BAB I
PENDAHULUAN
Pada umumnya setiap ilmu pengetahuan satu
dan lainnya saling berhubungan. Namun hubungan tersebut ada yang sifatnya
berdekatan, ada yang pertengahan dan ada pula yang agak berjauhan.
Hubungan antara al-Qur’an dan as-Sunnah
sangat erat sebagaimana dalam al-Qur’an dan as-Sunnah mementingkan nilai-nilai
kejujuran, kesetiakawanan, persaudaraan, rasa tolong-menolong, memberi maaf dan
besar hati, pemurah dan lain-lain. Semua itu akan tercapai jika iman kita kuat
tentu akhlak akan mengiringinya dengan memperbuat perbuatan yang terpuji dan
menjauhkan perkara yang tercela. Jika kita dapat memperbuat yang demikian tentu
kita akan mendapat ridho Allah swt.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Ilmu Akhlak Dalam Islam
Ilmu akhlak adalah ilmu yang membahas
tentang perbuatan manusia yang dapat dinilai baik dan buruk. Tetapi tidak semua
amal yang baik atau buruk itu dapat dikatakan perbuatan akhlak. Banyak
perbuatan yang tidak dapat disebut perbuatan akhlaki dan tidak dapat dikatakan
baik atau buruk.[1]
Pada umumnya setiap ilmu pengetahuan satu
dan lainnya saling berhubungan. Ilmu akhlak juga membahas tentang perbuatan
manusia yang dapat dinilai baik dan buruk. Perbuatan manusia yang dilakukan
tidak atas dasar kemauannya dan keinginannya. Persamaan antara akhlak dan iman
adalah sama-sama mendekatkan diri kepada Allah dan selalu senantiasa beribadah
kepadanya, guna untuk mendapatkan keridhoan-Nya.[2]
Prof. Dr. Ahmad Amin memberikan defenisi,
bahwa yang disebut akhlak “adatul-iradah” atau kehendak yang dibiasakan,
artinya bahwa akhlak itu bila membiasakan sesuatu maka kebiasaan itu dinamakan
akhlak.
Iman terbagi kepada dua yaitu:
1.
Iman
Haqiqi, disyariatkan pada seseorang mukallaf, tidak dalam segala waktu.
2.
Iman
Hukmi, disyariatkan pada ibadah dari awalnya hingga akhirnya.
Arti iman adalah percaya dengan sepenuh
hati tanpa ada sedikit keraguan didalamnya, sehingga tercermin dalam pandangan
hidup, sikap dan tingkah laku. Iman kepada Allah swt. berarti percaya dengan
sepenuh hati kepada Allah swt. dengan segala sifat kesempurnaan-Nya, baik yang
wajib, mustahil, maupun yang jaiz. Kepercayaan kepada Allah swt. tersebut tidak
hanya terhujam di dalam hati, akan tetapi juga harus di ucapkan dengan lisan
dan diwujud nyatakan dalam perbuatan.
B.
Iman Membuahkan Akhlak
Iman merupakan kepercayaan dengan sepenuh
hati. Jika iman dihati sudah mantap maka akan membuahkan akhlak, karena
perbuatan akhlakitu dasarnya dari hati sedangkan iman merupakan kepercayaan
yang didasari hati.[3]
Sumber ajaran akhlak adalah al-Qur’an dan
as-Sunnah. Tingkah laku Nabi Muhammad merupakan contoh suri tauladan bagi umat
manusia.
Secara fitrah manusia menginginkan
kesatuan dengan Tuhan. Dengan cara mengkuatkan iman. Kehidupan manusia
sangatlah kompleks, begitu pula hubungan yang terjadi pada manusia sangatlah
luas.
Iman merupakan jiwa pokok agama dalam
menuju ridho Allah swt. jiwalah yang akan mengenal dan mendekatkan kita kepada
Allah. Jiwalah yang taat dan durhaka kepada Allah, jiwa akan memperoleh
kemenangan apabila kita sucikan dan jiwa juga akan merasakan kebinasaan jika
tanpa keimanan yang dapat membuahkan akhlak yang mulia.
Contoh iman membuahkan akhlak:
1. Menyebarkan Salam
Bagian dari perkara yang akan menumbuhkan
cinta dan tasbih antara sesama adalah menyebarkan salam (kedamaian) dan
mewujudkannya. Karena itulah ada bberapa Hadits Rasulullah saw. yang
menganjurkan dan menjelaskan dampak positif dan keutamaannya:
Barra ibn Aziz r.a. berkata: “Rasulullah
saw. memerintahkan kita akan tujuh perkara: (1) menjenguk orang sakit; (2)
mengiringi jenazah; (3) mendo’akan orang yang bersin; (4) menolong orang yang
lemah; (5) membantu orang teraniaya; (6) menyebarkan salam; (7) melaksanakan
sumpah dengan baik.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa
Rasulullah saw. bersabda:
“Kalian tidak akan masuk surga, kecuali
dengan beriman. Kalian tidak akan beriman, kecuali dengan saling mencintai.
Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang jika kalian lakukan, maka
kalian akan saling mencintai ? Sebarkanlah salam diantara kalian !” (HR.
Muslim).
Manusia yang paling mulia dihadapan Allah
adalah orang yang memulai memberi salam, menumbuhkan rasa cinta dan kasih adalah
berkirim salam kepada orang lain dan ini bukan perkara yang berat.
Salam merupakan salah satu dari nama-nama
Allah dan menyebarkan salam berarti menyebut nama Allah. Banyak menyebarkan
salam berarti banyak menyebut nama Allah.
Berapa banyak kejahatan yang gagal denga
adanya kalimat “Assalamu’alaikum !”. berapa banyak kebaikan diperoleh dengan
kalimat “Assalamu’alaikum !”. berapa banyak hubungan persaudaraan terjalin
dengan kalimat “Assalamu’alaikum !”.
2. Menyenangkan Hati Orang Lain
Menyenagkan perasaan orang yang kesusahan
termasuk bagian dari menghibur dan meringankan musibah orang lain.
Dalil-dalilnya dari al-Qur’an dan
as-Sunnah adalah sebagai berikut:
Firman Allah: “Apabila pada waktu
pembagian (harta warisan) itu kerabat, anak yatim dan orang miskin ikuthadir,
maka berilah mereka dari harta itu (sekadarnya) dan ucapkanlah kepada mereka
kata-kata yang baik.” (QS. An-Nisa’: 8).
Itu dilakukan pada waktu pembagian harta
warisan, jika dihadiri oleh kerabat dan orang-orang miskin yang tidak memiliki hak
dalam harta warisan tersebut dan mereka tidak memiliki harta. Senagkanlah
perasaan mereka dengan sebagian dari harta anda atau sebagian dari harta
warisan itu. Jika anda memberi kepada meraka niscaya Allah akan memberkahi Anda
dan menggantikannya dengan yang lebih baik.
Bagian dari betuk menyenagkan perasaan
adalah firman Allah, “wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh
suaminya) harta yang diberikan kepadanya dengan cara yang baik sebagai suatu
kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 241).
Perasaan wanita yang bercerai sedang dalam
keadaan kacau. Oleh karena itu, hibur kesedihannya dan memberinya harta.
Contoh lain dari bentuk menyenangkan
perasaan:
Jika anda ingin memberi sesuatu kepada
seseorang atau tidak memberi, maka gunakanlah kata-kata yang baik.
C.
Menumbuhkan Iman
Berdasarkan hadits tersebut di atas, dapat
dipahami bahwa iman itu terdiri atas tiga unsur yang harus dipenuhi, yaitu:
1. Adanya pengakuan yang diucapkan dengan
lisan
2. Adanya keyakinan (pembenaran) yang
dilakukan oleh hati dan,
3. Adanya amalan (perbuatan) yang dilakukan
oleh anggota badan.
Unsur ucapan, keyakinan dan perbuatan,
ketiganya merupakan satu rangkaian yang tidak boleh dipisahkan. Jika satu dari
ketiga unsur tersebut hilang atau tidak ada, maka akan merusak arti iman itu
sendiri.
D.
Antara Iman, Ilmu dan Akhlak
Iman upakan kepercayaan dengan sepenuh
hati, unsur ucapan, keyakinan dan perbuatan. Sedangkan untuk mencapai keimanan
dan keyakinan harus didasari dengan ilmu. Pada umumnya setiap ilmu pengetahuan
satu dan lainnya saling berhubungan. Namun, hubungan tersebut ada yang sifatnya
berdekatan, yang pertengahan dan ada pula yang agak jauh. Al-Qur’an dan
as-Sunnah memntingkan nilai-nilai kejujuran. Nilai-nilai serupa ini yang harus
dimiliki oleh seorang muslim dan dimasukkan ke dalam dirinya dari semasa ia
kecil.[4]
E.
Akhlakul Karimah Intisari Islam
Dalam aqidah islam ditegaskan bahwa hanya
Allah lah yang menciptakan, mengatur, mendidik alam semesta. Dengan demikian
hanya Allah lah yang patut disembah, serta dimohon petunjuk dan petolongannya.
Iman mengajarkan, bahwa iman, aqidah, akhlak atau kepercayaan itu harus
dibuktikan. Dengan kata lain, seseorang yang beraqidah akan berakhlak mulia.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Setiap ilmu pengetahuan satu dan lainya
saling bergantungan. Begitu juga antara iman dan akhlak. Keimanan yang mantap
akan membuahkan akhlak yang mulia seperti mengucapkan salam apabila bertemu
dengan sesama mulim, sopan santun, menyayangi yang lebih muda dan menghormati
yang lebih tua. Akhlak merupakan perbuatan yang baik yang sangat susah untuk
mencapainya. Dalam arti bahasa jika iman telah mantap maka akan timbul akhlak
yang mulia.
DAFTAR PUSTAKA
Abbas, Z.A. Peri Hidup Muhammad
Rasulullah saw.
Hamka, Pelajaran Agama Islam.
Mustafa, A. 1997. Akhlak Tasawuf. Pusaka Setia.
Nata, Abuddin. 1996. Akhlak Tasawuf. Cet. I. Jakarta: PT Grafindo Persada.
Nasution, Harun. 1995. Islam
RAsional, Gagasan dan Pemikiran. Cet III. Bandung: Mizan.
Rifai, Moh., dkk. Aqidah Akhlak.
Syaltut, Mahmud. Al-Islam Aqidah wa
Syari’ah.
Ya’kub, Hamzah. Pemurnian Aqidah dan
Syariah Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar