Jenis-jenis Paragraf
1.
Paragraf Narasi
Paragraf narasi
adalah penceritaan suatu kejadian secara runtut sesuai urutan waktu. Paragraf
narasi sendiri dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu narasi eksposisi dan narasi
sugestif. Narasi eksposisi merupakan karangan yang bertujuan menggugah pikiran
pembaca untuk mengetahui apa yang dikisahkan. Sedangkan narasi sugestif adalah
karangan narasi yang berusaha memberikan makna pada peristiwa atau kejadian itu
sebagai pengalaman atau lebih menggunakan bahasa konotatif untuk memberikan
kesan imajinasi.
Berikut ini adalah contoh paragraf narasi :
Liburan sekolah
beberapa tahun yang lalu, saya dan ibu pergi ke Pontianak. Pontianak
merupakan ibu kota
Provinsi Kalimantan Barat.
Di Pontianak, banyak sekali keunikan dan tempat menarik yang merupakan ciri khas Kota Pontianak. Perjalanan kurang lebih 2 jam dengan menggunakan pesawat. Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Sintawang. Waktu tempuh menuju Sintawang kurang lebih sembilan jam dari Pontianak jika menggunakan mobil. daerah ini terkenal sebagai penghasil tenun ikat. Motif tenun ikatnya sangat unik dan coraknya sangat khas Kalimantan Barat. Harga tenun ikat ini tergolong mahal, tergantung motif dan bahannya. Harganya bisa mencapai ratusan ribu, bahkan jutaan Rupiah.
Di Pontianak, banyak sekali keunikan dan tempat menarik yang merupakan ciri khas Kota Pontianak. Perjalanan kurang lebih 2 jam dengan menggunakan pesawat. Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Sintawang. Waktu tempuh menuju Sintawang kurang lebih sembilan jam dari Pontianak jika menggunakan mobil. daerah ini terkenal sebagai penghasil tenun ikat. Motif tenun ikatnya sangat unik dan coraknya sangat khas Kalimantan Barat. Harga tenun ikat ini tergolong mahal, tergantung motif dan bahannya. Harganya bisa mencapai ratusan ribu, bahkan jutaan Rupiah.
Sebuah paragraf narasi
dapat dibangun dengan unsur-unsur berikut:
1.
Tema adalah pokok pembicaraan yang menjadi dasar
penceritaan penulis
2.
alur adalah janilanncerita, bagaimana cerita itu
disusun sehingga peristiwa demi peristiwa dapat terjalin dengan baik
3.
Watak atau karakter berhubungan dengan perangai si
pelaku atau tokoh dalam suatu narasi
4.
Suasana berhubungan dengan kesan yang ditimbulkan
sehingga pembaca dapat ikut membayangkan dan merasakan suasana yang dihadapi
pelaku
5.
Sudut pandang berhubungan dengan darimana penulis
emmandang suatu peristiwa
2.
Paragraf Eksposisi
Paragraf
eksposisi adalah paragraf yang bertujuan memaparkan, menjelaskan, menyampaikan
informasi, mengajarkan, dan menerangkan sesuatu tanpa disertai ajakan atau
desakan agar pembaca menerima atau mengikutinya. Paragraf eksposisi biasa
digunakan untuk menyajikan pengetahuan / ilmu, definisi, pengertian,
langkah-langkah suatu kegiatan, metode, cara, dan proses terjadinya sesuatu.
Adapun ciri-ciri paragraf eksposisi adalah sebagai
berikut:
- Berisi tentang pendapat, gagasan, atau keyakinan penulis terhadap suatu masalah bidang tertentu
- Uraian bersifat objektif, semata-mata hanya untuk menambah pengetahuan pembaca tanpa didasari maksud tertentu
- Diperjelas dengan fakta yang dilengkapi dengan angka, peta, grafik, statistik, gambar atau bagan sebagai ilustrasi
- Menggali melalui analisis dan sintesis
- Paragraf diakhiri dengan penegasan, bukan ajakan atau permintaan dukungan
Berikut ini adalah contoh sebuah paragraf eksposisi:
Ejaan bahasa Indonesia
denagn huruf latin sudah beberapa kali mengalami perubahan yang disesuaikan
dengan perkembangan bahasa dan masyarakat pemakainya. Mula-mula ejaan Van
Ophuisen, yaitu ejaan resmi untuk bahasa Melayu dengan huruf latin, yang
disusun oleh Prof. Ch. Van Ophuisen atas perintah Pemerintah Hindia Belanda
pada waktu itu. Selanjutnya pada tahun 1947 berlaku ejaan baru utuk bahasa Indonesia
. Ejaan itu dikenal dengan nama ejaan Suwandi karena yang menandatangani
peresmian penggunaan ejaan itu seorang menteri bernama Mr. Suwandi. Ejaan
bahasa Indonesia
yang berlaku sekarang adalah Ejaan yang Disempurnakan (EYD) yang berlaku sejak
tahun 1972
3.
Paragraf Deskripsi
Paragraf
deskripsi adalah paragraf yang bertujuan untuk memberikan kesan/impresi kepada
pembaca terhadap objek, gagasan, tempat, peristiwa, dan semacamnya yang ingin
disampaikan penulis. Atau secara singkat paragraf deskripsi bisa diartikan
sebagai paragraf yang isinya menggambarkan suatu objek sehingga sehingga
pembaca bisa seolah-olah melihat dan merasakan apa yang tertulis dalam paragraf
tersebut.
Beriktu
ini adalah contoh paragraf deskripsi:
Pemandangan Pantai Parangtritis - Yogya sangat
mempesona. di sebelah kiri terlihat tebing yang sangat tinggi dan di sebelah
kanan kita bisa melihat batu karang besar yang seolah-olah siap menjaga
gempuran ombak yang datang setiap saat. Banyaknya wisatawan yang selalu
mengunjungi Pantai Parangtritis ini membuat pantai ini tidak pernah sepi dari
pengunjung. Di pantai Parangtritis ini kita bisa bermain pasir dan merasakan
hembusan segar angin laut. Kita juga bisa naik kuda ataupun angkutan sejenis
andong yang bisa membawa kita ke area karang laut yang sungguh sangat indah.
Disore hari, kita bisa melihat matahari terbenam yang merupakan momen sangat
istimewa melihat matahari yang seolah-olah amsuk ke dalam hamparan air laut.
4.
Paragraf Argumentasi
Paragraf
argumentasi adalah sebuah paragraf yang menjelaskan pendapat dengan berbagai
keterangan dan alasan. Hal ini dimaksudkan untuk meyakinkan pembaca. Selain
itu, paragraf tersebut dikembangkan dengan pola pengembangan sebab akibat.
Hubungan sebab akibat mula-mula bertolak dari suatu peristiwa yang dianggap
sebagai sebab yang diketahui, kemudian bergerak maju menuju suatu kesimpulan
sebagai efek atau akibat. Efek yang muncul dapat berupa efek tunggal dan efek
jamak (bersama-sama)
Adapun ciri-ciri paragraf argumentasi adalah sebagai
berikut:
- Paragraf argumentasi mengandung kebenaran untuk mengubah sikap dan keyakinan orang mengenai topik yang dibahas
- Paragraf argumentasi mengandung data atau fakta-fakta yang dapat dipertanggungjawabkan
- Penjelasan dalam paragraf argumentasi disampaikan secara logis
Berikut ini adalah
contoh dari paragraf argumentasi:
Pendidikan gratis hanya janji yang bergema luas
saat kampanye dan pemilihan pimpinan daerah maupun pusat. Saat pemilihan
usai akan lain ceritanya. Anak-anak miskin di kota, desa, dan pedalaman tetap mengalami
kesulitan untuk mengakses pendidikan yang layak. Di perkotaan sekolah
berlomba-lomba meningkatkan sarana dan prasaran dengan jalan menaikkan pungutan
dengan dalil sumbangan pendidikan, uang gedung, dan lain-lain karena biasanya
masyarakat perkotaan lebih memilih sekolah yang mempunyai sarana pendidikan
yang baik sehingga mereka tidak akan segan untuk membayar mahal demi memberikan
pendidikan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Sebaliknya di pinggiran kota, pedesaan, dan
pedalaman, sekolah tidak bisa mengenakan pungutan kepada orang tua siswa karena
tidak ada lagi yang bisa dipungut dari masyarakat. Para
siswa harus puas dengan kondisi fasilitas pendidikan yang jauh dari kata layak.
5.
Paragraf Persuasi
Paragraf
persuasi adalah bentuk karangan yang bertujuan untuk meyakinkan seseorang, baik
pembaca maupun pendengar agar melakukan sesuatu yang dikehendaki penulis. Salah
satu bentuk paragraf persuasi yang dikenal secara umum adalah propaganda yang
dilakukan berbagai badan, lembaga, atau perorangan.
Berikut ini adalah contoh - contoh paragraf persuasi
:
Contoh 1
Banyak orang yang meremehkan sampah. Bahkan, tidak terpikirkan hal yang akan ditimbulkannya. Walaupun tempat sampah banyak disesidakan, tetapi kepedualian seseorang terhadap sampah sangat kurang. Sebagai siswa, kamu sebaiknya menyadari dan memiliki sikap peduli terhadap sampah. Oleh karena itu, buanglah sampah pada tempat sampah.
Contoh 2
Kebersihan adalah hal terpenting dalam kehidupan. Tanpa kebersihan, mungkin dunia kita akan dipenuhi dengan sampah. Dimana - mana terjangkit beragam jenis penyakit yang akan menghantui manusia. Beragam bencana pun akan timbul. Oleh karena itu, marilah kita ciptakan kebersihan dimanapun kita berada.
Contoh 3
Tidak dapat disangkal bahwa praktik berpidato menjadi semakin "obat kuat" untuk membangun rasa percaya diri. Jika rasa percaya diri itu sudah besar, kita dapat tampil tenang tanpa digoda rasa malu, takut, dan grogi. Ketenangan inilah yang menjadi modal utama untuk meraih keberhasilan pidato. Oleh karena itu, marilah kita melaksanakan praktik berpidato agar kita segera memperoleh ketrampilan atau bahkan kemahiran berpidato
Tidak ada komentar:
Posting Komentar