Translate

Jumat, 15 November 2013

DALIHAN NATOLU

PENDAHULUAN

Dalihan Na Tolu adalah filosofis atau wawasan sosial-kulturan yang menyangkut masyarakat dan budaya Batak.  Dalihan Na Tolu menjadi kerangka yang meliputi hubungan-hubungan kerabat darah dan hubungan perkawinan yang mempertalikan satu kelompok. Dalam adat batak, Dalihan Na Tolu ditentukan dengan adanya tiga kedudukan fungsional sebagai suatu konstruksi sosial yang terdiri dari tiga hal yang menjadi dasar bersama. Ketiga tungku tersebut adalah:
  • Pertama, Somba Marhulahula/semba/hormat kepada keluarga pihak Istri.
  • Kedua, Elek Marboru (sikap membujuk/mengayomi wanita)
  • Ketiga, Manat Mardongan Tubu (bersikap hati-hati kepada teman semarga
PEMBAHASAN

A.    Latar Belakang Pemakaian Istilah ‘Dalihan Na Tolu”
Dalihan Na Tolu artinya tungku yang berkaki tiga, bukan berkaki empat atau lima. Tungku yang berkaki tiga sangat membutuhkan keseimbangan yang mutlak. Jika satu dari ketiga kaki tersebut rusak, maka tungku tidak dapat digunakan. Kalau kaki lima, jika satu kaki rusak masih dapat digunakan dengan sedikit penyesuaian meletakkan beban, begitu juga dengan tungku berkaki empat. Tetapi untuk tungku berkaki tiga, itu tidak mungkin terjadi. Inilah yang dipilih leluhur suku Batak sebagai falsafah hidup dalam tatanan kekerabatan antara sesama yang bersaudara, dengan hula-hula dan boru. Perlu keseimbangan yang absolut dalam tatanan hidup antara tiga unsur. Untuk menjaga keseimbangan tersebut kita harus menyadari bahwa semua orang akan pernah menjadi hula-hula (mora), pernah menjadi boru (Anak Boru), dan pernah menjadi dongan tubu (Kahanggi).

B.     Dalihan Na Tolu
Yang dimaksud dengan Dalihan Na Tolu atau secara harfiah “Tungku yang tiga” adalah satu lembaga adat kemasyarakatan Tapanuli Selatan yang merupakan satu kesatuan dari Suhut (Kahanggi), Anak Boru dan Mora.[1] Dalihan Na Tolu menjadi simbol tiga kelompok masyarakat adat yang saling bekerja sama dalam menyelesaikan semua urusan. Segala beban dipikul bersama. Ini adalah simbol gotong royong, kebersamaan, hak dan kewajiban, tenggang rasa, kasih sayang, holong, sehingga kekerabatan tetap terpelihara dengan baik.
Dalihan adalah tiga batu yang diletakkan pada posisi segi tiga dengan jarak dan tinggi yang sama. Tiga batu itu diletakkan atau ditanam dengan jarak yang sama di tengah-tengah tataring sebagai tungku penyangga periuk ketika memasak. Jarak antara permukaan tataring di tengah-tengah tungku yang tiga itu dengan dasar periuk atau kuali antara 15 sampai dengan 20 cm. [2]

C.    Unsur Dalihan Na Tolu
1.      Kahanggi/Suhut
Kahanggi adalah satu kelompok kerabat satu marga. Mereka ini termasuk dalam salah satu kelompok kerabat dari tiga unsur Dalihan Na Tolu. Istilah-istilah lain yang menyangkut kerabat kahanggi ini adalah antara lain: saama saina, marangka maranggi, saama, saompu, saparamaan, saparompuan, sabona, atau sahaturunan.[3]
Kalau dilihat dari hubungan darah suhut adalah pihak sipengambil Anak gadis dari mora. Suhut selalu ditemani kawan sepengambilan yang disebut “pareban” dimana fungsinya mereka sama dengan kerabat dekat tapi gilirannya setelah kerabat dekat habis berbicara.[4] Kahanggi adalah salah satunya yang bertanggung jawab baik dari segi moral dan material dalam upacara adat.
2.      Anak Boru
Unsur kedua Dalihan Na Tolu adalah Anak boru (wife taker), yaitu kelompok kerabat yang mengambil istri dari kerabat mora. Kelompok kerabat pengambil boru ini sangat loyal kepada keluarga pihak istrinya, yaitu moranya.
Julukan kepada Anak boru itu antara lain:
a)      Na gogo manjunjung, maknanya Anak boru ini senantiasa berdaya upaya menjunjung mora- nya agar terpandang, berbahagia, kaya.
b)      Na juljul tu jolo, maknanya Anak boru sebagai pendukung mora senantiasa di berada depan merintis jalan, menghilangkan segala rintangan di jalan yang hendak dilalui mora.
c)      Na torjak tu pudi, artinya menopang atau menyangga belakang mora. Apabila mora mengalami kesulitan dan hendak mundur dalam melakukan sesuatu, maka Anak boru segera tampil di belakang untuk menolongnya agar cita-cita mora itu berhasil.
d)     Tungkot di Na landit, maknanya adalah tungkot, tongkat, berguna kalau berjalan ditempat yang licin sebagai penopang badan agar tidak terjatuh.[5]
Anak boru adalah kelompok keluarga dari “Namboru-ayah”; kelompok keluarga dari “iboto” ayah; kelompok keluarga dari “iboto”, keluarga dari boru (Anak Perempuan). Golongan Anak boru tidak tergolong dalam satu marga saja.[6] Anak boru disebut juga “sisuruon” yang disuruh-suruh oleh mora.
3.      Mora/Hula-hula
Mora merupakan matahari yang tak dapat ditentang dan bagaikan jurang yang tak dapat di tukik, artinya mora harus betul-betul dihormati atau yang disebut “Hormat Tu Mora”. Karena mora inilah tempat kita minta tutur, minta bimbingan, minta petuah, minta Nasihat yang baik dan berguna bagi kita. Oleh karena itu, mora harus dimuliakan, dijunjung tinggi dan disegani.[7]
Mora adalah kelompok keluarga dari nenek perempuan, keluarga ibu, keluarga isteri dan keluarga parumaen (istri Anak). Golongan mora tidak tergolong dalam satu marga saja. Mora bisa bertingkat-tingkat, yaitu:
a)      Mora pengambilan istri ataupun mora pengambilan boru
Mora ini baru satu kali memberikan Anak gadisnya kepihak Anakboru. Kalau dalam pergaulan kelompok mora dialah tingkatan yang terakhir, walaupun dalam prakteknya sering dikedepankan.


b)      Mora Ulubondar Naso Hasop-sopan
Mora ulubondar adalah keluarga pangkal ibu kita. Kalau digelanggang paradaton harus ditunjukkan bahwa hormat kita melebihi menghadapi mora ini dibanding mora pengambilan istri kita.[8]
Ada dua bentuk tingkatan mora dalam persidangan upacara adat, yaitu:[9]
a)      Mora Parutangan Boli
Pihak mora ini dan mereka satu nenek (saparompuan) atau satu hariman, tidak wajar hadir pada upacara persidangan Anak boru, yaitu:
1)      Sidang marpege-pege
2)      Sidang mangupa di na haroan boru
b)      Mora dongan satahi
Mora ini, ada juga yang menyebut mora ama. Tutur mora timbul bukan karena hubungan perkawinan yang sangat dekat. Cuma menurut jalur hubungan keluarga dari berbagai pihak dalam hubungan kekeluargaan masyarakat kita harus memanggil mora. Kalau ini boleh hadir dalam upacara marpege-pege, mangupa di Na haroan boru.

D.    Kedudukan Unsur Dalihan Na Tolu Sama Tinggi
Kedudukan Dalian Na Tolu dapat digambarkan dalam rangkaian segi tiga sama sisi, sebagai berikut:[10]










KAHANGGI
 

ANAK BORU
 
 






Dalam lingkungan segi tiga sama sisi inilah orang banyak bergaul dalam kekeluargaan dan kemasyarakatannya. Adanya salah satu dari sisi atau Dalihan Na Tolu (tungku) yang tiga ini lebih tinggi atau lebih rendah akan berarti pincang.[11]
Kedudukan unsur Dalihan Na Tolu pada hakikatnya sama tinggi dengan alasan-alasan sebagai berikut:[12]
1.      Kalau membuat satu keputusan suhut, Anak boru, dan mora harus hadir dengan hak suara yang sama.
2.      Dalihan Na Tolu secara harfiah adalah 3 batu yang sama tinggi yang digunakan tumpuan penjerangan untuk memasak. Semua yang dimasak kalau tidak datar tumpuannya yang tiga akan tumpah yang dimasak.
3.      Giliran mora, Anak boru dengan suhut berganti-ganti laksana mandi di pancuran bergiliran.
4.      Anak boru memberi kata putus, kalau ada satu permasalahan di antara suhut, diupayakan di damaikan oleh mereka yang bersaudara kandung ataupun familinya.
5.      Dalam hal mengahadapi kesulitan pihak suhut, penyelesaian biaya pesta adat selalu di atasi mora bersama Anak boru dimana:
1/3 pembiayaan ditanggung suhut
1/3 dipikulkan kepada kelompok mora
1/3 dibebankan kepada kelompok Anak boru.

E.     Keharmonisan Dalihan Na Tolu
Ketertiban hubungan tiga unsur Dalihan Na Tolu dijaga dan dipelihara. Keharmonisan antar unsur berlangsung atas dasar keseimbangan yang serasi antara hak dan kewajiban. Ada tiga Nasihat penting yang dipegang teguh oleh orang batak agar keharmonisan hubungan antar unsur Dalihan Na Tolu tetap terpelihara. Ketiga Nasihat itu adalah:[13]
1.      Manat Markahanggi
Manat artinya teliti, hati-hati, bertenggang rasa, dan sabar. Sikap dan perilaku ini mutlak diperlukan dalam pergaulan sehari-hari. Potensi konflik dalam kalangan kerabat sakahanggi jauh lebih besar jika dibandingkan dengan potensi konflik dengan Anak boru dan mora.
2.      Elek Maranak Boru
Elek artinya pandai mengambil hati “malo membuat roha” agar yang diambil hatinya senantiasa baik dan setia. Elek Maranak boru bermakna agar mora pandai menyenangkan hati Anak borunya. Ini penting sekali, karena Anak boru adalah tulang punggung, soko guru bagi segala peristiwa adat dikalangkan kerabat mora. Apabila Anak boru mogok, pastilah horja di kerabat mora akan gagal.
3.      Somba Marmora
Mora dipandang sebagai sumber kehidupan, kesejahteraan lahir dan batin bagi Anak boru, antara lain karena mora telah memberikan gadis mereka kepada Anak boru yang kemudian melahirkan keturunan Anak bioru. Mora memiliki sahala yang ditebarkannya kepada Anak boru antara lain dengan pemberkatan ketika pahoras tondi dan menyulangi Anak boru.

F.     Lembaga Dalihan Na Tolu
Di Tapanuli telah diterbitkan Perda No. 10 tahun 1990 tentang Lembaga Adat Dalihan Na Tolu, yaitu suatu lembaga adat yang dibentuk Pemda Tingkat II, sebagai lembaga musyawarah yang mengikutsertakan para penatua adat yang benar-benar memahami, menguasai dan menghayati adat istiadat di lingkungannya. (Pasal 5 dan 8 Perda No. 10 Tahun 1990).
Lembaga ini memiliki tugas untuk melaksanakan berbagai usaha/kegiatan dalam rangka menggali, memelihara, melestarikan dan mengembangkan kebudayaan daerah termasuk di dalamnya adat-istiadat dan kesenian untuk tujuan pembangunan dan sifatnya konsultatif terhadap pemerintah. (Pasal 6 Perda No. 10 Tahun 1990). Lembaga Dalihan Na Tolu adalah lembaga permusyawaratan/pemufakatan adat Batak yang dibentuk berdasarkan peranan adat istiadat, kebudayaan, kesenian daerah, gotong royong dan kekeluargaan.(Pasal 1 h Perda No. 10 Tahun 1990). Lembaga ini berkedudukan di tempat Desa/Kelurahan/Kecamatandan tingkat Kabupaten (Pasal 5 dan 7 Perda No. 10 Tahun 1990).
Keanggotaan dan kepengurusan Lembaga Adat Dalihan Na Tolu adalah para Penatua Adat yang benar memahami, menguasai dan menghayati adat istiadat. Selain itu, jelas bahwa anggota dan pengurus harus setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.[14]

G.    Dalihan Na Tolu Dalam Kekerabatan dan Religi
Secara umum yang termasuk anggota kerabat ialah keluarga batih (ayah, ibu dan Anak-Anak), kakek, nenek, saudara ayah dan saudara ibu. Tetapi sesungguhnya anggota kerabat orang Tapanuli Selatan diikat oleh hubungan darah. Keluasan hubungan kekerabatan ini dimungkinkan oleh sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu yang secara jelas membuka hubungan kekerabatan dengan keluarga lain diluar ikatan darah yang disebabakan oleh pernikahan.[15]
Marga merupakan identitas dan Dalihan Na Tolu merupakan sistem kekerabatan dan islam sebagai tuntunan hidup juga dijadikan sebagai dasar persaudaraan (ukhuwwah islamiyah). Ungkapan tradisional yang disampaikan dalam berbagai upacara kelahiran, pernikahan, memasuki rumah baru, memberangkatkan kerabat yang hendak pergi merantau dan lain-lain. Ayat-ayat Al-Qur’an dan sunnah mendominasi kata-kata mereka. Mereka mengawali dan mengakhiri pembicaraan dengan mengucapkan “Assalamu’alaikum warahmatullah wa barokatuh”.
Ungkapan pertama menunjukkan posisi mora yang di dalam religi tradisional diperlakukan sebagai wakil Tuhan sebagai “debata na tarida”, namun sekarang tidak lagi. Karena segala sesuatu Tuhanlah yang menetukan. Ungkapan kedua menggambarkan bahwa raja yang didalam hal ini adalah juga dalam kedudukan mora yang diberkati Tuhan. Jadi raja bukan lagi pemberkat, karena dia sendiri diberkati Tuhan. Ungkapan ketiga menggambarkkan persembahan yang disediakan untuk memberkati semangat dan kesehatan jasmani.[16]
  
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dalihan na tolu secara harfiah diartikan sebagai tungku yang terdiri dari tiga penyangga. Secara etimologi berarti merupakan suatu tumpuan yang komponen (unsur) nya terdiri dari 3 (tiga). Ketiga komponen ini disusun dengan besar, tinggi dan jarak yang sama sehingga mempunyai keseimbangan dan saling menopang.
Dalihan na tolu juga berfungsi menentukan kedudukan, hak dan kewajiban masyarakat. Fungsi dari ketiga unsur diuraikan seperti dibawah ini;
Pertama, hula-hula berfungsi untuk memberikan petuah, nasihat, bahkan diyakini sebagai pemberi berkat. Hula-hula ini berkedudukan lebih terhormat dari unsur yang lain
Kedua, dongan tubu atau dongan sabutuha berfungsi sebagai tuan rumah yang menyediakan bukan melayani keperluan kegiatan atau acara.
Ketiga, boru berperan sebagai pelayan (parhobas) dalam acara adat maupun acara lainnya (misalnya, gotong-royong).


[1] Syahmerdan Lubis, Adat Hangoluan Mandailing: Tapanuli selatan, Cet. I, hal. 91.
[2] Basyral Hamidy Harahap, Siala Sampagul: Nilai-nilai Luhur Budaya Masyarakat Kota Padangsidimpuan, Cet. I, Padangsidimpuan: Pemerintah Kota Padangsidimpuan, 2004, hal. 23.
[3] Parsadaan Marga Harahap Dohot Anak Boruna, Horja: Adat Istiadat Dalihkan Na Tolu, Jakarta: 1993, hal. 98.
[4] Syahmerdan Lubis, Loc-Cit.
[5] Parsadaan Marga Harahap Dohot Anak Boruna, Op-Cit., hal. 99.
[6] Binanga Siregar dan Nursiti Nasution, Dari Desa (Bonabulu) ke Gedung Konstituante, hal. 15.
[7] G. Siregar Baumi, Partuturon: Cara Bertutur Sopan Santun Menurut Adat Tapanuli Selatan, Padangsidimpuan, 1990, hal. 23.
[8] Syahmerdan Lubis, Op-Cit., hal. 93.
[9] G. Siregar Baumi, Op-Cit., hal. 24.
[10] Sutan Tinggibarani, Tutur Poda, Padangsidimpuan, 2009, hal. 8.
[11] Binanga Siregar dan Nursiti Nasution, Op-Cit., hal. 19.
[12] Syahmerdan Lubis, Op-Cit., hal. 103-107.
[13] Parsadaan Marga Harahap Dohot Anak Boruna, Op-Cit., hal. 102-103.
[14] http://id.wikipedia.org/wiki/Dalihan_Na_Tolu,  (dikutip: selasa, 24-09-2013, 17:34 wib)
[15] Basyral Hamidy Harahap, Op-Cit., hal. 34.
[16] Ibid., hal. 44.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar