Translate

Selasa, 25 Desember 2012

KORELASI IMAN DAN AKHLAK


BAB I
PENDAHULUAN

Pada umumnya setiap ilmu pengetahuan satu dan lainnya saling berhubungan. Namun hubungan tersebut ada yang sifatnya berdekatan, ada yang pertengahan dan ada pula yang agak berjauhan.
Hubungan antara al-Qur’an dan as-Sunnah sangat erat sebagaimana dalam al-Qur’an dan as-Sunnah mementingkan nilai-nilai kejujuran, kesetiakawanan, persaudaraan, rasa tolong-menolong, memberi maaf dan besar hati, pemurah dan lain-lain. Semua itu akan tercapai jika iman kita kuat tentu akhlak akan mengiringinya dengan memperbuat perbuatan yang terpuji dan menjauhkan perkara yang tercela. Jika kita dapat memperbuat yang demikian tentu kita akan mendapat ridho Allah swt.

 BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Ilmu Akhlak Dalam Islam
Ilmu akhlak adalah ilmu yang membahas tentang perbuatan manusia yang dapat dinilai baik dan buruk. Tetapi tidak semua amal yang baik atau buruk itu dapat dikatakan perbuatan akhlak. Banyak perbuatan yang tidak dapat disebut perbuatan akhlaki dan tidak dapat dikatakan baik atau buruk.[1]
Pada umumnya setiap ilmu pengetahuan satu dan lainnya saling berhubungan. Ilmu akhlak juga membahas tentang perbuatan manusia yang dapat dinilai baik dan buruk. Perbuatan manusia yang dilakukan tidak atas dasar kemauannya dan keinginannya. Persamaan antara akhlak dan iman adalah sama-sama mendekatkan diri kepada Allah dan selalu senantiasa beribadah kepadanya, guna untuk mendapatkan keridhoan-Nya.[2]
Prof. Dr. Ahmad Amin memberikan defenisi, bahwa yang disebut akhlak “adatul-iradah” atau kehendak yang dibiasakan, artinya bahwa akhlak itu bila membiasakan sesuatu maka kebiasaan itu dinamakan akhlak.
Iman terbagi kepada dua yaitu:
1.            Iman Haqiqi, disyariatkan pada seseorang mukallaf, tidak dalam segala waktu.
2.            Iman Hukmi, disyariatkan pada ibadah dari awalnya hingga akhirnya.
Arti iman adalah percaya dengan sepenuh hati tanpa ada sedikit keraguan didalamnya, sehingga tercermin dalam pandangan hidup, sikap dan tingkah laku. Iman kepada Allah swt. berarti percaya dengan sepenuh hati kepada Allah swt. dengan segala sifat kesempurnaan-Nya, baik yang wajib, mustahil, maupun yang jaiz. Kepercayaan kepada Allah swt. tersebut tidak hanya terhujam di dalam hati, akan tetapi juga harus di ucapkan dengan lisan dan diwujud nyatakan dalam perbuatan.

B.     Iman Membuahkan Akhlak
Iman merupakan kepercayaan dengan sepenuh hati. Jika iman dihati sudah mantap maka akan membuahkan akhlak, karena perbuatan akhlakitu dasarnya dari hati sedangkan iman merupakan kepercayaan yang didasari hati.[3]
Sumber ajaran akhlak adalah al-Qur’an dan as-Sunnah. Tingkah laku Nabi Muhammad merupakan contoh suri tauladan bagi umat manusia.
Secara fitrah manusia menginginkan kesatuan dengan Tuhan. Dengan cara mengkuatkan iman. Kehidupan manusia sangatlah kompleks, begitu pula hubungan yang terjadi pada manusia sangatlah luas.
Iman merupakan jiwa pokok agama dalam menuju ridho Allah swt. jiwalah yang akan mengenal dan mendekatkan kita kepada Allah. Jiwalah yang taat dan durhaka kepada Allah, jiwa akan memperoleh kemenangan apabila kita sucikan dan jiwa juga akan merasakan kebinasaan jika tanpa keimanan yang dapat membuahkan akhlak yang mulia.
Contoh iman membuahkan akhlak:
1.      Menyebarkan Salam
Bagian dari perkara yang akan menumbuhkan cinta dan tasbih antara sesama adalah menyebarkan salam (kedamaian) dan mewujudkannya. Karena itulah ada bberapa Hadits Rasulullah saw. yang menganjurkan dan menjelaskan dampak positif dan keutamaannya:
Barra ibn Aziz r.a. berkata: “Rasulullah saw. memerintahkan kita akan tujuh perkara: (1) menjenguk orang sakit; (2) mengiringi jenazah; (3) mendo’akan orang yang bersin; (4) menolong orang yang lemah; (5) membantu orang teraniaya; (6) menyebarkan salam; (7) melaksanakan sumpah dengan baik.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda:



“Kalian tidak akan masuk surga, kecuali dengan beriman. Kalian tidak akan beriman, kecuali dengan saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang jika kalian lakukan, maka kalian akan saling mencintai ? Sebarkanlah salam diantara kalian !” (HR. Muslim).
Manusia yang paling mulia dihadapan Allah adalah orang yang memulai memberi salam, menumbuhkan rasa cinta dan kasih adalah berkirim salam kepada orang lain dan ini bukan perkara yang berat.
Salam merupakan salah satu dari nama-nama Allah dan menyebarkan salam berarti menyebut nama Allah. Banyak menyebarkan salam berarti banyak menyebut nama Allah.
Berapa banyak kejahatan yang gagal denga adanya kalimat “Assalamu’alaikum !”. berapa banyak kebaikan diperoleh dengan kalimat “Assalamu’alaikum !”. berapa banyak hubungan persaudaraan terjalin dengan kalimat “Assalamu’alaikum !”.

2.      Menyenangkan Hati Orang Lain
Menyenagkan perasaan orang yang kesusahan termasuk bagian dari menghibur dan meringankan musibah orang lain.
Dalil-dalilnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah adalah sebagai berikut:
Firman Allah: “Apabila pada waktu pembagian (harta warisan) itu kerabat, anak yatim dan orang miskin ikuthadir, maka berilah mereka dari harta itu (sekadarnya) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.” (QS. An-Nisa’: 8).
Itu dilakukan pada waktu pembagian harta warisan, jika dihadiri oleh kerabat dan orang-orang miskin yang tidak memiliki hak dalam harta warisan tersebut dan mereka tidak memiliki harta. Senagkanlah perasaan mereka dengan sebagian dari harta anda atau sebagian dari harta warisan itu. Jika anda memberi kepada meraka niscaya Allah akan memberkahi Anda dan menggantikannya dengan yang lebih baik.
Bagian dari betuk menyenagkan perasaan adalah firman Allah, “wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) harta yang diberikan kepadanya dengan cara yang baik sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 241).
Perasaan wanita yang bercerai sedang dalam keadaan kacau. Oleh karena itu, hibur kesedihannya dan memberinya harta.
Contoh lain dari bentuk menyenangkan perasaan:
Jika anda ingin memberi sesuatu kepada seseorang atau tidak memberi, maka gunakanlah kata-kata yang baik.

C.    Menumbuhkan Iman
Berdasarkan hadits tersebut di atas, dapat dipahami bahwa iman itu terdiri atas tiga unsur yang harus dipenuhi, yaitu:
1.      Adanya pengakuan yang diucapkan dengan lisan
2.      Adanya keyakinan (pembenaran) yang dilakukan oleh hati dan,
3.      Adanya amalan (perbuatan) yang dilakukan oleh anggota badan.
Unsur ucapan, keyakinan dan perbuatan, ketiganya merupakan satu rangkaian yang tidak boleh dipisahkan. Jika satu dari ketiga unsur tersebut hilang atau tidak ada, maka akan merusak arti iman itu sendiri.

D.    Antara Iman, Ilmu dan Akhlak
Iman upakan kepercayaan dengan sepenuh hati, unsur ucapan, keyakinan dan perbuatan. Sedangkan untuk mencapai keimanan dan keyakinan harus didasari dengan ilmu. Pada umumnya setiap ilmu pengetahuan satu dan lainnya saling berhubungan. Namun, hubungan tersebut ada yang sifatnya berdekatan, yang pertengahan dan ada pula yang agak jauh. Al-Qur’an dan as-Sunnah memntingkan nilai-nilai kejujuran. Nilai-nilai serupa ini yang harus dimiliki oleh seorang muslim dan dimasukkan ke dalam dirinya dari semasa ia kecil.[4]



E.     Akhlakul Karimah Intisari Islam
Dalam aqidah islam ditegaskan bahwa hanya Allah lah yang menciptakan, mengatur, mendidik alam semesta. Dengan demikian hanya Allah lah yang patut disembah, serta dimohon petunjuk dan petolongannya. Iman mengajarkan, bahwa iman, aqidah, akhlak atau kepercayaan itu harus dibuktikan. Dengan kata lain, seseorang yang beraqidah akan berakhlak mulia.
 
BAB III
PENUTUP


A.    KESIMPULAN
Setiap ilmu pengetahuan satu dan lainya saling bergantungan. Begitu juga antara iman dan akhlak. Keimanan yang mantap akan membuahkan akhlak yang mulia seperti mengucapkan salam apabila bertemu dengan sesama mulim, sopan santun, menyayangi yang lebih muda dan menghormati yang lebih tua. Akhlak merupakan perbuatan yang baik yang sangat susah untuk mencapainya. Dalam arti bahasa jika iman telah mantap maka akan timbul akhlak yang mulia.
 
DAFTAR PUSTAKA


Abbas, Z.A. Peri Hidup Muhammad Rasulullah saw.
Hamka, Pelajaran Agama Islam.
Mustafa, A. 1997. Akhlak Tasawuf. Pusaka Setia.
Nata, Abuddin. 1996. Akhlak Tasawuf. Cet. I. Jakarta: PT Grafindo Persada.
Nasution, Harun. 1995. Islam RAsional, Gagasan dan Pemikiran. Cet III. Bandung: Mizan.
Rifai, Moh., dkk. Aqidah Akhlak.
Syaltut, Mahmud. Al-Islam Aqidah wa Syari’ah.
Ya’kub, Hamzah. Pemurnian Aqidah dan Syariah Islam.


[1] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT Grafindo Persada, 1996), Cet. I, hal. 6.
[2] Ibid.
[3] A. Mustafa, Akhlak Tasawuf, (Pusaka Setia, 1997), hal. 11.
[4] Harun Nasution, Islam RAsional, Gagasan dan Pemikiran, (Bandung: Mizan, 1995), Cet. III, hal. 57.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar