BAB I
Pemisahan Berdasarkan Penukaran Anion
Karena
banyaknya logam yang dapat dititrasi dengan EDTA, maka masalah selektivitas
menjadi penting. Pemisahaan berdasarkan penukaran anion atau ekstraksi pelarut
perlu dilakukan terhadapsuatu campuran. Selektivitas dapat diperbaiki dengan
mengendalikan pH pemakaian pengompleks sekunder (sequistering agent), pemilihan penitrannya dan pengendalian laju
reaksi. Kompleks yang stabil biasanya terbentuk pada pH rendah seperti Fe
(pH=2,0), Al3+, Zr4+, B3+ semua dititrasi pada
pH 5. pada titrasi Ca, untuk menghindarkan interferensi dari Zn, Cd, ion-ion
ini dimasking dengan KCN. Misal: Ca, Mg dapat dititrasi pada pH
10 dengan penembahan nitril glikolat, yang akan membebaskan Zn, Cd dari kompleks
dengan EDTA. BAL, atau 2,3 dimerkaptopropanol dapat digunakan sebagai masking agent untuk Zn, Bi, Pb, Hg. Thiourea, asam tiogikolat, thiosemicarbazid dapat digunakan
sebagai elemen masking melalui pembentukan sulfida yang tidak larut. EDTA dapat
digunakan untuk menitrasi Ca dalam campuran Mg dengan mempergunakan indikator
murexide. Campuran Cd, Zn dapat dititrasi dengaaaan EDTA, dengan menggunakan
buffer NH3-NH4Cl, karena Cd(NH3)2
kurang stabil dibandingkan Zn(NH3)2 sehingga EDTA hanya
menitrasi Cd.
Dengan
menggunakan zat-zat penopeng beberapa kation dalam suatu zampuran sarung dapat
ditutupi sehingga tak dapat lagi bereaksi dengan EDTA atau dengan indikator.
Satu zat penopeng yang efektif adalah ion sianida; ion ini membentuk
kompleks-kompleks sianida yang stabil dengan kation Cd, Zn, Hg(II), Cu, Co, Ni,
Ag, dan logam-logam platinum, tetapi tidak dengan alkali-alkali tanah, mangan,
dan timbel:
M2+ + 4CN- ? [Mn(Cn)4]2-
Karena
itu adalah mungkin untuk menetapkan kationa seperti Ca2+, Mg2+, Pb2+, dan Mn2+ dengan
adanya logam-logam yang disebut diatas, dengan menutupnya dengan Kalium atau
Natrium sianida berlebih. Besi dan jumlah yang sedikit, dapat ditutup dengan
sianida, jika ia direduksi dulu ke keadaan besi(II) dengan penambahan asam
askorbat. Titanium(IV), besi(III), dan aluminium dapat ditutup dengan trietanol
amina; merkurium dengan ion iodida; dan aluminium, besi(III), titanium(IV), dan
timah(II) dengan amonium fluorida (kation-kation dari logam-logam alkali tanah
menghasilkan fluorida-fluorida yang dapat larut sedikit).
Kadang-kadang
logam itu dapat diubah k keadaan oksidasi yang berbeda; begitulah, tembaga (II)
dapat direduksi dalam larutan asam oleh hidroksilamina atau asam askorabat.
Setelah dijadikan amonikal, nikel atau kobalt dapat dititrasi dengan
menggunakan misalnya, mureksida sebagai indikator tanpa terganggu oleh tembaga,
yang sekarang berada sebagai Cu(I). Besi(III) sering dapat ditutupi serupa
dengan mereduksinya dengan asam askorbat.
Keberhasilan
suatu titrasi EDTA bergantung pada penetapan titik akhir secara cermat.
Prosedur-prosedur yang paling umum mempergunakan indikator ion logam.
Persyaratan bagi sebuah indikator ion logam untuk digunakan pada pendeteksian
visual dari titik-titik akhir meliputi:
a) Reaksi warna harus sedemikian sehingga
sebelum titik akhir, bila hampir semua ion logam telah berkompleks dengan EDTA,
larutan akan berwarna kuat.
b) Reaksi warna itu haruslah speaifik
(khusus), atau sedikitnya selektif.
c) Kompleks indikator logam itu harus
memiliki kestabilan yang cukup, kalau tidak, karena disosiasi, tak akan
diperoleh perubahan warna yang tajam. Namun, kompleks indikator logam itu harus
kurang stabil dibanding kompleks indikator logam itu. Perubahan dalam
kesetimbangan dari kompleks indikator logam ke kompleks logam EDTA harus tajam
dan cepat.
d) Kontras warna antara indikator bebas dan
kompleks indikator logam harus sedemikian sehingga mudah diamati.
e) Indikator harus sangat peka terhadap ion
logam (yaitu: terhadap pM) sehingga perubahan warna terjadi sedikit mungkin
dengan titik ekuivalen.
f) Persyaratan diatas harus dipenuhi dalam
jangkau pH pada mana titrasi dilakukan.
Karena semua indikator ini asam lemah
harga Kzn tergantung pada tetapan ionisasi asam dari reagennya dan
pada pH. Jika log Kzn setara dengan pM pada titik ekuivalen, dan
jika jumlah indikatornya sedikit, maka kurva antara perubahan warna terhadap
jumlah titran yang setara akan simetris. Indikator dalam jumlah yang banyak
akan menyebabkan kesalahan titrasi. Kompleks logam adalah merah lembayung
tetapi indikator ini tidak efesien pada Ph < 8,0 diatas pH 6,0 xylenol
orange tidak efektif sebagai indikator. Murexida mempunyai daerah pH luas,
dimana pK1= 0, pK2= 9,2 dan pK3= 10,5. celcin
biru adalah indikator pendar-fluor yang efektif pada pH netral. Kadang kala
kompleks yang terlalu kuat atau terlalu lemah terbentuk dengan EBT dalam
titrasi langsung. Kompleks yang kuat dapat mengurangi fungsinya sebagai
indikator seperti Cu, Co, Ni membentuk kompleks logam EBT yang stabil dan
menggunakan KCN untuk menyembunyikan (masking) logam ini. Reaksi demikian
terjadi dalam analisis air dimana sampel terkontaminasi oleh tembaga.
Sebaliknya bila kompleks indikator adalah lemah, maka EDTA dapat ditambahkan
berlebih kemudian dititrasi balik dengan larutan standar.
Titrasi substitusi dapat dilakukan dengan
penambahan Mg(EDTA)2 terhadap garam Ca2+, akan diperoleh
Ca(EDTA)2 dan Mg2+ bebas, yang kemudian dapat membentuk
kompleks berwarna dengan menggunakan EBT yang dititrasi dengan titran EDTA.
Pemberian titik tajam Hg dapat dititrasi dengan menggunakan kompleks Mg atau Zn
EDTA. Mg2+ bebas ini dapat dititrasi kembali dengan EDTA.
Murexida merupakan indikator logam ion
pertama yang digunakan dalam titrasi EDTA. Larutan-larutan murexida berwarna
violet kemerahan sampai pH=9, violet dari pH 9 sampai pH 11, dan violet biru
(atas biru) diatas pH 11. perubahan warna ini mungkin disebabkan oleh
menyingkirkan proton secara berangsur-angsur dari gugus imido; karena 4 gugus
demikian, murexida dapat dinyatakan sebagai H4D. Hanya dua dari keempat
hidrogen yang bersifat asam ini dapat disingkirkan dengan menambahkan suatu
alkali hidroksida, sehingga hanya 2 nilai pK yang perlu dipertimbangkan.
BAB II
Raksi-reaksi Anion
1. Karbonat, CO32-.
Kelarutan
semua karbonat normal, dengan kekecualian karbonat dari logam-logam alkali
serta amonium, tak larut dalam air. Hidrogen karbonat atau bikarbonat dari
kalsium, strontium, barium, magnesium, dan mungkin dari besi ada dalam larutan
air; mereka terbentuk karena aksi oleh asam karbonat yang berlebihan terhadap
karbonat-karbonat normal, entah dalam larutan air atau suspensi danakan terurai
pada pendidihan larutan.
Hidrogen
karbonat dari logam-logam alkali larut dalam air, tetapi kurang larut dibanding
karbonat normal padanannya.
Untuk mempelajari
reaksi ini dapat dipakai larutan natrium karbonat, Na2CO3.
10H2O, 0,5M.
a.
Asam klorida encer: terjadi penguraian dengan berbuih,karena karbon
dioksida dilepaskan:
Gas ini dapat diidentifikasi dari sifatnya
yang mengeruhkan air kapur (atau air burit):
Beberapa karbonat alam, seperti magnesit,
MgCO3, siderit, FeCO3, dan dolomit, (Ca,Mg)CO3,
tak bereaksi dengan berarti dalam keadaan dingin; zat-zat ini harus dihancurkan
menjadi bubuk halus, dan campuran yang bereaksi dipanaskan.
b. Larutan barium klorida (atau kalsium
klorida): endapan putih barium (atau kalsium) karbonat.
Hanya karbonat-karbonat normal yang
bereaksi; hidrogen karbonat tidak bereaksi. Endapan larut dalam asam mineral
dan asam karbonat:
c. Larutan perak nitrat: endapan putih perak
karbonat
d. Uji natrium karbonat-fenolftalein. Uji ini
berdasarkan fakta bahwa fenolftalein diubah menjadi merah jambu oleh karbonat
yang larut. Maka jika karbon dioksida yang dibebaskan oleh asam encer dari
karbonat, dibuat berkontak dengan suatu larutan fenolftalein yang telah
diwarnai merah jambu oleh larutan natrium karbonat,karbon dioksida ini bisa
diidentifikasi dari hiangnya warna itu.
2. Sianida, CN-.
Kelarutan
hanya sianida dari logam-logam alkali dan alkali tanah yang larut dalam air.
Larutan ini bereaksi disebabkan oleh hidrolis.
Semua sianida
sangat beracun. Asam bebasnya, HCN, mudah menguap dan sangat berbahaya,
sehingga semua eksperimen dalam mana gas ini kemungkinan akan dilepaskan, atau
eksperimen-eksperimen dalam mana sianida-sianida dipanaskan,harus dilakukan
dalam kamar asam.
a.
Asam
klorida encer: asam sianida, HCN, yang berbau seperti amandel pahit, dilepaskan
dalam keadaan dingin. Uap ini harus dibaui dengan sangat hati-hati.
b.
Larutan
perak nitrat: endapan putih prak sianida, AgCN, yang mudah larut dalam larutan
sianida yang berlebihan dengan membentuk ion kompleks, disianoargentat(I)
[Ag(CN)2)-
c.
Asam
sulfat pekat. Panaskan sedikit garam padat itu dengan asam sulfat pekat; akan
dilepaskan karbon monoksida, yang dapat dinyalakan dan terbakar dengan nyala
biru. Semua sianida, yang kompleks dan sederhana, akan terurai dengan pngolahan
ini
d.
Uji
biru Prusia. Ini merupakan uji yang sulit dan dilakukan secara berikut. Larutan
sianida tersebut dijadikan sangat basa denga larutan natrium hidroksida,
ditambahkan beberapa mililiter larutan besi (II) sulfat yang baru saja dibuat
(jika hanya terdapat runutan sianida, paling baik dipakai larutan besi(II)
sulfat yang jenuh (25%)), dan campuran dididihkan. Dengan demikian terbentuk
ion heksasianoferat(II). Setelah diasamkan dengan asam klorida (untuk
menetralkan setiap alkali bebas yang mungkin ada), diperoleh larutan yang
jernih, yang memberi endapan biru Prusia setelah ditambahkan sedikit larutan
besi(III) klorida. Jika hanya dipakai atau terdapat sedikit sianida dalam
larutan yang akan di uji, kita mula-mula memperoleh larutan hijau; ini akan
mengendapkan biru Prusia setelah didiamkan.
e.
Larutan
Merkurium(I) nitrat: endapan abu-abu merkurium logam (perbedaan dari klorida,
bromida, dan iodida):
f.
Uji
besi(III) tiosianat. Ini adalah suatu uji lain yang sangat baik terhadap
sianida, dan berdasarkan pada persenyawaan langsung antara alkali sianida
dengan belerang.
g.
Uji
tembaga sulfida. Larutan-larutan sianida mudah melarutkan tembaga(II) sulfida
dengan membentuk ion tetrasianokuprat(I) yang tak berwarna.
h.
Uji
tembaga asetat-benzidina (bahaya: reagensia ini dapat menimbulkan
kanker(karsinogenik)). Reaksi ini terjadi karena potensial oksidasi reduksi
dari pasangan tembaga(II)-tembaga(I) bertambah besar jika ion tembaga (I)
dihilangkan oleh ion sianida.
3. Klorida, Cl-
Kelarutan
kebanyakan klorida larut dalam air. Merkurium(I) klorida, Hg2Cl2,
perak klorida, AgCl, timbel klorida, PbCl2 (yang ini larut sangat
sedikit dalam air dingin, tetapi mudah larut dalam air mendidih).
a. Asam Sulfat pekat: klorida itu terurai
banyak dalam keadaan dingin, penguraian adalah sempurna pada pemanasan, yang
disertai dengan pelepasan hidrogen
klorida.
b. Mangan dioksida dan asam sulfat pekat.
Jika klorida padat dicampur dengan mangan dioksida. Produk pengendapan yang
sama banyaknya, lalu ditambahkan asam sulfat pekat dan campuran dipanaskan
berlahan-lahan, klor akan dilepaskan yang dapat diidentifikasi dari baunya yang
menyesakkan nafas, warnanya yang hijau-kekuningan, sifatnya yang memutihkan
kertas lakmus basah, dan mengubah kertas kalium iodida-kanji menjadi biru.
Hidrogen klorida yang mula-mula terbentuk, dioksidasikan menjadi klor.
c. Larutan perak nitrat: endapan perak
klorida, AgCl yang seperti dadih dan putih. Dia tidak larut dalam air danasam
nitrat encerdan dalam larutan-larutan kalium sianida dan tiosulfat.
d. Larutan timbel asetat. Endapan putih timbel
klorida, PbCl2, dari larutan yang pekat.
e. Kalium dikromat dan asam sulfat (uji
kromil klorida)
4. Bromida, Br-
Kelarutan
perak, merkurium(I), dan tembaga(I) tak larut dalam air. Timbel bromida sangat
sedikit larut dalam air dingin, tetapi lebih larut dalam air mendidih. Semua
bromida lainnya larut.
a. asam sulfat pekat. Jika asam sulfat pekat
dituangkan keatas sedikit kalium bromida padat, mula-mula terbentuk larutan
coklat-kemerahan, kemudian uap brom yang coklat kemerahan menyertai hidrogen
bromida (berasap dalam udara lembap) yang dilepaskan:
b. mangan dioksida dan asam sulfat pekat.
Bila campuran suatu bromida padat. Mangan dioksida produk pengendapan, asam
sulfat pekat dipanaskan, uap brom yang coklat-kemerahan dilepaskan.
c. Larutan perak nitrat. Endapan seperti
dadih yang bewarna kuning-pucat, perak bromida, AgBr, yang sangat sedikit larut
dalam larutan amonia encer, tetapi mudah larut dalam larutan amonia pekat.
d. Larutan timbel asetat. Endapan kristalin
putih timbel bromida
e. Air klor. Dengan air klor berlebihan, brom
diubah menjadi brom monoklorida yang kuning, atau menjadi asam hipobromit, atau
bromat yang tak berwarna, serta dihasilkan larutan yang kuning-pucat atau tak
berwarna.
f. Kalium dikromat dan asam sulfat pekat.
Larutan ini tak memberi reaksi kromat dengan asam sulfat encer, hidrogen
peroksida dan amil alkohol, atau dengan reagensia difenil karbazida (perbedaan
dari klorida).
g. Asam nitrat. Asam nitrat yang cukup pekat
(1:1) dan panas, mengoksidasikan bromida menjadi brom.
h. Uji fluoresin. Brom bebas mengubah zat
warna fluoresin(I) yang kuning menjadi eosin(I) atau tetrabromofluoresin yang
merah.
i.
Uji
fuksin (atau magenta). Zat pewarna fuksin membentuk suatu senyawa adisi.
5. Fluorida, F-
Kelarutan
fluorida dari logam alkali yang umum dan dari perak, merkurium, aluminium, dan
nikel, mudah larut dalam air, sedangkan fluorida dari timbel, tembaga,
besi(III), barium dan litium larut sedikit, dan fluorida dari logam alkali
tanah lainnya tidak larut alam air.
a. asam sulfat pekat. Padat, gas hidrogen fluorida,
H2F2, yang tak berwarna an korosif dilepaskan dengan
memanaskan. Ini merupakan suatu produk penguraian silikon tetrafluorida.
b. Uji etsa. Uji ini boleh dilakukan dalam
kapsul timbel yang kecil, yang diberi tutup yang menutup rapat terbuat dari kertas
timbel.
c. Larutan perak nitrat. Tak ada endapan,
karena perak fluorida larut dalam air.
d. Larutan kalsium klorida: endapan kalsium
klorida, CaF2, yang putih dan seperti lendir, yang sedikit larut
dalam asam asetat, tetapi sedikit lebih larut dalam asam klorida encer.
e. Larutan besi(III) klorida. Endapan putih
kristalin natrium heksafluoroferat(III) dari larutan-larutan fluorida yang
pekat, yang larut sangat sedikit dalam air. Endapan ini tak memberi reaksi
besi, kecuali setelah diasamkan.
f. Uji bubuk pewarna zirkonium-alizarin.
6. Nitrat, NO-3
Semua nitrat
larut dalam air. Nitrat dari merkurium dan bismut menghasilkan garam basa
setelah diolah dengan air, garam-garam ini larut dalam asam nitrat encer.
a. asam sulfat pekat:
b. asam sulfat pekat dan serutan tembaga yang
mengkilat
c. larutan besi(II) sulfat dan asam sulfat
pekat (uji cincin coklat). Cincin coklat ini disebabkan oleh pembentukan
[Fe(NO)]2+. Setelah campuran dikocok dan dipanaskan, warna coklat
ini hilang, nitrogen(II) oksida dilepaskan, dan tinggallah larutan ion
besi(III) yang kuning.
d. Reduksi nitrat dalam suasana basa. Ion-ion
amonium, sudah tentu harus dihilangkan dengan mendidihkan larutan dengan
larutan natrium hidroksida (dan, lebih baik, menguapkan sampai hampir kering)
sebelum penambahan logam itu.
e. Reagensia difenilamina (C6H5.NH.
C6H5). Uji ini merupakan uji yang sangat peka, tatapi
sayangnya, juga memberi hasil yang positif dengan sejumlah zat pengoksid,
seperti garam-garam nitrat.
f. Reagensia nitron
(difenil-endo-anilo-dihidrotriazol C20H16N4)
g. Kerja oleh panas. Hasilnya berbeda-beda
tergantung pada logamnya.
h. Uji reduksi menjadi nitrit.
Daftar Pustaka
Setiono,
L. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik
Kualitatif Makro dan Semimikro,Penerbit PT. Kalman Madia Pustaka, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar