atau
kaidah ejaan yang berlaku atau yang ditetapkan maka hasilnya belum tentu
merupakan tulisan yang baku.
Adapun beberapa hal yang
penting antara lain:
1. penulisan huruf
2. penulisan kata
3. penulisan angka dan lambang bilangan
4. penulisan tanda baca.
I.
Penulisan Huruf
a. Penulisan
Huruf Besar atau Huruf Kapital
Dalam Pedoman Umum Ejaan bahasa Indonesia yang Disempurnakan
terdapat tiga belas penuisan huruf kapital. Berikut ini disajikan beberapa hal
yang masih perlu diperhatikan :
1) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama
dalam menuliskan ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci
termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya
: Allah
Yang
Mahakuasa
Akan tetapi, huruf kapital tidak
dipakai sebagai huruf pertama untuk menuliskan kata-kata, seperti imam, makmum,
doa, puasa, dan misa.
Misalnya : Ia
diangkat menjadi imam mesjid di kampungnya.
2) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama
gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Misalnya : Haji Agus Salim Imam Hanafi
Akan tetapi, huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf
pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama
orang.
Benar
Ayahnya
menunaikan ibadah haji.
Salah
Ayahnya
menunaikan ibadah Haji.
3) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama
nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang, nama instansi, atau nama
tempat.
Misalnya : Gubernur Asnawi Mangku Alam
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan
dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya :
Sebagai seorang gubernur yang baru, ia berkelilinag
di daerahnya untuk berkenalan dengan masyarakat yang dipimpinnya.
(bukan : Sebagai seorang Gubernur yang baru, ia berkelilinag di daerahnya untuk berkenalan
dengan masyarakat yang dipimpinnya.)
Hari Senin yang lalu Lenan Kolonel Saladin dilantik menjadi
kolonel.
(bukan : Hari Senin yang lalu Lenan Kolonel Saladin
dilantik menjadi Kolonel.)
4) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama
nama bangsa, suku, dan bahasa.
Misalnya : bangsa Indonesia
Perlu kita ingat bahwa yang dituliskan dengan huruf kapital
hanya nama bangsa; nama suku, dan nama bahasa, sedangkan
kata bangsa, suku, dan bahasa ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya :
Benar Salah
bangsa Indonesia Bangsa Indonesia
5) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama
nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Misalnya :
Benar Salah
tahun Masehi Tahun Masehi
6) Huruf kapital dipakai
sebagai huruf pertama nama khas dalam geografi.
Misalnya :
Benar Salah
Teluk Jakarta teluk Jakarta
Bukit Barisan bukit Barisan
7) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama
nama resmi badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta nama dokumen
resmi.
Misalnya :
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Benar
Dia menjadi pegawai di salah sebuah departemen.
Salah
Dia menjadi pegawai di salah sebuah Departemen.
8) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama
kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, saudara, kakak,
adik, dan paman yang dipakai sebagai kata ganti atau sapaan.
Misalnya :
Kapan
Bapak berangkat ?
Apakah
itu, Bu?
Benar
Kita harus menghormati ayah dan ibu kita.
Salah
Kita harus menghormati Ayah dan
Ibu kita.
9) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama
kata ganti Anda.
Misalnya :
Benar
Tahukan
Anda bahwa gaji pegawai negeri dinaikkan?
Salah
Tahukan anda bahwa gaji pegawai negeri dinaikkan?
b. Penulisan
Huruf Miring
Huruf
miring dalam cetakan, yang dalam tulisan tangan atau ketikan dinyatakan dengan
tanda garis bawah, dipakai untuk
(1) menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam karangan,
(2) menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau
kelompok kata, dan
(3) menuliskan kata nama-nama ilmiah, atau ungkapan asing,
kecuali kata yang telah disesuaikan ejaannya.
Misalnya :
Majalah bahan dan Sarana sangat digemari
para pengusaha.
II.
Penulisan Kata
a)
Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu
kesatuan.
Misalnya:
Ibu peraya bahwa engkau tahu.
b) Kata Turunan
1.
Imbuhan (awalan, sisipan,
akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Misalnya:
bergeletar, dikelola, penetapan, menengok, mempermainkan
2.
Jika bentuk dasar berupa
gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung
mengikuti atau mendahuluinya. (lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab
V, Pasal E, Ayat 5.)
Misalnya:
bertepuk tangan, garis bawahi,
menganak sungai, sebarluaskan
3.
Jika bentuk dasar yang berupa
gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu
ditulis serangkai. (lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E,
Ayat 5.)
Misalnya:
menggarisbawahi, menyebarluaskan, dilipatgandakan, penghancur-leburan
4.
Jika salah satu unsur gabungan
kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya:
adipati, aerodinamika, antarkota, anumerta, audiogram, dan awahama.
Catatan:
1.
Jika bentuk terikat diikuti
oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital, di antara kedua unsur itu
dituliskan tanda hubung (-).
Misalnya:
non-Indonesia, pan-Afrikanisme
2.
Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata esa dan kata yang bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah.
Misalnya:
Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.
c)
Kata Ulang
Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan
tanda hubung.
Misalnya:
anak-anak, buku-buku, kuda-kuda, mata-mata, hati-hati,
undang-undang, biri-biri.
d) Gabungan Kata
1.
Gabungan kata yang lazim
disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.
Misalnya:
duta besar, kambing hitam, kereta api cepat luar biasa,
mata pelajaran.
2.
Gabungan kata, termasuk istilah
khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan
tanda hubunguntuk menegaskan pertalian unsur yang bersangkutan.
Misalnya:
alat pandang-dengar,
anak-istri saya, buku sejarah-baru.
3.
Gabungan kata berikut ditulis
serangkai.
Misalnya:
acapkali, adakalanya, akhirulkalam, alhamdulillah,
astagfirullah, bagaimana.
e)
Kata Ganti ku, kau, mu, dan nya
Kata ganti ku
dan kau ditulis serangkai dengan kata
yang mengikutinya; ku, mu, dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa yang kumiliki
boleh kauambil.
f)
Kata Depan di, ke, dan dari
Kata depan di, ke,
dan dari ditulis terpisah dari kata
yang mengikutinya kacuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap
sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.
Misalnya:
Kain itu terletak di
dalam lemari.
Catatan:
Kata yang dicetak miring di bawah ini ditulis serangkai.
Si Amin lebih tua daripada
si Ahmad.
g)
Kata si dan sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang
mengikutinya.
Misalnya:
Harimau itu marah sekali kepada sang kancil.
h) Partikel
1.
Partikel -lah, -kah, dan -tah
ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Bacalah buku
itu baik-baik.
Apakah yang
tersirat dalam surat
itu?
2.
Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa pun yang
dimakannya, ia tetap kurus.
Handak pulang pun
sudah tak ada kendaraan.
Catatan:
Kelompok yang lazim dianggap padu, misalnya adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun,
biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun,
walaupun ditulis serangkai.
Misalnya:
Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.
Bagaimanapun juga akan dicobanya menyelesaikan tugas itu.
3.
Partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’, dan ‘tiap’ ditulis terpisah dari
bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.
Misalnya:
Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 April.
i)
Singkatan dan Akronim
1.
Singkatan ialah bentuk yang
dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.
a.
Singkatan nama orang, nama
gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
Misalnya:
A.S. Kramawijaya
S.E. sarjana
ekonomi
S.Pd. sarjana
pendidikan
S.Sos. sarjana sosial
b.
Singkatan nama resmi lembaga
pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi
yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak
diikuti dengan tanda titik.
Misalnya:
DPR Dewan
Perwakilan Rakyat
PGRI Persatuan
Guru Republik Indonesia
c.
Singkatan umum yang terdiri
atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.
Misalnya:
dll. dan
lain lain
dsb. dan
sebagainya
Tetapi:
a.n. atas
nama
d.a. dengan
alamat
d.
Lambang kimia, singkatan satuan
ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
Misalnya:
Cu kuprum
TNT trinitrotoluen
2.
Akronim ialah singkatan yang
berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku
kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
a.
Akronim nama diri yang berupa
gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.
Misalnya:
ABRI Angkatan
Bersenjata Republik Indonesia
LAN Lembaga
Administrasi Indonesia
b.
Akronim nama diri yang berupa
gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan
huruf awal huruf kapital.
Misalnya:
Akabri Akademi
Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
Bappenas Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional
c.
Akronim yang bukan nama diri
yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata
dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya:
pemilu pemilihan
umum
radar radio detecting and ranging
Catatan:
Jika dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya
diperhatikan syarat-syarat berikut. (1) Jumlah suku kata akronim jangan
melebihi jumlah suku kata yang lazim pada kata Indonesia. (2) Akronim dibentuk
dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan
pola kata Indonesia
yang lazim.
j)
Angka dan Lambang Bilangan
1.
Angka dipakai untuk menyatakan
lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau
angka Romawi.
Angka Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100),
D (500), M (1000), V (5.000), M (1.000.000)
Pemakaiannya diatur lebih lanjut
dalam pasal-pasal yang berikut ini.
2.
Angka digunakan untuk
menyatakan (i) ukuran panjang, berat, luas, dan isi, (ii) satuan waktu, (iii)
nilai uang, dan (iv) kuantitas.
Misalnya:
Rp5.000,00 50 dolar Amerika
US$3.50* 10 paun Inggris
$5.10* 100
yen
* Tanda titik di sini merupakan tanda desimal.
3.
Angka lazim dipakai untuk
melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat.
Misalnya:
Jalan Tanah Abang I No. 15
Hotel Indonesia, Kamar 169
4.
Angka digunakan juga untuk
menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.
Misalnya:
Bab X, Pasal 5, halaman 252
Surah Yasin: 9
5.
Penulisan lambang bilangan yang
dengan huruf dilakukan sebagai berikut:
a.
Bilangan utuh
Misalnya:
dua belas 12
dua puluh dua 22
b.
Bilangan pecahan
Misalnya:
setengah 1/2
satu persen 1
%
satu permil 1
0/00
6.
Penulisan lambang bilangan
tingkat dapat dilakukan dengan cara yang berikut:
Misalnya:
Paku Buwono X;
pada awal abad XX; pada awal abad ke-20 ini; lihat Bab II, Pasal 5; dalam bab ke-2 buku
itu; di daerah tingkat II itu; di
tingkat kedua gedung itu; di tingkat ke-2 itu; kantor di tingkat II itu.
7.
Penulisan lambang bilangan yang
mendapat akhiran –an mengikuti cara
yang berikut. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat
5.)
Misalnya:
tahun ’50-an atau
tahun lima
puluhan
uang 5000-an atau uang lima
ribuan
lima uang 1000-an atau lima uang seribuan
8.
Lambang bilangan yang dapat
dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa
lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian dan
pemaparan.
Misalnya:
Amir menonton drama itu sampai tiga kali.
Ayah memesan tiga
ratus ekor ayam.
Di antara 72
anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang memberikan suara blangko.
Kendaraan yang ditempah untuk pengangkutan umum terdiri
atas 50 bus, 100 helicak, 100 bemo.
9.
Lambang bilangan pada awal
kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga
bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat
pada awal kalimat.
Misalnya:
Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu.
Pak Darmo mengundang 250
orang tamu.
Bukan:
15 orang tewas dalam kecelakaan itu.
Dua ratus lima puluh orang tamu diundang Pak Darmo.
10.
Angka yang menunjukkan bilangan
utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca.
Misalnya:
Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.
Penduduk Indonesia
berjumlah lebih dari 120 juta orang.
11.
Bilangan tidak perlu ditulis
dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali di dalam dokumen resmi
seperti akta dan kuitansi.
Misalnya:
Kantor kami mempunyai dua puluh orang pegawai.
Di lemari itu tersimpan 805 buku dan majalah.
Bukan:
Kantor kami mempunyai 20 (dua puluh) orang pegawai.
Di lemari itu tersimpan 805 (delapan ratus lima)
buku dan majalah.
12.
Jika bilangan dilambangkan
dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.
Misalnya:
Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp55.500,00 (lima
puluh lima ribu lima ratus rupiah).
Saya lampirkan tanda terima uang sebesar 55.500,00 (lima
puluh lima ribu lima ratus) rupiah.
III. Tanda Baca
a.
Tanda
Titik (.)
1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan
contoh: Saya suka makan nasi.
Sebuah kalimat diakhiri dengan titik. Apabila dilanjutkan dengan kalimat baru, harus diberi jarak satu ketukan. Cara ini dilakukan dalam penulisan karya ilmiah.
2. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang.
contoh:
• Irwan S. Gatot
• George W. Bush
Tetapi apabila nama itu ditulis lengkap, tanda titik tidak dipergunakan.
Contoh: Anthony Tumiwa
3. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.
Contoh:
• Dr. (Doktor)
• Ny. (Nyonya)
• S.E. (Sarjana Ekonomi)
4. Tanda titik dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah sangat umum. Pada singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih hanya dipakai satu tanda titik.
Contoh:
• dll. (dan lain-lain)
• dsb. (dan sebagainya)
• tgl. (tanggal)
Dalam karya ilmiah seperti skripsi, makalah, laporan, tesis, dan disertasi, dianjurkan tidak mempergunakan singkatan.
5. Tanda titik dibelakang huruf dalam suatu bagian ikhtisar atau daftar.
contoh:
I. Penyiapan Ulangan Umum.
A. Peraturan.
B. Syarat.
Jika berupa angka, maka urutan angka itu dapat disusun sebagai berikut dan tanda titik tidak dipakai pada akhir sistem desimal.
Contoh:
• 1.1
• 1.2
• 1.2.1
6. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.
Contoh: Pukul 7.10.12 (pukul 7 lewat 10 menit 12 detik)
7. Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang tidak menunjukkan jumlah.
contoh:
• Nama Ivan terdapat pada halaman 1210 dan dicetak tebal.
• Nomor Giro 033983 telah saya kasih kepada Michael.
8. Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan yang terdiri dari huruf-huruf awal kata atau suku kata, atau gabungan keduanya, yang terdapat di dalam nama badan pemerintah, lembaga- lembaga nasional di dalam akronomi yang sudah diterima oleh masyarakat.
contoh:
• Sekjen : (Sekretaris Jenderal)
• UUD : (Undang-Undang Dasar)
• SMA : (Sekolah Menengah Atas)
• WHO : (World Health Organization)
9. Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang.
contoh:
• Cu (Kuprum)
• 52 cm
• l (liter)
• Rp 350,00
10. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, atau kepala ilustrasi, tabel dan sebagainya.
contoh:
• Latar Belakang Pembentukan
• Sistem Acara
11. Tanda titik tidak dipakai di belakang alamat pengirim dan tanggal surat, atau nama dan alamat penerima surat.
contoh:
• Jalan Kebayoran 32
• Yth.Sdr.Ivan
Jalan Istana 30
Surabaya
1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan
contoh: Saya suka makan nasi.
Sebuah kalimat diakhiri dengan titik. Apabila dilanjutkan dengan kalimat baru, harus diberi jarak satu ketukan. Cara ini dilakukan dalam penulisan karya ilmiah.
2. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang.
contoh:
• Irwan S. Gatot
• George W. Bush
Tetapi apabila nama itu ditulis lengkap, tanda titik tidak dipergunakan.
Contoh: Anthony Tumiwa
3. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.
Contoh:
• Dr. (Doktor)
• Ny. (Nyonya)
• S.E. (Sarjana Ekonomi)
4. Tanda titik dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah sangat umum. Pada singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih hanya dipakai satu tanda titik.
Contoh:
• dll. (dan lain-lain)
• dsb. (dan sebagainya)
• tgl. (tanggal)
Dalam karya ilmiah seperti skripsi, makalah, laporan, tesis, dan disertasi, dianjurkan tidak mempergunakan singkatan.
5. Tanda titik dibelakang huruf dalam suatu bagian ikhtisar atau daftar.
contoh:
I. Penyiapan Ulangan Umum.
A. Peraturan.
B. Syarat.
Jika berupa angka, maka urutan angka itu dapat disusun sebagai berikut dan tanda titik tidak dipakai pada akhir sistem desimal.
Contoh:
• 1.1
• 1.2
• 1.2.1
6. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.
Contoh: Pukul 7.10.12 (pukul 7 lewat 10 menit 12 detik)
7. Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang tidak menunjukkan jumlah.
contoh:
• Nama Ivan terdapat pada halaman 1210 dan dicetak tebal.
• Nomor Giro 033983 telah saya kasih kepada Michael.
8. Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan yang terdiri dari huruf-huruf awal kata atau suku kata, atau gabungan keduanya, yang terdapat di dalam nama badan pemerintah, lembaga- lembaga nasional di dalam akronomi yang sudah diterima oleh masyarakat.
contoh:
• Sekjen : (Sekretaris Jenderal)
• UUD : (Undang-Undang Dasar)
• SMA : (Sekolah Menengah Atas)
• WHO : (World Health Organization)
9. Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang.
contoh:
• Cu (Kuprum)
• 52 cm
• l (liter)
• Rp 350,00
10. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, atau kepala ilustrasi, tabel dan sebagainya.
contoh:
• Latar Belakang Pembentukan
• Sistem Acara
11. Tanda titik tidak dipakai di belakang alamat pengirim dan tanggal surat, atau nama dan alamat penerima surat.
contoh:
• Jalan Kebayoran 32
• Yth.Sdr.Ivan
Jalan Istana 30
Surabaya
b.
Tanda Koma
1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.
contoh: Saya menjual baju, celana, dan topi.
2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang berikutnya, yang didahului oleh kata seperti, tetapi, dan melainkan.
contoh: Saya bergabung dengan Wikipedia, tetapi tidak aktif.
3a. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk kalimatnya.
contoh:
• Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.
1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.
contoh: Saya menjual baju, celana, dan topi.
2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang berikutnya, yang didahului oleh kata seperti, tetapi, dan melainkan.
contoh: Saya bergabung dengan Wikipedia, tetapi tidak aktif.
3a. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk kalimatnya.
contoh:
• Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.
BAB III
PENUTUP
EYD (Ejaan
yang Disempurnakan) adalah tata bahasa dalam Bahasa Indonesia yang mengatur
penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan, mulai dari pemakaian dan penulisan
huruf capital dan huruf miring, serta penulisan unsur serapan.
EYD disini diartikan sebagai tata bahasa yang disempurnakan.
EYD disini diartikan sebagai tata bahasa yang disempurnakan.
Adapun beberapa hal yang
penting antara lain:
1. penulisan huruf
2. penulisan kata
3. penulisan angka dan lambang bilangan
4. penulisan tanda baca.
Daftar Pustaka
Badudu, J. S.
1987. Pelik-Pelik Bahasa Indonesia. Bandung: CV. Pustaka Prima.
Junus, Husain. 1996. Bahasa Indonesia “Tujuan sejarahnya dan Pemakaian Kalimat Yang Baik dan
Benar. Jakarta:
Usaha Nasional.
Team Akar
Media. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia.
Surabaya: Akar Media.
http://ibahasa.blogspot.com/2008/06/penulisan-huruf-dalam-bahasa-indonesia.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar