PEMBAHASAN
A. Pengertian Persediaan
Pada sub
bab ini akan diuraikan mengenai pengertian persediaan. Persediaan menurut
Sutrisno dalam bukunya “Manajemen
Keuangan, Teory Konsep dan Aplikasi” adalah sebagai berikut :
“Persediaan adalah sejumlah
barang atau bahan yang dimiliki oleh perusahaan yang tujuannya untuk dijual
atau diolah kembali”.
Sedangkan
Zaki Baridwan dalam bukunya “Intermediate Accunting” memberi pengertian tentang
persediaan sebagai berikut :
“Istilah persediaan barang
dipakai untuk menunjukan barang-barang yang dimiliki untuk dijual kembali atau
digunakan untuk memproduksi barang-barang yang akan dijual”.
Dari ke dua
pengertian diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa persediaan adalah
sejumlah barang atau bahan yang dimiliki perusahaan untuk memproduksi
barang-barang yang akan dijual.
B. Klasifikasi Persediaan
Persediaan
dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori, tergantung jenis perusahaan.
Menurut Al Haryono Jusup dalam bukunya “Dasar-Dasar
Akuntansi” klasifikasi persediaan adalah sebagai berikut :
1. Perusahaan dagang, yaitu persediaan barang
dagangan .
2.
Perusahaan Manufaktur, yaitu :
a
Persediaan bahan baku
(Raw Material), adalah barang-barang
yang dimiliki untuk dipergunakan dalam aktivitas proses produksi yang merupakan
bagian terbesar yang terkandung didalam produk tersebut.
b
Persediaan barang dalam proses (Work In Process), merupakan barang-barang yang pada tanggal
penyusunan neraca belum selesai dikerjakan dan perlu pengerjaan lebih lanjut.
c
Persediaan
barang jadi (Finished Goods), yaitu
merupakan produk yang di produksi dan menunggu untuk dijual.
C. Tujuan dan Fungsi Persediaan
Dalam
perusahaan seperti perusahaan manufaktur dan perusahaan dagang memiliki
persediaan, tujuan dan fungsi persediaan itu sendiri menurut Freddy Rangkiti
dalam bukunya “Manajemen Persediaan
Aplikasi di Bidang Bisnis” adalah seperti di uraikan dibawah ini :
1. “Batch Stock/Lot Size Inventory
2. Fluctuations Stock
3. Anticipation Stock”
Adapun uraian dari fungsi dan tujuan persediaan adalah
sebagai berikut :
1
Batch Stock/Lot
Size Inventory, persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuat
bahan-bahan atau barang-barang dalam jumlah yang lebih besar dari jumlah yang
dibutuhkan saat ini.
2
Fluctuation Stock,
persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang
tidak dapat diramalkan.
3
Anticipation
Stock, persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang
dapat diramalkan, berdasarkan pola musiman yang terdapat dalam satu tahun dan
untuk menghadapi penggunaan atau penjualan atau permintaan yang meningkat.
Tujuan persediaan seperti diuraikan diatas adalah
karena dengan adanya persediaan, maka perusahaan dapat melakukan efisiensi
produksi dan penghematan biaya angkut karena dengan adanya persediaan untuk
menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diramalkan atau tidak
beraturan serta untuk mengatasi jumlah pesanan yang telah diramalkan
sebelumnya.
Dari uraian diatas fungsi persediaan yaitu untuk
menghindari keterlambatan barang, hilangnya barang dan dengan adanya
persediaan, maka operasional perusahaan dapat terus berjalan sehingga pelayanan
terhadap konsumen dapat terus berjalan sehingga pelayanan terhadap konsumen
dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya.
Sedangkan menurut Freddy Rangkuti dalam buku “Manajemen Persediaan Aplikasi di Bidang
Bisnis”, fungsi utama persediaan yaitu :
1. “Fungsi
Decoupling
2.
Fungsi Economic
lot sizing
3.
Fungsi Antisipasi”
Dari istilah diatas dapat di uraikan sebagai berikut :
1.
Fungsi Decoupling
Adalah persediaan yang memungkinkan perusahaan dapat memenuhi permintaan
langganan tanpa tergantung pada supplier.
Persediaan bahan mentah diadakan agar perusahaan tidak akan sepenuhnya
tergantung pada pengadaannya dalam hal kuantitas dan waktu pengiriman.
Persediaan barang dalam proses diadakan agar departemen-departemen dan
proses-proses individual perusahaan terjaga kebebasannya. Persediaan barang
jadi diperlukan untuk memenuhi permintaan produk yang tidak pasti dari para
langganan. Persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan
konsumen yang tidak dapat diperkirakan atau diramalkan disebut fluctuations stock.
2.
Fungsi Economic Lot Sizing. Persediaan lot size ini perlu mempertimbangkan penghematan-penghematan atau
potongan pembelian., biaya pengangkutan per unit menjadi lebih murah dan
sebagainya. Hal ini disebabkan karena perusahaan melakukan pembelian dalam
kuantitas yang lebih besar, dibandingkan dengan biaya-biaya yang timbul karena
besarnya persediaan (biaya sewa gudang, investasi, resiko, dan sebagainya).
3. Fungsi
Antisipasi. Apabila perusahaan
menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diperkirakan dan diramalkan
berdasarkan pengalaman atau data-data masa lalu, yaitu permintaan musiman.
Dalam hal ini perusahaan dapat mengadakan persediaan musiman (seasional inventories).
D. Jenis-jenis
Persediaan
Secara garis besar dalam perusahaan yang bergerak
didalam pabrik (manufaktur), persediaan diklasifikasikan berdasarkan tahapan
dalam proses produksi. Menurut Freddy Rangkuti dalam buku “Managemen persediaan Aplikasi
di Bidang Bisnis” adalah :
1
Persediaan Bahan Baku (raw material stock)
2
Persediaan Komponen-Komponen Rakitan (purchased
parts/components)
3
Persediaan Bahan Pembantu atau Penolong (supplies stock)
4
Persediaan Barang Setengah Jadi (work process stock)
5
Persediaan Barang Jadi ( finished good stock)”
Adapun urain dari jenis-jenis persediaan adalah
sebagai berikut :
1. Persediaan
bahan baku (raw material stock), yaitu persediaan
barang-barang berwujud, seperti besi, kayu serta komponen-komponen lainnya yang
digunakan dalam proses produksi.
2.
Persediaan komponen-komponen rakitan (purchased parts/components), yaitu
persediaan barang-barang yang terdiri dari komponen-komponen yang diperoleh
dari perusahaan lain, di mana secara langsung dapat dirakit menjadi suatu
produk.
3.
Persediaan bahan pembantu atau penolong (supplies stock), yaitu persediaan
barang-barang yang diperlukan dalam preses produksi, tetapi tidak merupakan
bagian atau komponen barang jadi.
4. Persediaan
barang setengah jadi (work process
stock), yaitu persediaan barang-barang yang merupakan keluaran dari
tiap-tiap bagian dalam proses produksi atau yang telah diolah menjadi suatu
bentuk, tetapi masih perlu diproses lebih lanjut menjadi barang jadi.
5.
Persediaan barang jadi (finished good stock), yaitu persediaan barang-barang yang telah
selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual atau dikirim
pada langganan.
E.
Sifat persediaan
Dalam pembahasan di uraikan sifat persediaan, menurut
Sukrisno Agoes (2000:189) dalam buku “Auditing”
sifat persediaan adalah :
1.
Biasanya merupakan aktiva lancar (current assets), karena masa perputarannya biasanya kurang atau
sama dengan satu tahun.
2.
Merupakan jumlah yang besar, terutama dalam perusahaan
dagang dan industri.
3.
Mempunyai pengaruh yang besar terhadap neraca dan
perhitungan rugi laba, karena kesalahan dalam menentukan dalam menentukan persediaan
pada akhir periode akan mengakibatkan kesalahan dalam jumlah aktiva lancar dan
total aktiva, harga pokok penjualan, laba kotor dan laba bersih, taksiran pajak
penghasilan, pembagian deviden dan rugi laba ditahan, kesalahan tersebut akan
terbawa ke laporan keuangan periode berikutnya.
Dari uraian diatas sifat-sifat persediaan merupakan
aktiva lancar yang jumlahnya besar dan mempunyai pengaruh yang besar terhadap
neraca dan perhitungan laba rugi.
F.
Biaya-Biaya Persediaan
Sehubungan dengan pembelian bahan baku yang dilakukan oleh perusahaan, pihak
perusahaan perlu menentukan jumlah bahan optimal yang harus dibeli, tujuanya
adalah meminimumkan biaya persediaan yang harus dilakukan oleh perusahaan.
Biaya-biaya persediaan dikelompokan menjadi empat,
yaitu :
1
Biaya pemesanan (ordering
cost) adalah biaya yang berkenaan dengan pemesanan barang atau bahan yang
dilakukan oleh perusahaan, dimana biaya pemesanan dapat dibedakan berdasarkan
tingkat variabelitasnya, yaitu :
a)
Biaya pemesanan tetap adalah biaya yang tidak
dipengaruhi oleh frekuensi pemesanan.
b)
Biaya pemesanan variabel adalah biaya pemesanan yang
jumlahmtotalnya semakin besar apabila frekuensi pemesanan semakin tinggi.
2 Biaya yang
terjadi dari adanya persediaan atau biaya penyimpanan (carrying cost) adalah biaya yang dikeluarkan berkenaan dengan
diadakannya persediaan atau penyimpanan bahan.
Terdapat
dua kelompok biaya penyimpangan bahan :
a)
Biaya penyimpanan tetap, yaitu biaya penyimpanan yang
jumlah totalnya tidak di pengaruhi oleh jumlah atau besarnya bahan yang di
simpan di gudang, misalnya biaya penyusutan gudang, gaji tetapdagian gudang.
b)
Biaya penyimpanan variabel,yaitu biaya penyimpanan yang
jumlah totalnya berubah-ubah secara proporsional oleh jumlah dan besarnya bahan
yang di simpan di gudang, misalnya : sewa gudang, biaya asuransi bahan, biaya
karena rusak dan usangnya bahan.
3 Biaya
kekurangan persediaan (out of stock cost)
adalah biaya yang timbul sebagai akibat terjadinya persediaan yang lebih kecil
dari jumlah yang ditimbulkan.
4 Biaya yang
berhubungan dengan kapasitas (capacity
associated cost) adalah biaya-biaya yang terjadi karena adanya pembelian
dan pengurangan kapasitas atau jika terlalu banyak atau sedikit kapasitas yang
digunakan pada suatu waktu tertentu. Biaya-biaya ini terdiri dari biaya lembur,
biaya pelatihan dan biaya pemberhentian karyawan.
Adapun beberapa cara yang dilakukan oleh pihak
manajemen dalam merencanakan persediaan bahan baku antara lain :
1
EOQ
(Economical Order Quantity) adalah jumlah kuantitas barang yang dapat di
peroleh dengan biaya minimal, atau sering dikatakan sebagai jumlah pembelian
yang optimal. Dalam menentukan besarnya jumlah pembelian yang optimal ini kita
hanya memperhatikan besarnya variabel dari penyediaan persediaan tersebut, baik
yang dibeli atau disimpan maupun biaya variabel yang sifat perubahanya
berlawanan dengan perubahan jumlah inventory
tersebut. Biaya variabel dari inventory pada prinsipnya dapat di
golongkan dalam :
a) Biaya-biaya yang berubah sesuai dengan
frekuensi pemesanan yang kini sering dinamakan procurement atau set-up cost.
Procurement cost adalah biaya yang
berubah-ubah sesuai dengan frekuensi pemesanan yang terderi dari :
Ø
Biaya selama proses persiapan
Ø
Biaya pengiriman pesanan
Ø Biaya penerimaan barang yang di pesan
Ø
Biaya-biaya proses pembayaran
b)
Biaya-biaya yang berubah-ubah sesuai dengan besarnya average inventory yang sering disebut storage atau carrying cost adalah biaya yang berubah- ubah sesuai dengan
besarnya inventory. Penentuan
besarnya carrying cost di dasarkan
pada average inventory dan biaya ini
dinyatakan dalam persentase rupiah dari average
inventory. Carryying cost akan
makin kecil apabila jumlah material biaya-biaya yang termasuk dalam carrying cost adalah :
Ø
Biaya penggunaan atau sewa ruangan gedung
Ø
Biaya pemeliharaan material dari allowance untuk kemungkinan rusak
Ø
Biaya untuk menghitung atau menimbang barang
yang dibeli
Ø
Biaya asuransi
Ø
Biaya absolescence
Ø
Biaya modal
Ø
Biaya pajak dari persediaan yang ada dalam
gudang
Dalam melakukan pembelian berdasarkan EUQ maka ada syarat yang harus
dipenuhi antara lain :
1
Harga pembelian per unitnya konstant
2
Setiap saat perusahaan membutuhkan bahan mentah ada di
pasar
3
Jumlah produksi yang menggunakan bahan mentah tersebut
stabil yang berarti bahan mentah relative stabil sepanjang tahun.
Besarnya EOQ ditentukan dengan cara :
keterangan :
R = jumlah bahan mentah yang akan dibeli dalam suatu
jangka waktu tertentu
S = biaya pemesanan
P = biaya per unit bahan mentah
I = biaya
penyimpanan yang dinyatakan dalam persentase dari persediaan
2
Safety Stock adalah
total quantity yang harus dimiliki oleh perusahaan agar proses produksi tidak
terhenti.
3
Reorder Point
adalah suatu titik dimana harus diadakan pesanan lagi sedemikian rupa
sehingga kedatangan atau penerimaan material yang dipesan itu akan tepat waktu
dimana persediaan safety stock sama
dengan nol.
F. Tingkat
Inventory Turn Over
Menurut Warren Reeve Fess yang di terjemahkan oleh
Aria Farahmita, Amanugraha dan Taufik Hendrawan dalam bukunya “Pengantar
akuntansi” mengatakan bahwa perputaran persedaian (inventory turn over) adalah :
“Perputaran persediaan (inventory
turn over) mengukur hubungan antara volume penjualan barang dagangan yang
dijual dengan jumlah persediaan yang dimiliki selama periode berjalan”.
Menurut Bambang Riyanto dalam bukunya “Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan”
mengatakan bahwa inventory trun over
adalah
“Inventory turn over merupakan
persediaan barang yang selalu dalam keadaan berputar, yang selalu dibeli dan
dijual, yang tidak mengalami proses lebih lanjut di dalam perusahaan tersebut
yang mangakibatkan perubahan bentuk dari barang yang bersangkutan”.
Dari ke dua pernyataan tersebut di atas dapat di
simpulkan bahwa setiap perusahaan harus mengetahui tingkat Inventory Turn Over yang dimiliki, karena tinggi rendahnya inventory turn over mempunyai efek yang
langsung terhadap besar kecilnya modal yang di investasikan di dalam
persediaan.
Makin tinggi turn over berarti makin cepat
perputarannya, yang berarti makin pendek waktu terkaitnya modal dalam inventory, sehingga untuk memenuhi
kebutuhan produksi maka besarnya persediaan bahan baku harus direncanakaan dengan tepat agar
tidak terjadi over stock.
Dimana raw
material turun overnya dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Raw Material Turn Over = 
Cost of material
used (biaya bahan mentah yang dimasukan dalam proses produksi atau
digunakan ) dapat diketahui dengan cara :
Persedaiaan bahan mentah permulaan tahun ditambah
dengan jumlah bahan mentah yang dibeli selama setahun dikurangi dengan “return & allowance”, kemudian
dikurangi dengan persediaan bahan mentah akhir tahun.
Hasil perhitungan dari inventory turn over bertujuan untuk mengetahui kemampuan dana yang
tertanam dalam inventory berputar
dalam suatu periode tertentu.
G.
Pengaruh Anggaran Pembelian Bahan Baku Terhadap Tingkat Inventory Turn Over
Kelancaran serta keberhasilan usaha suatu perusahaan
akan sangat bergantung oleh adanya berbagai faktor, baik faktor eksternal
seperti pesaing diluar perusahaan maupun faktor internal, sangat ditentukan
oleh kemampuan serta kecakapan dari pada manajemen perusahaan itu sendiri untuk
merencanakannya, mengkoordinasikan serta mengendalikan segala aktivitas yang
terjadi pada perusahaan. Faktor tersebut mempunyai pengaruh yang sangat besar
terhadap jalannya oprasi perusahan.
Dalam menjalankan fungsinya manajemen perlu melakukan
suatu penganggaran yang efektif yang dimaksudkan untuk membantu aktivitasnya
terutama dalam mengawasi serta mengendalikan operasi perusahaan. Dengan
melakukan suatu penganggaran, yang berarti harus menerapkan fungsi-fungsi
penganggaran yang meliputi plening, organizing, staffing, directing dan contro.
Perencanaan persediaan yang baik harus menyadari
pengakumulasian persediaan yang berlebihan dan tidak selayaknya. Usaha-usaha
harus diarahkan pada titik perencanaan yang melibatkan anggaran pembelian,
sehingga hanya akan dibeli dan ditimbun bahan yang diperlukan dan tujuan
dibuatnya anggaran pembelian bahan baku
adalah agar setiap pembelian dapat dikendalikan untuk mendapatkan produk dalam
kuntitas dan jenis yang wajar.
Agar suatu budget pembelian bahan baku dapat berfungsi dengan baik, maka
taksiran-taksiran yang termuat didalamnya harus cukup akurat, sehingga tidak
jauh berbeda dengan realisasinya nanti. Untuk bisa melakukan penaksiran secara
lebih akurat, diperlukan data, informasi dan pengalaman, yang merupakan
faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam menyusun anggaran pembelian
bahan baku.
Untuk melangsungkan usahanya dengan lancar maka
kebanyakan perusahaan merasakan perlunya mempunyai persediaan bahan mentah.
Besar kecilnya persediaan ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain :
1
Volume yang dibutuhkan untuk melindungi jalannya
perusahaan terhadap gangguan kehabisan persediaan yang akan dapat menghambat
atau mengganggu jalanny proses produksi.
2
Volume produksi yang direncanakan, di mana volume
produksi yang direncanakan itu sendiri sangat tergantung kepada volume sales
yang direncanakan.
3
Besarnya pembelian bahan mentah setiap kali pembelian
mendapatkan biaya pembelian yang minimal.
4
Estimasi tentang fluktuasi harga bahan mentah yang
bersangkutan di waktu yang akan datang.
5
Peraturan-peraturan penerintah yang menyangkut
persediaan material.
6
Harga pembelian bahan mentah.
7
Biay penyimpanan dan resiko penyimpanan di gudang.
8
Tingkat
kecepatan material menjadinya rusak atau turun kualitasnya.
Menurut M.
Munandar dalam bukunya “Budget,
Perencanaan Kerja, Pengkoordinasian Kerja, Pengawasan Kerja” mengemukakan
faktor-faktor dalam menyusun budget pembelian bahan baku adalah :
“Adapun faktor-faktor yang
harus dipertimbangkan dalam menyusun budget pembelian bahan baku adalah…kebijakan bahan mentah yang
dipengaruhi oleh tingkat perputaran persediaan bahan mentah (inventory turn over)di waktu-waktu yang
lalu”.
Sedangkan menurut Titiek Ambarwati dan M.Jihadi dalam
bukunya “Anggaran Perusahaan”mengemukakan
faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian bahan baku adalah :
“Faktor-faktor
yang mempengaruhi anggaran pembelian bahan baku…kebijakan
pemerintah di bidang persediaan bahan baku
yang di pengaruhi oleh tingkat inventory
turn over”.
Pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa anggaran
pembelian bahan baku khususnya merencanakan
tentang harga beli dari masing-masing jenis bahan baku yang di beli dari waktu ke waktu selama
periode yang akan datang . selain itu anggran pembelian bahan baku
juga dapat meminimalkan biaya yang dikeluarkan dalam mengadakan persediaan
karena anggaran pembelian bahan baku
dapat mengendalikan tingkat inventory
turn over.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar