PENDAHULUAN
Indonesia
sebagai negara yang sedang berkembang, khususnya dibidang ekonomi memerlukan
pengelolaan dan peningkatan yang lebih baik lagi agar dapat bersaing dengan
negara lain. Perusahaan sebagai salah satu komponen didalam pembangunan ekonomi
harus dapat meningkatkan pengelolaan dan pengoperasian perusahaan maupun
manajemennya, karena manajemen sangat menentukan proses pengambilan keputusan
dalam menjalankan aktivitas perusahaan.
Bagian
penjualan dan pemasaran mempunyai peranan penting dalam mempertahankan
kelangsungan hidup perusahaan. berdasarkan hal tersebut, manajemen harus
berupaya sebaik-baiknya agar seluruh kegiatan opeasional perusahaan dapat
berjalan secara efektif dan efesien demi tercapainya tujuan yang telah
ditetapkan, yaitu memperoleh laba dan untuk mempertahankan kelangsungan hidup
perusahaan.
Agar tujuan
tersebut dapat tercapai, manajemen bertumpu pada fungsi perencanaan dan
pengendalian. Salah satu cara yang dapat yang dapat digunakan manajemen untuk
melaksanakan fungsi-fungsi tersebut adalah dengan mengunakan anggaran. Anggaran
adalah suatu rencana terinci dan menyeluruh dari kegiatan perusahaan yang
dijabarkan dalam suatu kuantitatif untuk periode tertentu dimasa yang akan
datang, agar angaran dapat berfungsi baik maka anggaran harus disusun
terperinci dan terpadu serta didukung oleh seluruh komponen perusahaan.
Pada umumnya
angaran perusahaan disusun dari anggaran penjualan dan atas dasar penjualan
dapat disusun anggaran-anggaran lainnya yang dapat digunakan untuk meningkatkan
efektivitas pengendalian aktivitas perusahaan.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Anggaran Penjualan
Dimaksudkan
dengan Budget penjual (Sales Budget) ialah Budget yang merencanakan secara
lebih terperinci tentang penjualan perusahan selama periode yang akan datang,
yang di dalamnya meliputi rencana tentang jenis (kualitas) barang yang akan
dijual, jumlah (kuantitas) barang yang akan dijual, harga barang yang akan
dijual, waktu penjualan serta tempat (daerah) penjualannya.
Dari
pengetian tersebut, jelaslah bahwa budget penjualan hanyalah merupakan salah
satu bagian saja dari seluruh rencana perusahaan di bidang pemasaran (sales
planning). Beberapa rencana perusahaan di bidang pemasaran yang lain misalnya:
1.
Rencana tentang sasaran atau tujuan
pemasaran selama periode yang akan datang, seperti misalnya mencapai laba
maksimal, penetrasi pasar ( market penetration), pengembangan pasar (market
develovment), mempertahankan market share, memperkenalkan produk baru, dan
sebagainya.
2.
Rencana tentang organisasi penjualan
yang akan dipergunakan selama periode yang akan datang.
3.
Rencana tentang saluran disrtibusi
yang akan dipergunakan selama periode yang akan datang.
4.
Rencana tentang biaya distribusi
selama periode yang akan datang.
5.
Rencana tentang media-media promosi
yang akan dipergunakan selama periode yang akan datang.
6.
Rencana tentang biaya promosi selama
periode yang akan datang.
7.
Rencana tentang pengembangan produk
selama periode yang akan datang, dan sebagainya.
B.
Kegunaan
Anggaran Penjualan
Secara umum,
semua budget termasuk budget penjualan mempunyai tiga kegunaan pokok yaitu
sebagai pedoman kerja, sebagai alat pengkoordinasian kerja dan sebagai alat
pengawasan kerja yang menbantu menajeman dalan memimpin jalannya perusahaan.
Sedangkan secara khusus, budget penjualan berguna sebagai dasar penyusunan
semua budget-budget dalam perusahaan, sebab bagi perusahaan yang menghadapi
pasar bersaing, budget penjualan harus disusun paling awal daripada semua
budget yang lain yang ada dalam perusahaan.
C.
Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Penyusunan Anggaran Penjualan
1.
Faktor Intern
Yang termasuk dalam faktor intern adalah data,
informasi, dan pengalaman yang terdapat didalam perusahaan sendiri. Faktor-
faktor tersebut antara lain berupa:
a.
Penjualan tahun-tahun yang lalu
meliputi baik kualitas, kuantitas, harga, waktu maupun tempat penjualannya.
b.
Kebijaksanaan perusahaan yang
berhubungan dengan masalah penjualan, seperti tentang pemilihan saluran
distribusi, pemilihan media-media promosi, cara penetapan harga jual dan
sebagainya.
c.
Kapasitas produksi yang dimiliki
perusahaan serta kemungkinan perluasannya diwaktu yang akan datang.
d.
Tenaga kerja yang tersedia, baik
jumlahnya maupun keterampilan dan keahliannya, serta kemungkinan
pengembangannya diwaktu yang akan datang.
e.
Fasilitas-fasilitas lain yang dimiliki
perusahaan, serta kemungkinan perluasannya diwaktu yang akan datang.
2.
Faktor Ekstern
Yang termasuk dalam faktor ekstern adalah data,
informasi, dan pengalaman yang terdapat di luar perusahaan, tetapi di sana
mempunyai pengaruh terhadap budget penjualan perusahaan. Faktor-faktor tersebut
antara lain berupa:
a.
Keadaan persaingan dipasar.
b.
Posisi perusahaan dalam persaingan.
c.
Tingkat pertumbuhan penduduk.
d.
Tingkat penghasilan masyarakat.
e.
Elastisitas permintaan terhadap
harga barang yang dihasilkan perusahaan, yang terutama akan mempengaruhi dalam
merencanakan harga jual dalam budget penjualan yang akan disusun.
f.
Agama, adat- istiadat, dan
kebiasaan-kebiasaan masyarakat.
g.
Berbagai kebijakan pemerintah baik
dibidang politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun keamanan.
h.
Keadaan perekonomian nasional maupun
internasional.
i.
Kemajuan teknologi, barang-barang
substitusi, selera konsumen dan kemungkinan perubahannya, dan sebagainya.
D.
Cara- Cara
Melakukan Penaksiran Penjualan
Untuk
menyusun budget penjualan diperlukan penaksiran-penaksiran (forecasting)
khususnya penaksiran tentang jumlah produk yang diperkirakan akan mampu dijual
beserta harga jualnya, yang masing-masing dikaitkan dengan jenis produk yang
akan dijual, dengan waktu serta tempat penjualannya.
Menurut
sifatnya cara untuk melakukan penaksiran-penaksiran tersebut dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu:
1.
Penaksiran yang bersifat kualitatif
Merupakan cara penaksiran yang menitik beratkan pada
pendapat seseorang. Cara penaksiran ini mempunyai kelemahan yang menonjol, yaitu
bahwa pendapat seseorang seringkali banyak diwarnai oleh hal-hal yang bersifat
subyektif dari pada bersifat obyektif. Dengan demikian ketepatan hasil
taksirannya menjadi diragukan. Adapun beberapa cara penaksiran yang bersifat
kualitatif ini antara lain:
a.
Pendapat pimpinan bagian pemasaran
b.
Pendapat para petugas penjualan.
c.
Pendapat lembaga-lembaga penyalur.
d.
Pendapat konsumen.
e.
Pendapat para ahli yang dipandang
memahami ( konsultan).
2.
Penaksiran yang bersifat kuantitatif
Ialah cara penaksiran yang menitik beratkan pada
perhitungan-perhitungan angka dengan menggunakan berbagai metode statistika.
Cara penaksiran ini juga mempunyai kelemahan yaitu adanya hal-hal yang tidak
dapat diukur secara kuantitatif misalnya selera konsumen, kebiasaan konsumen,
tingkat pendidikan, dan cara berfikir masyarakat, struktur masyarakat dan
sebagainya. Adapun beberapa cara penaksiran yang bersifat kuantitatif antara
lain:
a.
Cara yang mendasarkan diri pada data
historis dari suatu variabel saja, yaitu variabel yang akan ditaksir itu sendiri.
Misalnya dengan metode trend bebas, trend setengah rata-rata, trand moment,
trend least-square, dan kuadrik.
b.
Cara yang mendasarkan diri pada data
historis dari variabel yang akan ditaksir serta hubungannya dengan data
historis dari variabel lain yang diduga mempunyai pengaruh yang cukup kuat
terhadap perkembangan variabel yang akan di taksir tersebut. Misalnya dengan
metode regresi tunggal dan regresi berganda.
c.
Cara penaksiran yang menggunakan
metode-metode statistik yang diterapkan pada berbagai analisa khusus. Misalnya
analisa industri, analisa jenis-jenis produk yang dihasilkan perusahaan, dan
analisa pemakai akhir dari produk.
Dengan menggunakan berbagai cara penaksiran yang
berbeda, akan diperoleh angka taksiran yang berbeda pula. Angka-angka taksiran
ini tidak dengan sendirinya menjadi angka yang dimuat dalam budget penjualan
melainkan merupakan bahan pertimbangan yang masih akan dibahas lebih lanjut
dalam panitia budget.
Sebagai ilustrasi, berikut ini diberikan contoh cara
penaksiran yang bersifat kuntitatif (metode trend moment dan metode least
square), sehingga mendapat gambaran yang lebih jelas:
1.
Metode Trend Moment
Metode trend moment menggunakan cara-cara perhitungan
statistika dan matematika tertentu untuk mengetahui fungsi garis lurus sebagai
pengganti garis patah-patah yang dibentuk oleh data historis perusahaan. Dengan
demikian pengaruh unsur-unsur subyektif dapat dihindarkan.
Prinsip-prinsip pengerjaan metode trend moment adalah
sebagai berikut:
a.
Barang tahan lama minimal satu
tahun.
b.
Barang yang selalu diperlukan,
misalnya sembako.
c.
Kegiatan usaha sudah berjalan
minimal dua tahun, digunakan sebagai data penjualan tahun yang lalu.
d.
Jumlah data tahun lalu baik tahun
ganjil maupun genap tetap diurut dari 0, 1, 2, 3,…..dst pada kolom x.
Rumus metode
trend moment:
I. Y= a + bx
II. ∑ y= n.a +
b.∑ x
III. ∑ xy= a. ∑ x
+ b. ∑ x2
Contoh soal:
Sebuah
perusahaan yang bergerak dalam penyediaan minuman air gallon ingin membuat
forecast penjualan minuman air gallon untuk beberapa tahun mendatang didaerah
Singkawang, dengan menggambarkan garis trend data penjualan tahun yang lalu
adalah sebagai berikut:
|
Tahun
|
Penjualan
|
|
Y
|
|
|
2005
2006
2007
2008
2009
|
130.000
145.000
150.000
165.000
170.000
|
Hitunglah
forecast penjualan dengan metode trend moment!
Jawab:
|
Tahun
|
x
|
Penjualan
|
xy
|
x2
|
|
y
|
||||
|
2005
2006
2007
2008
2009
|
0
1
2
3
4
|
130.000
145.000
150.000
165.000
170.000
|
0
145.000
300.000
495.000
680.000
|
0
1
4
9
16
|
|
∑
|
10
|
760.000
|
1.620.000
|
30
|
Dibuat
persamaan menjadi:
II. ∑ y= n.a +
b.∑ x
760.000= 5a
+ 10b
III. ∑ xy= a. ∑ x
+ b. ∑ x2
1.620.000=
10a + 30b
1.620.000=
10a + 30b x 1 1.620.000= 10a + 30b -
-100.000=
-10b
b = 10.000
760.000= 5a
+ 10b
760.000= 5a
+ 10 (10.000)
760.000= 5a
+ 100.000
660.000= 5a
a = 132.000
Y= 132.000 +
10.000x
Maka nilai
trend tiap tahun sampai tahun 2011 dapat dihitung sebagai berikut:
|
2005
|
Y= 132.000
+ 10.000 ( 0 ) =
|
|
|
2006
|
Y= 132.000
+ 10.000 ( 1 ) =
|
|
|
2007
|
Y= 132.000
+ 10.000 ( 2 ) =
|
152.000
|
|
2008
|
Y= 132.000
+ 10.000 ( 3 ) =
|
162.000
|
|
2009
|
Y= 132.000
+ 10.000 ( 4 ) =
|
172.000
|
|
2010
|
Y= 132.000
+ 10.000 ( 5 ) =
|
182.000
|
|
2011
|
Y= 132.000
+ 10.000 ( 6 ) =
|
192.000
|
|
|
|
1.134.000
|
2.
Metode Least Square
Sebenarnya metode trend least square hanyalah
merupakan penyederhanaan dari metode trend moment dengan cara mengusahakan
sedemikian rupa sehingga jumlah parameter X sama dengan nol ( ∑x = 0 ). Oleh
karena ∑x = 0, maka rumus tersebut akan menjadi lebih sederhana, yaitu:
I. Y= a + bx
II. ∑ y= n.a
atau a = ∑ 
III. ∑ xy= b. ∑ x2
atau b = ∑ xy/ ∑ x2
Prinsip
penyelesaian dengan metode least square:
a.
Barang tahan lama minimal satu
tahun.
b.
Barang yang selalu diperlukan,
misalnya sembako.
c.
Kegiatan usaha sudah berjalan
minimal dua tahun, digunakan sebagai data penjualan tahun yang lalu.
d.
Jika jumlah data tahun yang lalu
adalah ganjil, maka pada kolom x ditengahnya adalah nol (0).
e.
Jika jumlah data tahun yang lalu adalah
genap, maka pada kolom x ada dua loncatan dua angka baik keatas maupun kebawah.
Misalnya,
|
2005
2006
2007
2008
|
-3
-1
1
3
|
Contoh soal:
Sebuah
perusahaan yang bergerak dalam penyediaan minuman air gallon ingin membuat
forecast penjualan minuman air gallon untuk beberapa tahun mendatang didaerah
Singkawang, dengan menggambarkan garis trend data penjualan tahun yang lalu
adalah sebagai berikut:
|
Tahun
|
Penjualan
|
|
Y
|
|
|
2005
2006
2007
2008
2009
|
130.000
145.000
150.000
165.000
170.000
|
Hitunglah
forecast penjualan dengan metode trend least square!
Jawab:
|
Tahun
|
x
|
Penjualan
|
xy
|
x2
|
|
y
|
||||
|
2005
2006
2007
2008
2009
|
-2
-1
0
1
2
|
130.000
145.000
150.000
165.000
170.000
|
-260.000
-145.000
0
165.000
340.000
|
4
1
0
1
4
|
|
∑
|
0
|
760.000
|
100.000
|
10
|
II. ∑ y= n.a atau a = ∑ y/ n
a = 760.000/
5
a = 152.000
III. ∑ xy= b. ∑ x2 atau b = ∑
xy/ ∑ x2
b = 100.000/
10
b = 10.000
Y= 152.000 + 10.000x
Maka nilai
trend tiap tahun sampai tahun 2011 dapat dihitung sebagai berikut:
|
2005
|
Y= 152.000
+ 10.000 ( -2 ) =
|
|
|
2006
|
Y= 152.000
+ 10.000 ( -1 ) =
|
|
|
2007
|
Y= 152.000
+ 10.000 ( 0 ) =
|
152.000
|
|
2008
|
Y= 152.000
+ 10.000 ( 1 ) =
|
162.000
|
|
2009
|
Y= 152.000
+ 10.000 ( 2 ) =
|
172.000
|
|
2010
|
Y= 152.000
+ 10.000 ( 3 ) =
|
182.000
|
|
2011
|
Y= 152.000
+ 10.000 ( 4 ) =
|
192.000
|
|
|
|
1.134.000
|
E.
Bentuk
Anggaran Penjualan
Tidak ada
suatu bentuk standar yang harus dipergunakan oleh perusahaan jika akan menyusun
budget penjualan. Ini berarti tiap-tiap perusahaan mempunyai kebebasan untuk
menentukan bentuk serta formatnya. Namun harus mencakup rencana tentang jenis
(kualitas) barang yang akan dijual, jumlah (kuantitas) barang yang akan dijual,
harga barang yang akan dijual, waktu penjualan serta tempat (daerah) penjualan.
F.
Beberapa
Hal yang Perlu diperhatikan dalam Penyusunan Anggaran Penjualan
- Rincian jumlah dan jenis produk perusahaan.
Anggaran
penjualan hendaknya menyebutkan dengan jelas jenis produk yang akan dijual
serta jumlah unit dari masing-masing produk tersebut. Walaupun nantinya seluruh
penjualan akan dijumlahkan, namun untuk keperluan pengawasan perlu
masing-masing jenis peroduk yang dijual tersebut diketahui jumlahnya.
- Rincian daerah pemasaran.
Dewasa ini
merupakan hal yang umum apabila suatu perusahaan mempunyai daerah pemasaran
yang cukup luas. Bagi perusahaan-perusahaan seperti ini di dalam penyusunan
anggaran penjualannya perlu untuk memperlihatkan kemana saja produk perusahaan
tersebut akan dijual. Hal ini sangat membantu para pelaksana penjualan serta
memudahkan pengawasan penjualan. Pada umumnya daerah pemasaran yang luas ini
akan dibagi menjadi beberapa daerah pemasaran dengan dasar-dasar tertentu yang
sesuai dengan kondisi perusahaan. Dasar yang paling umum digunakan adalah letak
geografis dan tidak jarang pula yang mempergunakan pembagian atas dasar kota
tujuan atau kelompok kota tujuan pemasaran.
- Diskriminasi harga
Didalam
penentuan harga jual produk, terdapat beberapa perusahaan yang menetapkan harga
yang sama bagi penjualan produknya untuk seluruh daerah pemasaran yang ada.
Namun demikian tidak disangkal pula bahwa terdapat beberapa perusahaan yang
menerapkan kebijakan diskriminasi harga untuk daerah yang berbeda. Untuk
perusahaan-perusahaan semacam ini harga yang dapat ditentukan untuk
masing-masing daerah pemasaran tersebut harus jelas sehingga dapat diketahui
dan diawasi pelakksanaannya dengan mudah. Jika harga untuk masing-masing daerah
pemasaran ini tidak dijelaskan maka penjualan produk perusahaan tersebut akan
mengalami beberapa kesulitan didalam pemantauannya, karena terdapat beberapa
harga yang berbeda antara satu daerah dengan daerah pemasaran yang lainnya.
- Potongan harga
Didalam
pelaksanaan penjualan produk perusahaan sangat sering dijumpai adanya potongan
harga. Bagi pembeli atau distributor yang membeli dalam jumlah tertentu, atau
pembayarannya dengan jangka waktu tertentu seringkali mendapatkan perlakuan
harga yang berbeda. Untuk memudahkan pengawasan penjualan produk perusahaan
ini, maka didalam anggaran yang disusun seharusnya disebutkan seberapa banyak
potongan yang akan diberikan oleh perusahaan sehubungan dengan pembelian dengan
persyaratan-persyaratan khusus tersebut. Pengawasan pemberian potongan
pembelian ini akan lebih mudah apabila perusahaan telah mempersiapkan didalam
anggaran yang ddisusun tersebut. Bagi perusahaan-perusahaan dimana potongan pembelian
ini merupakan hal yang rutin, misalnya dihubungkan dengan waktu pembayaran,
maka lebih baik bila anggaran penjualan yang disusun tersebut dilengkapi dengan
anggaran potongan pembelian. Pelaksanaan penyusunan anggaran ini dapat disusun
sendiri atau berdiri sendiri, namun tidak jarang pula yang langsung digabungkan
dengan anggaran penjualan yang ada.
- Pada umumnya anggaran penjualan ini disusun untuk satu periode atau satu tahun. Namun untuk keperluan perencanaan, koordinasi dan pengawasan dalam perusahaan tersebut selayaknya anggaran penjualan yang disusun ini juga dilengkapi dengan rincian penjualan bulanan. Bahkan beberapa perusahaan yang mendasarkan penyusunan anggaran penjualan dari pada pengecer, agen dan distributor, tidak jarang disusun perencanaan penjualan produk perusahaan perbulan dahulu baru kemudian dijadikan perencanaan tahunan dengan jalan menjumlahkan seluruh penjualan bulanan yang ada. Namun bagi perusahaan yang menyusun peramalan penjualan tahunan, pada umumnya pemecahan perencanaan penjualan bulanan ini akan dilaksanakan atas dasar pola penjualan bulanan yang telah ada dari beberapa periode yang telah lalu. Atas dasar pola ini ditentukan berapa besarnya jumlah penjualan perbulan pada periode yang bersangkutan.
Dengan
mempertimbangkan kepada beberapa hal tersebut diatas, maka anggaran penjualan
produk perusahaan dapat disusun. Semakin jelas anggaran penjualan dalam
perusahaan tersebut disajikan, semakin mudah pula manajemen perusahaan yang
bersangkutan melaksanakan koordinasi dan pengawasan kegiatan penjualan
perusahaan ini.
G.
Tujuan dan
Fungsi Anggaran Penjualan
Tujuan utama dari anggaran penjualan adalah:
1.
Mengurangi ketidakpastian dimasa
depan.
2.
Memasukkan pertimbangan /keputusan
manajemen dalam proses perencanaan.
3.
Memberikan informasi dalam profit
planing control.
4.
Untuk mempermudah pengendalian
penjualan.
Fungsi dari anggaran penjualan dalam suatu perusahaan
dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.
Anggaran penjualan adalah dasar
perencanaan atas kegiatan perusahaan pada umumnya.
2.
Anggaran penjualan sebagai alat
koordinasi dan mengarahkan setiap pelaksanaan divisi pemasaran.
3.
Anggaran penjualan sebagai alat
pengorganisasian.
4.
Anggaran penjualan sebagai alat
pengawasan bagi manajemen.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Anggaran penjualan (Sales Budget) ialah
anggaran yang merencanakan secara lebih terperinci tentang penjualan perusahan
selama periode yang akan datang, yang di dalamnya meliputi rencana tentang
jenis (kualitas) barang yang akan dijual, jumlah (kuantitas) barang yang akan
dijual, harga barang yang akan dijual, waktu penjualan serta tempat (daerah) penjualannya.
Didalam anggaran penjualan terdapat
sedikitnya dua metode penaksiran, yang pertama metode trend moment dan yang
kedua adalah metode trand least square.
Adapun tujuan dibuatnya anggaran
penjualan pada perusahaan adalah:
1.
Mengurangi ketidakpastian dimasa
depan.
2.
Memasukkan pertimbangan /keputusan
manajemen dalam proses perencanaan.
3.
Memberikan informasi dalam profit
planing control.
4.
Untuk mempermudah pengendalian
penjualan.
DAFTAR PUSTAKA
Agus Ahyari.
(1989). Anggaran Perusahaan: Pendekatan kuantitatif. (Buku I).
Yogyakarta: BPFE.
Asri Sw.,
Marwan. (1982). Peramalan Penjualan. Yogyakarta: Penerbit Fakultas
Ekonomi UGM.
Munandar.
(1989). Budgeting. (Edisi 1). Yogyakarta: BPFE.
Ridwan
Iskandar Sudayat, SE: http://ridwaniskandar.files.wordpress.com/2009/05/91-pengertian-penjualan.pdf
Dra.
Narumondang Bulan Siregar, MM: http://library.usu.ac.id/download/fe/akuntansi-narumondang.pdf
Syihab El
Zahry: http://arie.ngeblogs.com/2010/01/04/anggaran-penjualan/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar