Translate

Kamis, 13 Juni 2013

Persediaan



PEMBAHASAN

A.    Pengertian Persediaan
Pada sub bab ini akan diuraikan mengenai pengertian persediaan. Persediaan menurut Sutrisno dalam bukunya “Manajemen Keuangan, Teory Konsep dan Aplikasi” adalah sebagai berikut :
“Persediaan adalah sejumlah barang atau bahan yang dimiliki oleh perusahaan yang tujuannya untuk dijual atau diolah kembali”.  
Sedangkan Zaki Baridwan dalam bukunya “Intermediate Accunting” memberi pengertian tentang persediaan sebagai berikut :
“Istilah persediaan barang dipakai untuk menunjukan barang-barang yang dimiliki untuk dijual kembali atau digunakan untuk memproduksi barang-barang yang akan dijual”.
Dari ke dua pengertian diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa persediaan adalah sejumlah barang atau bahan yang dimiliki perusahaan untuk memproduksi barang-barang yang akan dijual.

B.     Klasifikasi Persediaan
Persediaan dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori, tergantung jenis perusahaan. Menurut Al Haryono Jusup dalam bukunya “Dasar-Dasar Akuntansi” klasifikasi persediaan adalah sebagai berikut :
1.      Perusahaan dagang, yaitu persediaan barang dagangan .
2.      Perusahaan Manufaktur, yaitu :
a         Persediaan bahan baku (Raw Material), adalah barang-barang yang dimiliki untuk dipergunakan dalam aktivitas proses produksi yang merupakan bagian terbesar yang terkandung didalam produk tersebut.
b        Persediaan barang dalam proses (Work In Process), merupakan barang-barang yang pada tanggal penyusunan neraca belum selesai dikerjakan dan perlu pengerjaan lebih lanjut.
c         Persediaan barang jadi (Finished Goods), yaitu merupakan produk yang di produksi dan menunggu untuk dijual.

C.    Tujuan dan Fungsi Persediaan
Dalam perusahaan seperti perusahaan manufaktur dan perusahaan dagang memiliki persediaan, tujuan dan fungsi persediaan itu sendiri menurut Freddy Rangkiti dalam bukunya “Manajemen Persediaan Aplikasi di Bidang Bisnis” adalah seperti di uraikan dibawah ini :
1.      “Batch Stock/Lot Size Inventory
2.      Fluctuations Stock
3.      Anticipation Stock”
Adapun uraian dari fungsi dan tujuan persediaan adalah sebagai berikut :
1        Batch Stock/Lot Size Inventory, persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuat bahan-bahan atau barang-barang dalam jumlah yang lebih besar dari jumlah yang dibutuhkan saat ini.
2        Fluctuation Stock, persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diramalkan.
3        Anticipation Stock, persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diramalkan, berdasarkan pola musiman yang terdapat dalam satu tahun dan untuk menghadapi penggunaan atau penjualan atau permintaan yang meningkat.
Tujuan persediaan seperti diuraikan diatas adalah karena dengan adanya persediaan, maka perusahaan dapat melakukan efisiensi produksi dan penghematan biaya angkut karena dengan adanya persediaan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diramalkan atau tidak beraturan serta untuk mengatasi jumlah pesanan yang telah diramalkan sebelumnya.
Dari uraian diatas fungsi persediaan yaitu untuk menghindari keterlambatan barang, hilangnya barang dan dengan adanya persediaan, maka operasional perusahaan dapat terus berjalan sehingga pelayanan terhadap konsumen dapat terus berjalan sehingga pelayanan terhadap konsumen dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya.
Sedangkan menurut Freddy Rangkuti dalam buku “Manajemen Persediaan Aplikasi di Bidang Bisnis”, fungsi utama persediaan yaitu :
1.      “Fungsi Decoupling
2.      Fungsi Economic lot sizing
3.      Fungsi Antisipasi”
Dari istilah diatas dapat di uraikan sebagai berikut :
1.      Fungsi Decoupling Adalah persediaan yang memungkinkan perusahaan dapat memenuhi permintaan langganan tanpa tergantung pada supplier. Persediaan bahan mentah diadakan agar perusahaan tidak akan sepenuhnya tergantung pada pengadaannya dalam hal kuantitas dan waktu pengiriman. Persediaan barang dalam proses diadakan agar departemen-departemen dan proses-proses individual perusahaan terjaga kebebasannya. Persediaan barang jadi diperlukan untuk memenuhi permintaan produk yang tidak pasti dari para langganan. Persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diperkirakan atau diramalkan disebut fluctuations stock.
2.      Fungsi Economic Lot Sizing. Persediaan lot size ini perlu mempertimbangkan penghematan-penghematan atau potongan pembelian., biaya pengangkutan per unit menjadi lebih murah dan sebagainya. Hal ini disebabkan karena perusahaan melakukan pembelian dalam kuantitas yang lebih besar, dibandingkan dengan biaya-biaya yang timbul karena besarnya persediaan (biaya sewa gudang, investasi, resiko, dan sebagainya).
3.      Fungsi Antisipasi. Apabila perusahaan menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diperkirakan dan diramalkan berdasarkan pengalaman atau data-data masa lalu, yaitu permintaan musiman. Dalam hal ini perusahaan dapat mengadakan persediaan musiman (seasional inventories).

