A.
Pengertian Kas
Pengertian kas dari segi akuntansi adalah segala sesuatu (baik
yang berbentuk uang atau bukan) yang dapat tersedia dengan segera dan diterima
sebagai alat pelunasan kewajiban pada nilai nominalnya. Sedangkan pengertian
kas menurut PSAK no.2, kas terdiri dari saldo kas, rekening giro, asset setara
kas, investasi yang sangat mudah diuangkan tanpa mengalami resiko perubahan
harga yang signifikan.[1]
B.
Pengertian Anggaran Kas
Menurut Lukman Syamsudin, dalam bukunya “Manajemen
Keuangan Perusahaan” menyatakan bahwa:
“Anggaran
kas adalah suatu alat yang dapat digunakan manajer keuangan untuk meramalkan
atau memperkirakan kebutuhan-kebutuhan dana jangka pendek dan untuk mengetahui
kekurangan atau kelebihan uang selama periode budget”.
Dari pengertian diatas dapat dikatakan bahwa anggaran
kas akan memiliki peranan yang penting dalam mengendalikan kas, dimana
kegunaannya terutama untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menambah dana
dari sumber-sumber intern dan sekaligus memperkirakan saldo kas pada setiap
akhir tahun anggaran yang ditetapkan.
Dalam menjalankan suatu perusahaan untuk menjaga
kelangsungan hidup perusahaan, dibutuhkan suatu efektivitas pengendalian kas
terhadap setiap perusahaan dalam kegiatan perusahaannya.
Dengan kata lain anggaran kas adalah gambaran atas
seluruh rencana penerimaan dan pengeluaran uang tunai yang bertalian dengan
rencana keuangan perusahaan dan transaksi lainnya yang menyebabkan
perubahan-perubahan pada posisi kas atau menunjukkan aliran kas pada periode
tersebut.
C. Kegunaan
Anggaran Kas
Secara umum semua anggaran termasuk anggaran kas mempunyai tiga
kegunaan pokok yaitu sebagai berikut:
1. Sebagai pedoman
Kerja
2. Sebagai alat
pengkoordinasian kerja
3. Sebagai alat
pengawasan kerja
Adapun penjelasan dari kutipan diatas adalah
sebagai berikut:
1. Sebagai pedoman Kerja
Berfungsi sebagai pedoman kerja yang
memberikan arah serta sekaligus memberikan target-target yang harus dicapai
oleh kegiatan-kegiatan perusahaan di waktu yang akan datang.
2. Sebagai alat pengkoordinasian kerja
Berfungsi sebagai alat pengkoordinasian kerja
agar semua bagian-bagian yang terdapat dalam perusahaan dapat menunjang dan
saling bekerjasama untuk menuju ke sasaran yang telah ditetapkan.
3. Sebagai alat pengawasan kerja
Berfungsi sebagai tolak ukur, sebagai alat
pembanding untuk menilai (evaluasi) realisasi kegiatan perusahaan nanti dengan
membandingkan apa yang dicapai oleh realisasi kerja perusahaan, dapat dinilai
apakah perusahaan telah sukses bekerja atau kurang sukses bekerja. Dari perbandingan
tersebut dapat pula diketahui sebab-sebab penyimpangan antara anggaran dan
realisasinya.
D.
Tujuan Penyusunan Anggaran Kas
Dengan
menyusun anggaran kas perusahaan akan mampu untuk:
1.
Menentukan posisi kas pada berbagai
waktu, yaitu dengan memperbandingkan uang kas masuk dengan uang kas keluar.
Sehingga saldo kas pada akhir suatu periode akan sama dengan saldo kas awal
ditambah penerimaan-penerimaan kas pada suatu periode dan dikurangi
pengeluaran-pengeluaran kas pada waktu yang sama.
2.
Memperkirakan kemungkinan terjadinya
defisit atau surplus. Defisit terjadi bilamana pemasukan ditambah saldo awal
ternyata lebih kecil dari kebutuhan pengeluaran yang harus dibayar. Sebaliknya
surplus akan terjadi bilamana pemasukan melebihi pengeluaran, sehingga jumlah
saldo akhir periode mengalami peningkatan. Terhadap kemungkinan defisit inilah
perusahaan perlu lebih waspada.
3.
Mempersiapkan keputusan pembelanjaan
berjangka pendek atau berjangka panjang. Dengan terjadinya defisit kas
perusahaan perlu mencari dana tambahan dari sumber yang paling menguntungkan.
Sebaliknya dengan adanya surplus yang diketahui lama sebelumnya, dapat
dipersiapkan pemilihan alternatif penggunaan yang paling menguntungkan.
4.
Menggunakannya sebagai dasar
kebijaksanaan pemberian kredit. Besar kecilnya kas yang tersedia juga
menunjukkan kemampuan perusahaan membelanjai modal kerjanya. Kemampuan
pembelanjaan modal kerja ini pada gilirannya juga merupakan dasar bagi
perusahaan untuk menggunakan kebijakan kredit sebagai upaya meningkatkan volume
penjualan.
5.
Menggunakannya sebagai dasar
otorisasi dana anggaran yang disediakan. Sesuatu jenis biaya yang sudah
dianggarkan perlu diatur penggunaannya lewat mekanisme otorisasi pengeluaran
kas. Dengan demikian plafon anggaran tidak akan terlampaui dan sekaligus disesuaikan
dengan keadaan likuiditas perusahaan
6.
Anggaran kas yang sudah ada juga
berfungsi sebagai dasar penilaian terhadap realisasi pengeluaran kas yang
sebenarnya. Dengan demikian varian dalam arus kas masuk maupun kas keluar dapat
diketahui yang menjadi penyebabnya.
E. Faktor-faktor Yang harus diperhatikan Penyusunan Anggaran Kas
Agar suatu anggaran kas dapat berfungsi baik,
maka harus diperhatikan faktor-faktor yang diperhatikan penyusunan anggaran tersebut. Menurut Narumondang
Bulan Siregar dalam bukunya yang berjudul ”Penyusunan Anggaran Perusahaan
Sebagai Alat Manajemen Dalam Pencapaian Tujuan”,
faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam menyusun anggaran kas adalah
sebagai berikut:
1. Faktor-faktor
penerimaan kas
2. Faktor-faktor
pengeluaran kas
Adapun
penjelasan dari kutipan diatas adalah sebagai berikut:
1.
Faktor-faktor penerimaan kas
a. Anggaran penjualan, khususnya rencana tentang
jenis (kualitas) dan jumlah (kuantitas) barang yang akan dijual dari waktu ke
waktu selama periode yang akan datang. Semakin besar jumlah penjualan akan
memperbesar penerimaan kas.
b. Keadaan persaingan di pasar, Persaingan yang
lebih keras akan memperkecil pula penerimaan kas. Persaingan yang lebih lunak
akan memungkinkan perusahaan memperbesar pula penerimaan kas.
c. Posisi perusahaan dalam persaingan cukup kuat
akan memperbesar penerimaan Syarat
pembayaran (term of payment) yang
ditawarkan perusahaan.
d. Kebijaksanaan perusahaan dalam penagihan
piutang. Penagihan
piutang yang lebih aktif akan mempercepat penerimaan kas. Sedangkan sebaliknya,
penagihan piutang yang kurang aktif akan memperlambat penerimaan kas.
e. Budget
perubahan aktiva tetap, khususnya rencana tentang pengurangan (penjualan)
aktiva tetap.
f. Rencana-rencana perusahaan tentang
penerimaan-penerimaan kas dari sumber lain-lain (Non Operating), seperti misalnya penghasilan bunga, penghasilan
sewa, penghasilan dividen, dan sebagainya.
2.
Faktor-faktor pengeluaran kas
a. Budget
pembelian bahan mentah, khususnya rencana tentang jenis (Kualitas) dan jumlah
(kuantitas) bahan mentah yang akan dibeli dari waktu ke waktu selama Periode
yang akan datang.
b. Keadaan persaingan para supplier bahan mentah
di pasar persaingan yang lebih keras akan memperkecil pengeluaran kas.
c. Posisi perusahaan terhadap pihak supplier
bahan mentah, Bilamana posisi perusahaan cukup kuat, maka perusahaan lebih
dapat "memaksakan" pembelian secara kredit, sehingga akan memperkecil
pengeluaran kas.
d.
Syarat
pembayaran (term of payment) yang
ditawarkan oleh supplier bahan mentah.
e.
Budget upah tenaga kerja langsung, Semakin besar
upah tenaga kerja langsung yang akan dibayar, akan semakin besar pula
pengeluaran kas yang akan dilakukan.
f.
Budget biaya pabrik tidak langsung, Semakin
besar biaya pabrik tidak langsung yang harus dibayar, akan semakin besar pula
pengeluaran kas yang akan dilakukan.
g.
Budget biaya administrasi, Semakin besar biaya
administrasi yang harus dibayar, akan semakin besar pula pengeluaran kas yang
akan dilakukan.
h. Budget
perusahaan aktiva tetap, khususnya rencana tentang penambahan aktiva tetap. Penambahan aktiva tetap memperbesar
pengeluaran kas.
i.
Rencana-rencana perusahaan tentang pengeluaran-pengeluaran kas untuk
keperluan lain-lain (Non operating),
seperti misalnya untuk biaya bunga, biaya sewa, dan sebagainya.[2]
F.
Prosedur
Penyusunan Anggaran Kas
Menurut Agus
Ahsyari dalam bukunya yang berjudul ”Anggaran Perusahaan Pendekatan
Kuantitatif”, Prosedur penyusunan anggaran kas dapat ditinjau dari berbagai
sudut yaitu sebagai berikut:
1.
Ditinjau
dari pihak yang membuatnya:
a. Otoriter
(Top down)
b. Demokrasi (Bottom
Up)
c. Campuran
2. Ditinjau dari sudut menyusun anggaran:
a. A Priori
b. A Posteriori ”
c. A Pragmatis
Adapun penjelasan
kutipan diatas adalah sebagai berikut:
1.
Ditinjau dari pihak yang membuatnya, maka
penyusunan anggaran kas dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a.
Otoriter
(Top down)
Dalam penyusunan
anggaran dengan metode ini, anggaran disusun dan ditetapkan sendiri oleh
pimpinan dan anggaran inilah yang harus dilaksanakan oleh atasan tanpa
keterlibatan bawahan dalam penggunaannya. Bawahan tidak diminta
keikutsertaannya dalam menyusun anggaran.
b.
Demokrasi (Bottom
Up)
Dalam metode ini,
anggaran disusun berdasarkan hasil keputusan karyawan. Anggaran disusun mulai
dari bawahan sampai atasan. Bawahan diberikan kepercayaan menyusun anggaran
yang akan dicapainya dimasa yang akan datang.
c.
Campuran
Dalam metode ini perusahaan menyusun anggaran
dengan memulainya dari atas dan kemudian untuk selanjutnya dilengkapi oleh
karyawan bawahan.
2. Ditinjau dari sudut menyusun anggaran, ada
beberapa cara menyusun anggaran yang lazim, yaitu sebagai berikut:
a. A Priori
Dalam metode ini, penyusunan anggaran dimulai
dari penetapan angka laba yang diinginkan oleh perusahaan atau pemilik. Setelah
laba ditetapkan maka semua pos yang berkaitan dengan upaya pencapaian laba ini
baru dihitung dan direncanakan kemudian. Keuntungan dari metode ini yaitu
karena laba ditetapkan terlebih dahulu maka bagian lain yang terkait dalam
penciptaan laba ini diharapkan akan termotivasi untuk mencapai laba yang
ditetapkan itu realistis. Sedangkan kerugian dari metode ini adalah dalam hal
tertentu seolah cara ini tidak memperdulikan bagian-bagian yang lain sehingga
dapat menimbulkan sikap apatis, stres, dan frustasi, apabila fasilitas yang
dimiliki tidak mampu mencapai laba yang ditetapkan.
b. A Posteriori
Dalam metode ini laba merupakan hasil akhir
dari penetapan rencana kegiatan seperti penjualan atau produksi. Metode ini
memiliki keuntungan dalam hal anggaran ini akan lebih akurat karena semua
bagian terlibat. Biasanya bagian-bagian inilah yang lebih tahu atas batas
kemampuan mereka. Sedangkan kerugian dari metode ini yaitu mungkin dalam
prosesnya yang lebih lama.
c. A Pragmatis
Dalam metode ini anggaran ditetapkan
berdasarkan pengalaman masa lalu. Penetapan anggaran dilakukan secara ilmiah
atau berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya. Metode ini lebih realistis jika
kita lihat pengalaman yang lalu tetapi kurang melihat peluang masa depan.
G.
Pendekatan Penyusunan Anggaran Kas
Menurut Ellen Christina et al (2001:188) ada dua
pendekatan dalam menyusun anggaran kas, yaitu :
1.
Anggaran Kas Jangka Pendek
Anggaran ini merupakan alat operasional pengendalian
kas sehari-hari. Jangka waktunya disesuaikan dengan anggaran tahunan. Anggaran
kas jangka pendek sesuai dengan rencana laba taktis jangka pendek dan
memerlukan rencana atau estimasi aliran kas masuk dan keluar yang rinci, yang
secara langsung berkaitan dengan rencana laba tahunan. Sebagai contoh estimasi
penerimaan kas dari penjualan dan estimasi pengeluaran kas untuk pembelian
mesin-mesin dan peralatan baru. Anggaran kas seperti ini terutama berfungsi
sebagai alat pemberian otorisasi kas keluar yang secara terus-menerus
disesuaikan dengan arus kas masuk dan situasi keuangan pada umumnya.
2.
Anggaran Kas Jangka Panjang
Anggaran ini meliputi jangka waktu lima sampai sepuluh
tahun yang disesuaikan dengan perencanaan perusahaan yang telah disusun. maka
jangka waktu anggaran kas jenis ini disesuaikan dengan waktu yang tercakup di
dalam corporate plan tersebut. Kegunaannya yang terutama adalah untuk
mengetahui kemampuan perusahaan menambah dana dari sumber-sumber intern dan
sekaligus memperkirakan saldo kas pada akhir setiap tahun anggaran
H.
Sumber dan Penggunaan Kas
Sumber kas
masuk yang utama adalah:
- Hasil penjualan produk secara tunai.
- Hasil menagih piutang dagang.
- Pendapatan lain seperti bunga dari Bank, jasa giro, dividen.
- Adanya pengurangan pada aktiva tetap, seperti menjual aktiva yang tidak terpakai.
- Adanya penerimaan yang bukan penghasilan, seperti kredit dari Bank, penjualan obligasi dan lain-lain hutang jangka pendek
- Penambahan modal sendiri oleh pemilik.
Penggunaan
kas keluar yang utama adalah:
- Berbagai pembayaran untuk keperluan operasional perusahaan sehari-hari seperti membeli material/bahan baku, membayar gaji, dan upah tenaga kerja, berbagai biaya yang termasuk sebagai biaya overhead pabrik (kecuali depresiasi/amortisasi yang tidak membutuhkan kas) biaya-biaya penjualan dan biaya administratif.
- Pembayaran pada para kreditur, baik berupa bunga maupun angsurannya.
- Penambahan berbagai aktiva tetap seperti pembelian aktiva tetap.
- Pembayaran pada pemilik modal, seperti pembayaran dividen atau pengembalian modal.
- Pembayaran pada pemerintah seperti membayar pajak, cukai, meterai, restitusi, Ipeda dan lain-lain.
Saldo kas
pada akhir suatu periode (Bulanan/Triwulan/Tahunan) akan sama dengan saldo kas
awal ditambah seluruh penerimaan dikurangi seluruh pengeluaran yang terjadi
pada periode bersangkutan. Bilamana penerimaan melebihi pengeluarannya, maka
saldo kas akhir akan meningkat. Sebaliknya bila pengeluarannya melebihi
penerimaan, maka saldo kas akhir menurun, bahkan mungkin terjadi defisit kas.
Karena
anggaran kas seperti yang diuraikan diatas disusun dengan memperkirakan seluruh
penerimaan dan seluruh pengeluaran yang terjadi pada sesuatu periode, maka
metode anggaran kas seperti ini disebut Metode Penerimaan dan Pengeluaran Kas
(Cash Receipts and Distribursements Method).
Secara
ringkas sumber kas masuk dan penggunaan kas keluar sebagaimana terlihat pada
tabel berikut:
I.
Manfaat Laporan Sumber dan
Penggunaan Kas
Laporan sumber dan penggunaan kas ini sangat penting,
karena dapat dipergunakan sebagai dasar dalam merencanakan kebutuhan kas di
masa mendatang dan kemungkinan sumber-sumber yang ada, atau dapat digunakan
sebagai dasar perencanaan dan peramalan kebutuhan kas atau cash flow di masa
yang akan datang.
Sedangkan bagi para kreditor atau bank dengan laporan
cash flow ini akan dapat menilai kemampuan perusahaan dalam membayar
bunga.Selain itu kas sangat berperan dalam menentukan kelancaran kegiatan
perusahaan. Karena kas merupakan salah satu unsur modal yang paling tinggi
likuiditasnya, sehingga semakin besar jumlah kas yang dimiliki oleh perusahaan
akan semakin tinggi pula tingkat likuiditasnya. Oleh karena itu, kas harus
direncanakan dan diawasi dengan baik, baik penerimaannya maupun penggunaannya.
J.
Anggaran Kas Jangka Pendek
Anggaran kas jangka pendek umumnya disusun dengan cara
menulusuri jejak berbagai kegiatan perusahaan yang mengakibatkan terjadinya
arus fisik masuk dan arus fisik keluar. Arus balik dari jejak arus fisik yang
masuk akan mengakibatkan terjadinya arus kas keluar. Demikian pula sebaliknya
arus balik dari jejak berbagai arus fisik keluar akan mengakibatkan terjadinya
arus kas masuk.
Skema berikut ini akan memberikan gambaran yang
jelas adanya berbagai keluar dan masuknya arus kas dan arus fisik.
Skema Arus Fisik dan Arus Kas
Dalam skema tersebut terlihat adanya empat pihak
yang sekaligus menjadi penyalur dana dan penerima dana. Mereka itu
adalah:
- Perusahaan yang melaksanakan proses produksi barang/jasa sebagai pihak pertama dan pengambil inisiatif atas terjadinya keseluruhan arus kas dan arus fisik dalam keseluruhan sistem itu
- Para rekanan/pemilik faktor produksi; yang bergerak dalam pasaran faktor produksi dan pengambil inisiatif atas terjadinya keseluruhan arus kas dan arus fisik dalam keseluruhan sistem itu
- Konsumen/pembeli produk perusahaan merupakan pihak yang membutuhkan produk perusahaan untuk dikonsumsikan sendiri atau dijual kembali
- Pemilik dana/pemerintah adalah sebagai pihak yang mempercayakan modalnya untuk digunakan oleh perusahaan
Di antara
keempat pihak yang membentuk sistem itu terjadilah arus fisik maupun arus
kas yang merupakan arus masuk maupun arus keluar di antara
mereka satu sama lain. Arus fisik masuk terjadi pada saat perusahaan membeli
berbagai faktor produksi yang dibutuhkannya, dan sebagai gantinya terjadi arus
kas keluar pada saat perusahaan membayar faktor produksi yang digunakannya
dalam proses produksi. Arus fisik keluar terjadi pada saat perusahaan berhasil
menjual produknya pada pembeli/konsumen, sebagai gantinya terjadi arus kas
masuk pada saat pembeli membayar harga pokok yang dibelinya. Arus kas masuk dan
arus kas keluar yang terjadi diantara rekanan, perusahaan, dan konsumen
membentuk transaksi rutin atau transaksi operasional yang sifatnya kontinu.
Di antara
perusahaan, Pemilik Modal dan Pemerintah hanya terjadi arus kas masuk dan arus
kas keluar. Arus kas masuk terjadi pada saat pemilik dan kreditur menyerahkan
modalnya pada perusahaan sebagai penyertaan atau sebagai kredit, sedangkan arus
kas keluar terjadi pada saat perusahaan membayar kewajiban dalam bentuk
pajak,restitusi, bea meterai dan sebagainya pada Pemerintah. Transaksi ini
disebut transaksi keuangan yang sifatnya terputus-putus (internittent).
Dengan memahami
berbagai kegiatan yang terjadi diantara empat pihak inilah perusahaan akan
mampu memperkirakan baik jumlah maupun waktu terjadinya arus kas masuk dan arus
kas keluar, baik yang bersifat operasional maupun yang berupa transaksi
keuangan. Hasil perekaman arus kas masuk dan arus kas keluar ini kita sebut
anggaran kas.
K.
Contoh Kasus Anggaran Kas Jangka
Pendek
Berikut ini
adalah data yang dimiliki PT LARA yang dikumpulkan untuk melakukan penyusunan
anggaran kas tahunan, pada semester 1 Tahun 20XX:
- Rencana Penjualan selama semester 1 Tahun 20XX
- Sejak beroperasi, perusahaan selain menjual secara tunai, juga menjual secara kredit. Adapun komposisi penjualannya adalah:
1. Sebesar 60%
dari total penjualan adalah penjualan tunai dan sisanya adalah penjualan
kredit. Untuk penjualan tunai manajemen menetapkan akan memberikan potongan
harga sebesar 10%.
2. Untuk
penjualan kredit; manajemen memberlakukan term of payment 5/10, n/60. Dari
penjualan kredit diperkirakan sebesar 60% akan memanfaatkan periode
potongan, sedangkan sisanya tidak memanfaatkan periode potongan. Dari pembeli
yang tidak memanfaatkan potongan, 50%-nya kaan membayar pada bulan transaksi
dan sisanya akan membayar pada bulan berikutnya.
3. Diperkirakan
besarnya piutang tak tertagih (bad debt) adalah 5% dari penjualan kredit.
- Besarnya Cash Opname awal Tahun 20XX adalah Rp 10.000.000,-
- Perusahaan melakukan pembelian bahan baku yang merencanakan akan dibayar 30% secara tunai dan 70% dibayar bulan berikutnya. Adapun pembelian yang dilakukan adalah:
- Hutang jatuh tempo yang harus dibayarkan adalah januari Rp 2.500.000,- , Maret Rp 1.000.000,- ,dan Juni Rp 3.000.000,-
Dari data
tersebut, diminta:
- Menyusun skedul pengumpulan piutang untuk triwulan 1 tahun 20XX. Sertakan persiapan perhitungannya.
- Menyusun skedul penerimaan kas untuk triwulan 1 Tahun 20XX.
- Menyusun skedul pengeluaran kas untuk triwulan 1 Tahun 20XX.
- Menyusun skedul kas sementara untuk triwulan 1 Tahun 20XX.
Penyelesaian
Kasus : Anggaran Kas Tahunan (Jangka Pendek)
a.
Penjualan Menurut Bentuk Pembayaran
& Skedul Penerimaan Kas dari Penjualan Tunai
PT LARA
Skedul Penerimaan Kas dari Penjualan Tunai
Triwulan 1 Tahun 20XX
Skedul Penerimaan Kas dari Penjualan Tunai
Triwulan 1 Tahun 20XX
Keterangan
Penerimaan Kas dari Penjualan Tunai :
- Total penjualan : dari data Rencana Penjualan selama semester 1 Tahun 20XX
- Penjualan Tunai (60%): Total Penjualan x 0,6 (penjualan tunai 60%). Misal, pada bulan Januari (Rp 15.000.000 x 0.6= Rp 9.000.000).
- Potongan Penjualan Tunai (10%): Hasil dari penjualan Tunai x 0.1 (Pot. Penj. Tunai ). Misal, pada bulan Januari (Rp 9.000.000 x 0.1= Rp 900.000).
- Penjualan Tunai Neto: Hasil dari penjualan tunai ˗ hasil dari pot.penjualan tunai.Misal, pada bulan Januari (Rp 9.000.000 – Rp 9.00.000= Rp 8.100.000).
- Penjualan Kredit (40%): Total penjualan x 0.4 (penjualan kredit 40%). Misal, pada bulan Januari (Rp 15.000.000 x 0.4 = Rp 6.000.000).
- Bad Debt (5%): Hasil dari penjualan kredit x 0.05 (bad debt 5%). Misal, pada bulan Januari (Rp 6.000.000 x 0.05= Rp 300.000).
- Piutang Neto: Hasil dari penjualan kredit – bad debt. Misal, pada bulan Januari (Rp 6.000.000 – Rp 300.000= Rp 5.700.000) .
b.
Skedul Pengumpulan Piutang /
Penerimaan Kas dari Penjualan Kredit
PT LARA
Penerimaan Kas dari Penjualan Kredit
Triwulan 1 Tahun 20XX
Penerimaan Kas dari Penjualan Kredit
Triwulan 1 Tahun 20XX
Keterangan
Penerimaan Kas dari Penjualan Kredit:
- Piutang Neto didapat dari data pada Penerimaan Kas dari Penjualan Tunai
- Piutang yang mendapat hak discount (60%): Piutang Neto x 0,6 (hak discount). Misal, Pada bulan Januari (Rp 5.700.000 x 0,6= Rp3.420.000).
- Discount 5%: Piutang yang mendapat hak discount x 0.05 (discount). Misal, pada bulan Januari (Rp 3.420.000 x 0.05 = Rp 171.000).
- Piutang tidak mendapat discount (40%): Piutang neto x 0.4 (piutang tidak mendapat discount). Misal, pada bulan Januari (Rp 5.700.000 x 0,4= Rp 2.280.000).
- Piutang yang tidak mendapat discount dilunasi: Hasil dari piutang tidak mendapat discount x 0,5 (pelunasan 50%).Misal, pada bulan Januari (Rp 2.280.000 x 0.5= Rp 1.140.000).
- Total Pengumpulan Piutang: Piutang neto + piutang tidak mendapat discount. Misal, pada bulan Januari (Rp 3.249.000 + Rp 1.140.000= Rp 4.389.000).
c.
Anggaran Penerimaan Kas
PT LARA
Anggaran Penerimaan Kas
Triwulan 1 Tahun 20XX
Anggaran Penerimaan Kas
Triwulan 1 Tahun 20XX
Keterangan Anggaran Penerimaan Kas:
- Penjualan Tunai Neto (dari data Penerimaan Kas dari Penjualan Tunai)
- Piutang (dari data Penerimaan Kas dari Penjualan Kredit)
d.
Anggaran Pengeluaran Kas
PT LARA
Anggaran Pengeluaran Kas
Triwulan 1 Tahun 20XX
Anggaran Pengeluaran Kas
Triwulan 1 Tahun 20XX
Keterangan
Anggaran Pengeluaran Kas:
- Pembelian bahan baku tunai: Data pembelian bahan baku x 0,3 (dari perencanaan pembelian bahan baku 30% secara tunai). Misal, pada bulan Januari (Rp 5.000.000 x 0,3 = Rp 1.500.000)
- Pembelian bahan baku kredit: Data pembelian bahan baku x 0,7 (dari perencanaan pembelian bahan baku 70% secara kredit dibayar bulan berikutnya). Misal, pada bulan Februari (Rp 5.000.000 x 0,7 = Rp 3.500.000)
- Pembayaran hutang: Data didapat dari soal bahwa Januari sebesar Rp 2.500.000 , Maret Rp 1.000.000 , dan Juni Rp 3.000.000.
e.
Anggaran Kas
PT LARA
Anggaran Kas
Triwulan 1 Tahun 20XX
Anggaran Kas
Triwulan 1 Tahun 20XX
Keterangan
Anggaran Kas :
- Kas tersedia: Saldo kas awal + penerimaan kas. Misal, pada bulan Januari (Rp 10.000.000 + Rp 12.489.000 =Rp22.489.000)
- Saldo kas akhir: Kas tersedia – pengeluaran kas. Misal, pada bulan Januari (Rp 22.489.000 – Rp 4.000.000 = Rp 18.489.000)
L.
Anggaran Kas Jangka Panjang
Bila
anggaran kas tahunan disusun dengan cara menelusuri jejak arus fisik masuk dan
arus fisik keluar, maka anggaran kas jangka panjang disusun dengan cara
membandingkan neraca yang disusun antara dua periode anggaran dan perhitungan
rugi laba perusahaan yang terjadi selama periode antara kedua neraca tersebut.
Untuk
anggaran kas jangka panjang ini sesuai dengan dimensi waktu dari pengeluaran
modal dan rencana laba strategik jangka panjang. Estimasi penerimaan kas
(terutama dari penjualan barang atau jasa dan pinjaman), sedangkan estimasi
pengeluaran kas adalah terutama untuk biaya-biaya, pengeluaran modal dan
pembayaran hutang,yang merupakan dasar yang tepat untuk keputusan-keputusan yang
berkaitan dengan keuangan.
Secara
hipotesis neraca suatu perusahaan adalah sabagai berikut;
Neraca
Suatu konsep neraca yang paling awal yang menyatakan
bahwa neraca selalu seimbang jumlah kekayaan perusahaan sama dengan
jumlah modal yang dimiliki ditambah hutang-hutangnya
Misalkan
Selama satu tahun usaha terjadi transaksi sebagai berikut ini:
- Perusahaan memperoleh laba dan memakai sebagian dari laba ini
- Perusahaan memperoleh hutang lancar baru
- Perusahaan menambah hutang jangka panjang
- Perusahaan menambah setoran modalnya
- Perusahaan mengurangi sebagian dari aktiva lancar non kas (seperti piutang dan persediaan)
- Perusahaan menjual sebagian dari aktiva tetapnya
Dengan
transaksi-transaksi diatas maka akibat yang terrjadi adalah:
- Meningkatnya jumlah modal dan hutang-hutang perusahaan
- Menurunnya jumlah aktiva non kas dan aktiva tetap yang dimiliki
- Meningkatnya seluruh kekayaan perusahaan yang tercermin dalam meningkatnya jumlah uang kas
Pendekatan
seperti diatas berdasarkan suatu anggapan bahwa seluruh transaksi yang terjadi
adalah transaksi kas. Berbagai transaksi yang menyebabkan
meningkatnya/menurunya jumlah kas yang dipolakan sebagai berikut:











Tidak ada komentar:
Posting Komentar