D.    Jenis-jenis Persediaan
Secara garis besar dalam perusahaan yang bergerak didalam pabrik (manufaktur), persediaan diklasifikasikan berdasarkan tahapan dalam proses produksi. Menurut Freddy Rangkuti dalam buku “Managemen  persediaan Aplikasi di Bidang Bisnis” adalah :
1                          Persediaan Bahan Baku (raw material stock)
2        Persediaan Komponen-Komponen Rakitan (purchased                                        parts/components)
3                          Persediaan Bahan Pembantu atau Penolong (supplies stock)
4                          Persediaan Barang Setengah Jadi (work process stock)
5                          Persediaan Barang Jadi ( finished good stock)”
Adapun urain dari jenis-jenis persediaan adalah sebagai berikut :
1.      Persediaan bahan baku (raw material stock), yaitu persediaan barang-barang berwujud, seperti besi, kayu serta komponen-komponen lainnya yang digunakan dalam proses produksi.
2.      Persediaan komponen-komponen rakitan  (purchased parts/components), yaitu persediaan barang-barang yang terdiri dari komponen-komponen yang diperoleh dari perusahaan lain, di mana secara langsung dapat dirakit menjadi suatu produk.
3.      Persediaan bahan pembantu atau penolong (supplies stock), yaitu persediaan barang-barang yang diperlukan dalam preses produksi, tetapi tidak merupakan bagian atau komponen barang jadi.
4.      Persediaan barang setengah jadi (work process stock), yaitu persediaan barang-barang yang merupakan keluaran dari tiap-tiap bagian dalam proses produksi atau yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu diproses lebih lanjut menjadi barang jadi.
5.      Persediaan barang jadi (finished good stock), yaitu persediaan barang-barang yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual atau dikirim pada langganan.

E.     Sifat persediaan
Dalam pembahasan di uraikan sifat persediaan, menurut Sukrisno Agoes (2000:189) dalam buku “Auditing” sifat persediaan adalah :
1.      Biasanya merupakan aktiva lancar (current assets), karena masa perputarannya biasanya kurang atau sama dengan satu tahun.
2.      Merupakan jumlah yang besar, terutama dalam perusahaan dagang dan industri.
3.      Mempunyai pengaruh yang besar terhadap neraca dan perhitungan rugi laba, karena kesalahan dalam menentukan dalam menentukan persediaan pada akhir periode akan mengakibatkan kesalahan dalam jumlah aktiva lancar dan total aktiva, harga pokok penjualan, laba kotor dan laba bersih, taksiran pajak penghasilan, pembagian deviden dan rugi laba ditahan, kesalahan tersebut akan terbawa ke laporan keuangan periode berikutnya.
Dari uraian diatas sifat-sifat persediaan merupakan aktiva lancar yang jumlahnya besar dan mempunyai pengaruh yang besar terhadap neraca dan perhitungan laba rugi.

F.     Biaya-Biaya Persediaan
Sehubungan dengan pembelian bahan baku yang dilakukan oleh perusahaan, pihak perusahaan perlu menentukan jumlah bahan optimal yang harus dibeli, tujuanya adalah meminimumkan biaya persediaan yang harus dilakukan oleh perusahaan.
Biaya-biaya persediaan dikelompokan menjadi empat, yaitu :
1        Biaya pemesanan (ordering cost) adalah biaya yang berkenaan dengan pemesanan barang atau bahan yang dilakukan oleh perusahaan, dimana biaya pemesanan dapat dibedakan berdasarkan tingkat variabelitasnya, yaitu :
a)      Biaya pemesanan tetap adalah biaya yang tidak dipengaruhi oleh frekuensi pemesanan.
b)      Biaya pemesanan variabel adalah biaya pemesanan yang jumlahmtotalnya semakin besar apabila frekuensi pemesanan semakin tinggi.
2    Biaya yang terjadi dari adanya persediaan atau biaya penyimpanan (carrying cost) adalah biaya yang dikeluarkan berkenaan dengan diadakannya persediaan atau penyimpanan bahan.
      Terdapat dua kelompok biaya penyimpangan bahan :
a)      Biaya penyimpanan tetap, yaitu biaya penyimpanan yang jumlah totalnya tidak di pengaruhi oleh jumlah atau besarnya bahan yang di simpan di gudang, misalnya biaya penyusutan gudang, gaji tetapdagian gudang.
b)      Biaya penyimpanan variabel,yaitu biaya penyimpanan yang jumlah totalnya berubah-ubah secara proporsional oleh jumlah dan besarnya bahan yang di simpan di gudang, misalnya : sewa gudang, biaya asuransi bahan, biaya karena rusak dan usangnya bahan.
3    Biaya kekurangan persediaan (out of stock cost) adalah biaya yang timbul sebagai akibat terjadinya persediaan yang lebih kecil dari jumlah yang ditimbulkan.
4    Biaya yang berhubungan dengan kapasitas (capacity associated cost) adalah biaya-biaya yang terjadi karena adanya pembelian dan pengurangan kapasitas atau jika terlalu banyak atau sedikit kapasitas yang digunakan pada suatu waktu tertentu. Biaya-biaya ini terdiri dari biaya lembur, biaya pelatihan dan biaya pemberhentian karyawan. 
Adapun beberapa cara yang dilakukan oleh pihak manajemen dalam merencanakan persediaan bahan baku antara lain :
1        EOQ (Economical Order Quantity) adalah jumlah kuantitas barang yang dapat di peroleh dengan biaya minimal, atau sering dikatakan sebagai jumlah pembelian yang optimal. Dalam menentukan besarnya jumlah pembelian yang optimal ini kita hanya memperhatikan besarnya variabel dari penyediaan persediaan tersebut, baik yang dibeli atau disimpan maupun biaya variabel yang sifat perubahanya berlawanan dengan perubahan jumlah inventory tersebut. Biaya variabel dari inventory pada prinsipnya dapat di golongkan dalam :
a)      Biaya-biaya yang berubah sesuai dengan frekuensi pemesanan yang kini sering dinamakan procurement atau set-up cost. Procurement cost adalah biaya yang berubah-ubah sesuai dengan frekuensi pemesanan yang terderi dari :
Ø  Biaya selama proses persiapan
Ø  Biaya pengiriman pesanan
Ø  Biaya penerimaan barang yang di pesan
Ø  Biaya-biaya proses pembayaran
b)      Biaya-biaya yang berubah-ubah sesuai dengan besarnya average inventory yang sering disebut storage atau carrying cost adalah biaya yang berubah- ubah sesuai dengan besarnya inventory. Penentuan besarnya carrying cost di dasarkan pada average inventory dan biaya ini dinyatakan dalam persentase rupiah dari average inventory. Carryying cost akan makin kecil apabila jumlah material biaya-biaya yang termasuk dalam carrying cost adalah :
Ø  Biaya penggunaan atau sewa ruangan gedung
Ø  Biaya pemeliharaan material dari allowance untuk kemungkinan rusak
Ø  Biaya untuk menghitung atau menimbang barang yang dibeli
Ø  Biaya asuransi
Ø  Biaya absolescence
Ø  Biaya modal
Ø  Biaya pajak dari persediaan yang ada dalam gudang
Dalam melakukan pembelian berdasarkan EUQ maka ada syarat yang harus dipenuhi antara lain :
1        Harga pembelian per unitnya konstant
2        Setiap saat perusahaan membutuhkan bahan mentah ada di pasar
3        Jumlah produksi yang menggunakan bahan mentah tersebut stabil yang berarti bahan mentah relative stabil sepanjang tahun.
Besarnya EOQ ditentukan dengan cara :
keterangan :
R = jumlah bahan mentah yang akan dibeli dalam suatu jangka waktu tertentu
S = biaya pemesanan
P = biaya per unit bahan mentah
I = biaya penyimpanan yang dinyatakan dalam persentase dari persediaan
2        Safety Stock adalah total quantity yang harus dimiliki oleh perusahaan agar proses produksi tidak terhenti.
3        Reorder Point adalah suatu titik dimana harus diadakan pesanan lagi sedemikian rupa sehingga kedatangan atau penerimaan material yang dipesan itu akan tepat waktu dimana persediaan safety stock sama dengan nol.

F.     Tingkat Inventory Turn Over
Menurut Warren Reeve Fess yang di terjemahkan oleh Aria Farahmita, Amanugraha dan Taufik Hendrawan dalam bukunya “Pengantar akuntansi” mengatakan bahwa perputaran persedaian (inventory turn over) adalah :
“Perputaran persediaan (inventory turn over) mengukur hubungan antara volume penjualan barang dagangan yang dijual dengan jumlah persediaan yang dimiliki selama periode berjalan”.
Menurut Bambang Riyanto dalam bukunya “Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan” mengatakan bahwa inventory trun over adalah
Inventory turn over merupakan persediaan barang yang selalu dalam keadaan berputar, yang selalu dibeli dan dijual, yang tidak mengalami proses lebih lanjut di dalam perusahaan tersebut yang mangakibatkan perubahan bentuk dari barang yang bersangkutan”.

Dari ke dua pernyataan tersebut di atas dapat di simpulkan bahwa setiap perusahaan harus mengetahui tingkat Inventory Turn Over yang dimiliki, karena tinggi rendahnya inventory turn over mempunyai efek yang langsung terhadap besar kecilnya modal yang di investasikan di dalam persediaan.
Makin tinggi turn over berarti makin cepat perputarannya, yang berarti makin pendek waktu terkaitnya modal dalam inventory, sehingga untuk memenuhi kebutuhan produksi maka besarnya persediaan bahan baku harus direncanakaan dengan tepat agar tidak terjadi over stock.
Dimana raw material turun overnya dihitung dengan rumus sebagai berikut :
            Raw Material Turn Over  =
Cost of material used (biaya bahan mentah yang dimasukan dalam proses produksi atau digunakan ) dapat diketahui dengan cara :
Persedaiaan bahan mentah permulaan tahun ditambah dengan jumlah bahan mentah yang dibeli selama setahun dikurangi dengan “return & allowance”, kemudian dikurangi dengan persediaan bahan mentah akhir tahun.
Hasil perhitungan dari inventory turn over bertujuan untuk mengetahui kemampuan dana yang tertanam dalam inventory berputar dalam suatu periode tertentu.

G.    Pengaruh Anggaran Pembelian Bahan Baku Terhadap Tingkat Inventory Turn Over
Kelancaran serta keberhasilan usaha suatu perusahaan akan sangat bergantung oleh adanya berbagai faktor, baik faktor eksternal seperti pesaing diluar perusahaan maupun faktor internal, sangat ditentukan oleh kemampuan serta kecakapan dari pada manajemen perusahaan itu sendiri untuk merencanakannya, mengkoordinasikan serta mengendalikan segala aktivitas yang terjadi pada perusahaan. Faktor tersebut mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap jalannya oprasi perusahan.
Dalam menjalankan fungsinya manajemen perlu melakukan suatu penganggaran yang efektif yang dimaksudkan untuk membantu aktivitasnya terutama dalam mengawasi serta mengendalikan operasi perusahaan. Dengan melakukan suatu penganggaran, yang berarti harus menerapkan fungsi-fungsi penganggaran yang meliputi plening, organizing, staffing, directing dan contro.
Perencanaan persediaan yang baik harus menyadari pengakumulasian persediaan yang berlebihan dan tidak selayaknya. Usaha-usaha harus diarahkan pada titik perencanaan yang melibatkan anggaran pembelian, sehingga hanya akan dibeli dan ditimbun bahan yang diperlukan dan tujuan dibuatnya anggaran pembelian bahan baku adalah agar setiap pembelian dapat dikendalikan untuk mendapatkan produk dalam kuntitas dan jenis yang wajar.
Agar suatu budget pembelian bahan baku dapat berfungsi dengan baik, maka taksiran-taksiran yang termuat didalamnya harus cukup akurat, sehingga tidak jauh berbeda dengan realisasinya nanti. Untuk bisa melakukan penaksiran secara lebih akurat, diperlukan data, informasi dan pengalaman, yang merupakan faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam menyusun anggaran pembelian bahan baku.
Untuk melangsungkan usahanya dengan lancar maka kebanyakan perusahaan merasakan perlunya mempunyai persediaan bahan mentah. Besar kecilnya persediaan ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain :
1        Volume yang dibutuhkan untuk melindungi jalannya perusahaan terhadap gangguan kehabisan persediaan yang akan dapat menghambat atau mengganggu jalanny proses produksi.
2        Volume produksi yang direncanakan, di mana volume produksi yang direncanakan itu sendiri sangat tergantung kepada volume sales yang direncanakan.
3        Besarnya pembelian bahan mentah setiap kali pembelian mendapatkan biaya pembelian yang minimal.
4        Estimasi tentang fluktuasi harga bahan mentah yang bersangkutan di waktu yang akan datang.
5        Peraturan-peraturan penerintah yang menyangkut persediaan material.
6        Harga pembelian bahan mentah.
7        Biay penyimpanan dan resiko penyimpanan di gudang.
8        Tingkat kecepatan material menjadinya rusak atau turun kualitasnya.
Menurut M. Munandar dalam bukunya “Budget, Perencanaan Kerja, Pengkoordinasian Kerja, Pengawasan Kerja” mengemukakan faktor-faktor dalam menyusun budget pembelian bahan baku adalah :
               “Adapun faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam menyusun budget pembelian bahan baku adalah…kebijakan bahan mentah yang dipengaruhi oleh tingkat perputaran persediaan bahan mentah (inventory turn over)di waktu-waktu yang lalu”.
Sedangkan menurut Titiek Ambarwati dan M.Jihadi dalam bukunya “Anggaran Perusahaan”mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian bahan baku adalah :
               “Faktor-faktor yang mempengaruhi anggaran pembelian bahan baku…kebijakan pemerintah di bidang persediaan bahan baku yang di pengaruhi oleh tingkat inventory turn over”.
Pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa anggaran pembelian bahan baku khususnya merencanakan tentang harga beli dari masing-masing jenis bahan baku yang di beli dari waktu ke waktu selama periode yang akan datang . selain itu anggran pembelian bahan baku juga dapat meminimalkan biaya yang dikeluarkan dalam mengadakan persediaan karena anggaran pembelian bahan baku dapat mengendalikan tingkat inventory turn over.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar