PENDAHULUAN
Kain Ulos telah menjadi bagian kebudayaan masyarakat
Batak, Ulos adalah
kain tenun khas Batak berbentuk selendang. Benda sakral ini merupakan simbol
restu, kasih sayang dan persatuan, sesuai dengan pepatah Batak yang berbunyi:
“Ijuk pangihot ni hodong, Ulos pangihot ni holong", yang artinya jika ijuk
adalah pengikat pelepah pada batangnya maka ulos adalah pengikat kasih sayang
yang terasa sama.
Ulos berarti selimut yang
menghangatkan tubuh dan melindunginya dari terpaan udara dingin. Menurut
kepercayaan leluhur suku Batak ada tiga sumber yang memberi panas kepada manusia,
yaitu matahari, api dan ulos. Dari ketiga sumber kehangatan tersebut ulos
dianggap paling nyaman dan akrab dengan kehidupan sehari-hari.
Jadi dalam pembahasan kami adalah
mengenai makna pemberian parompa sadun dan ulos batak.
A.Pengertian Ulos Batak Dan Parompa Sadun
Ulos Batak adalah kain tenun khas Batak
berbentuk selendang, yang melambangkan ikatan kasih sayang antara anak dan
orang tua dan anak-anaknya atau antara seseorang dan orang lain.[1] bentuknya
menyerupai selendang dengan panjang sekitar 1,8 meter dan lebar 1 meter, kedua
ujungnya berjuntai-juntai dengan panjang sekitar 15 cm dan pembuatan Ulos
dilakukan oleh kaum perempuan. Ulos
batak ini menghangatkan badan. Parompa Sadun biasanya diucapkan paroppa adalah
kain tenun tradisional sub suku Batak Angkola. Kain ini berukuran kurang lebih
100 × 200 cm, dihiasi dengan manik-manik
dan rumbai di ujung kain, dan tenunan motif khas. Kadang-kadang di sertai
inkripsi sesuai dengan pesanan. Paroppa dimaksudkan sebagai kain gendong,
meskipun tidak dipakai sehari-hari,
karena yang di pakai tiap hari untuk menggendong tetap kain panjang.[2] Kain
adat ini diberikan oleh orang tua seorang wanita yang baru di anugrahi anak
pertama, baik bayi lelaki atau perempuan, tetapi jika anak pertama adalah
perempuan biasanya akan di berikan lagi jika adik lelaki pertama lahir, tapi
bila anak pertama lelaki, adik perempuannya tidak di beri lagi.
Dalam adat batak seringkali kita
mendengar “mengulosi”. Mangulosi artinya memberikan ulos, memberikan kehangatan
dan berkat. Dalam hal mangulosi, ada aturan yang harus di taati, yakni hanya
yang di tuakan yang bisa memberikan ulos,
Menurut tata cara adat Batak,
setiap orang akan menerima minimun tiga macam ulos sejak lahir hingga
meninggal, hal ini disebut ulos “namarsintuhu” (ulos keharusan). Yaitu:
1.
Ketika
seorang anak lahir, dia akan menerima ulos “parompa” dahulu di kenal sebagai
ulos “paralo-olo tondi”
2.
Diterima
pada waktu memasuki ambang pernikahan disebut ulos “marjabu” bagu kedua
pengantin (saat ini disebut sewaktu ulos hula)
3.
Ulos
yang diterima sewaktu meninggal dunia disebut ulos “saput”[3]
B.Sejarah
Dalam Ulos Batak Dan Parompa Sadun
Sejak zaman dulu, nenek moyang kita sudah
memiliki suatu budaya tenun. Keinikan desain yang diciptakan nenek moyang kita
pada itu adalah kemampuan suatu karya yang mencerminkan unsur-unsur yang erat
hubungannya dengan unsur kepercayaan, pemujaan kepada leluhur dan memuja
keagungan alam. Semua itu tersimpul pada liku-liku benang, warna benang dan
tarikan garis jalur benang yang menghiasi sebuah kain atau ulos hasil tenunan.
Salah satu tempat pembuatan kain ulos di Pulau Samosir
adalah Desa Perbaba. Para traveler juga bisamencoba pembuatan kain ulos dengan
alat-alat tradisional di sini. Jika Salah satu tempat untuk melihat pembuatan
kain ulos adalah di Pulau Samosir, yang berada ditengah-tengah Danau Toba. Anda
dapat melihat keindahan Danau Toba sekaligus mempelajari pembuatan kain
ulos. Di sana juga terdapat banyak toko cindera mata yang menjual kain ulos sebagai
oleh-oleh. Di Pulau Samosir, banyak terdapat pengrajin kain ulos yang memakai
alat-alat tradisional. Para pengrajin dari Pulau Samosir sudah terkenal
dengan keahliannya membuat diperhatikan.
Beberapa
jenis ulos di antaranya sibolang,ragihotang, mangiring, sadum dan lain-lain.
Harga kain ulos berkisar dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Hal
tersebut tergantung dari jenis, motif dan bahannya.Menurut kepercayaan suku
Batak, terdapat 3 sumber kehangatan yaitu matahari, api, dan kain ulos. Suku
Batak kebanyakan tinggal di bukit yang dingin, selain matahari, ulos juga
menjadi sumber kehangatan bagi mereka. Kain ulos memiliki peranan penting di
kehidupan Masyarakat Batak. Selain dipakai dalam kegiatan sehari-hari, kain
ulos juga digunakan dalam acara-acara besar seperti pernikahan, kelahiran
dan upacara kematian.Kain ulos memiliki keistimewaan tersendiri di masyarakat
batak.[4]
Pembuatan
benang dari kapas denga jalan “Manorha” dan menenunnya menjadi kain dengan
jalan “Martonun”. Warna yang pada awalnya lebih dominan digunakan adalah tiga
warna. Yaitu warna putih berarti suci di pakai untuk pihak adaboru atau
keluarga suami., Warna Merah berarti ,
dan di pakai oleh pihak donagn tubu atau keluarga semarga dan warna hitam
berarti kuat, teguh dan kokoh,di pakai untuk hula-hula yaitu pihak keluarga
wanita.[5] Proses pewarnaan saat ini sudah di lakukan
dengan cara sintetik dan cara alami menggunakan sari daun-daunan. Belakangan
ini selain merupakan warisan budaya yang perlu dilestarikan, ulos batak juga
sudah banyak mengalami perubahan karena inovasi dalam peningkatan proses
produksi yang menyangkut proses pewarnaan maupun desain yang digunakan.
Namun demikian, makna sakral yang
tersirat di dalam Ulos Batak tetap di pertahankan terutama dalam upacara adat
Batak. Ulos Batak pun ternyata memiliki nilai artistik yang khas dan telah
memasuki pasaran hingga memiliki niliai ekonmi yang semakin tinggi. Ulos Batak
saat ini peruntuknya bukan hanya berfungsi dalam kegiatan budaya masyarakat
Batak.[6]
C.Corak
Motif Ulos Batak Pada parompa Sadun[7]
1. Rambu-rambu
Diperlambang
dengan rambu-rambu yang mengikuti badan kain tempat bergantungan. Melambai
kesana kemari, atas kehendak dari badan kain. Di ibaratkan dengan rakyat banyak
yang mempunyai pimpinan yang tertur dan berdisiplin. Dengan peraturan dan tata
tertib, serta cara hidup derdasarkan
Adat Istiadat yang sudah di susun Nenek Moyang. Bergerak dan bertindak sesuai
dengan cara hidup yang telah digairahkan agar selamat sejahtera aman dan damai.
2. Simata
Diperlambangkan
dengan manik-manik yang terang dan
cerah, seperti anak biji mata. Untuk hati-hati melihat dengan terang segala susunan dan corak yang terjadi
dalam kehidupan manusia. Berbagai macam yang harus diperhatikan, dihadapi,
ditempuh dan dialami. Oleh karena itu, harus hati-hati dan waspada, Seperti apa
yang disebut dalam adat”Mata Guru Roha Sisean.
3. Lus-lus
Melambangkan
keindahan dan kehormonisan dimana harus sejalan dan searah serta satu derap langkah. Jesatuan dan persatuan
adalah penting untuk memepertinggi harkat kemanusiaan untuk memperoleh
kemuliaan, memepertinggi harga diri dan pandangan hidup. Ibarat suami istri,
bila se-ia-sekata, rukun dan damai. Sudah tentu keharmonisan ini, memberikan
pandangan nilai martabat yang tinggi.
4. Pusuk Rabung
Diperlambangkan
dengan pucuk/kuncup anak bambu yang baru tumbuh (robung) dia akan cepat besar
dan menjulang keangkasa. Setelah dia cukup tinggi, ranting dan daun akan tumbuh
semerbak daunnya akan melindungi yang di bawah, ujung atau pucuknya akan
melengkung kembali kepohon atau akarnya. Seakan-akan ia tidak melupakan
asalnya, dan melindungi anak-anaknya yang tumbuh berikutnya.[8]
5. Tutup Mumbang
Diperlambangkan dengan bunga
kelapa jika dia selamat lanjut usia, lama hidup, besar menjadi buah kelapa.
Yang banyak manfaat untuk berbagai macam makanan. Semakin tua semakin
berminyak. Jika ia jatuh sebelum menjadi buah.
6. Iran-iran
Diperlambangkan
dengan bunga yang bertaburan, masing-masing mempunyai ciri khas, warna dan
bentuk tersendiri. Manusia yang banyak sudah barang tentu, masing-masing
mempunyai watak yang berbeda, dan tingkah laku tersendiri. Untuk itu harus
melihat ada batasan.
7. Ruang
Melambangkan
corak ruang besar, dengan berbagai macam warna, merupakan sisik ular yang bertuah, yang biasa disebut “Ulok
Siraganding Tua”. Ruang adalag suatu lobang atau pintu yang besar, Bila dilalui
mungkin mendapat kebahagiaan, atau sebaliknya mungkin mendapat kebahagiaan,
atau sebaliknya mungkin berkurang dalam
penderitaan, atau berbagai macam penanggungan hidip.
8. Sijobang
Diperlambnagkan
dengan bulu burung Uwo yang indah cantik dan rapi, tumbuh secara alamiah.
Burung ini jaranga di temukan serta indranya sangat tajam. Ia mempunyai
kebiasaan menggelupur-gelupur dan berkais di tanah. Merupakan ge;anggang
baginya. Tempat ini selalu di bersihkannya dari apa saja. Orang sangat suka
untuk menangkapnya, tetapi sulit untuk memperolehnya.
9. Singap
Diperlambangkan
dengan penampang atap rumah bahagian depan. Yang di sebut bong-bong ari “alo
angin). Jenis apa saja yang bertiup
harus di hadapi baik siang maupun malam. Tabah dan tenang harus berani
dan sanggup menghadapi Segala tantangan
dalam kehidupan. Berdiri diatas kaki sendiri, ketimbng mundur atau oleng, lebuh
rubuh atau hancur rumah saya adalah milik saya, rumah saya adalah istana saya.
Semua orang atau tamu harus tunduk atau patuh kepada peraturan rumah tangga
saya. Dimana tanah di pijak di situ langit dijinjung.
10. Surat
“HORAS
MEMASUKI “
Dimana pada bagian ini, terdapat berbagai macam
bunyi surat bagus artinya, dimana pada bahagian ini terdapat berbagai macam
surat, yang nagus artinya, atau nama orang yang menjadi pemilikinya.
11. Bunga
Diperlambangkan dengan bunga ros yang cantik, yang selalu indah dipandang
mata, dicintai dan di sukai setiap orang. Cantik dan keharuman sesuatu bunga,
diperlambangkan manusia sejak kecil sampai akhir hayatnya. Untuk harus selalu
berbuat baik dan berbudi luhur, sebagi penghias diri yang di kenang orang
sepanjang hidup. “Bagaikan sekumtum bunga bunga yang tumbuh mekar, dan harum
semerbak”. Semua orang menyukai bunga, maka berusahalah seperti bunga. Semua
orang menyukai dan ingin memilikinya.
12. Badan
Diperlambangkan
dengan taburan iran-iran yang bertumpuk-tumpuk. Menginginkan keturunan yang
banyak, yang baik-baik dan berguna, berkelompok-lompok, dapat bersatu dan
bekerja sama agar dapat membangun kerajaan dan
dimana banyak menyebar.[9]
D.
Dasar Warna Benag Batak Pada Parompa Sadun yaitu:
1. Putih melambangkan kesucian dan kejujuran
2. Merah melambangkan kepahlawanan dan keberanian
3. Kuning melambangkan kaya/kesuburan
4. Hitam melambangkan duka.
E. Fungsi Kain Adat
Kain
Adat banyak ragamannya, di antaranya yang mempunyai nilai yang paling tinggi
ada 2 (dua):
1.
Abit
Batak, Abit Godang, atau Ulos Godang, adalah tenunan masyarkat, yang mempunyai
fungsi Adat, di daerah Tapanuli Selatan. Yang terkenal dengan namajulukan
“Tonunan Ni Boru Regar Sipirok”. Terkenal sejak dahulu sampai sekarang. Kain
adat yang di hormati dan di hargai penggunaannya, mempunyai nilai kebesaran dan
kemuliaan dalam upacara Adat. Mempunyai ragam corak warna dan bunga, atau
gambaran-gambaran yang mengandung arti falsafah khas Adat. Dipergunakan dalam
Upacara Adat, baik dalam waktu siluluton (duka cita), maupun sirion (suka cita)
Fungsi Abit Batak antara lain:
a.
Sabe-sabe
(selendang) waktu manortor.
b.
Ulos
ni Tondi, yang diberikan Mora kepada
Anak Boru, sewaktu pereamian memasuki rumah baru pihak Anak Boru.
c.
Ulos
Si pir Ni Tondi, yaitu selimut kayu bubungan atas (ulos ni bungkulan si raja ni
hayu, sewaktu manaekkon bungkulan ni bagas), sewaktu mendirikan rumah baru.
d.
Abit
Godang yang diberikan orang tua kepada ptri (barang bawaan), sewaktu peresmian
perkawinan.
e.
Selimut
Hombung (peti mayat), sewaktu hemdak mau
di arak atau diagung ke pemakaman.
f.
Selimut
atau tali pengiring kerbau, yang di berikan sebagai membangun bantuan kepada
Adat.
g.
Penutup/ulos
hidangan pengupa.
Dan
adapula yang berpendapat dibeberapa daerah, bahwa bila abit batak diberikan
kepada anak putri sewaktu peresmian perkawinannya. Berarti pihak orang tua
siputri, mendesak agar pihak orang tua si lelaki mengadakan upacara Horja
Godang Mangupa Di NaHaroan Boru untuk menyambut kedatangan anak putrinya.
Sehingga ada sebahagian orang tua pengantin laki-laki bila tidak sanngup
manggondang (mengadakan Horja), mereka tidak mau menerima Abit Batak tersebut
buat sementara.[10]
2.
Parompa
Sadun atau Panjangki Natogu.
Parompa
Sadun Adalah kain penggendong anak yang
baru lahir, yang diberikan oleh pihak Mora. Ini merupakan utang adat sangat
penting dari fihak Mora kepada Anak Boru. Apalagi anak yang baru lahir itu
merupakan anak pertama. Maka bila ada horja adat, inilah dipakai sebagai kain
penggendong anak.
Apalagi
daganak panggoaran, jadi utang sagodang parompa/panjagit sian morana (ompung
sang tulang).
Cara
ni na manjagit panjagit on adong dua macam :
1.
Dialap
tu bagas ni mora
2.
Ditaruhon
mora tu bagas ni anak boru
Cara
penyerahan ni Panjagit on adong muse dua macam :
1.
Mambuat
disangkotan
2.
Dipasahat
digokkon di jolo ni Raja-Raja.
Muda
namanbuat boru disangkotan, nada pola on ditahihon dijolo harojaon/hatobangon,
dohot landasan upa-upa ni on pe manuk do. Muda di pasahat di gobakkon di jolo
ni Raja-Raja angkon ditahihonon dohot landasanna pe sekurang-kurangna
pangkupangi (hambeng).
Panjangki
on ima parompa SADUN, di waktu mangalehen on, dopei koum-koum na marsilehen
pakean-pakean ni daganak i, selendang dohot nalain-lain, napatidahon godang ni
roha. Halak naso tola pake parompa Sadun.[11]
Dalam
upacara pemberian kain adat ini desebut Mangalehen Parompa. Kain adat ini di
selempangkan di bahu kedua orang tua bayi, seolah-olah di pakai untuk
menggendong. Pada waktu upacar seperti acara adat batak lainnya hadir
piha-pihak yang disebut dengan dalihan natolu, yaitu pihak dari keluarga suami
(kahangg/Dongan tubui), keluarga dari pihak istri (Mora/Hula-hula) dan keluarga
dari pihak saudara wanita suami (Anak
Boru).
Pemberian
kain ini disertai nasehat dan doa dari semua yang hadir secara bergantian agar
kelak anak yang baru dilahirkan akan menjadi anak yang berguna, yang merupakan
perwujudan rasa syukur keluarga besar akan kehadiran anggota keluarga baru.
Disinipun diberikan juga nasi pangupaan.
KESIMPULAN
Dengan hadirnya Makalah kami yang
singkat ini, mudah-mudahan dapat membantu para peminat budaya untuk bahan
pelajaran dan penelitian serta pengembangan, agar adat budaya semakin kuat
dalam masyarakat. Pemakalah berpendapat harus ada kemauan bersama untuk
memelihara Adat Budaya Tapanuli Selatan,
agar jangan ketinggalan dari adat budaya suku-suku lainnya ynag terdapat di
indonesia ini. Khususnya pada pembahasan makalah kami ini yang berjudul Makna
Dari Pemberian Ulos Batak Dan Parompa Sadun. Karena dalam pembahasan kami ini,
terkandung makna yang sangat berarti dalam kehidupan berbudaya. Yaitu mempunyai
makan agar dalam pemberian Ulos Batak Dan parompa Sadun ini,agar sehat jiwa da
raga. Dan juga memberikan kehangatan dan juga berkat. Dalam ulos ini juga
berfungsi memberi panas yang memyehatkan badan dan menyenangkan fikiran
sehingga kita gembira di buatnya.
[5]
http://sosbud.kompasiana.com/2013/03/24/mangulosi-dan-upa-upa-tradsi-adat-batak-penuh-makna-539838.html/23/09/2013/08.40wib
[7]
Sutan Tinggi Barani Perkasa Alam, Seni
Budaya Tradisional Tapsel, (Padangsidimpuan,1984). Hlm.46
[8]
Siregar Baumi, Kain Adat Sejarah Ornamen
Dan Fungsi,(Padangsidimpuan,1980). Hlm.9-12
[9]
Ibid, 13-24
[10]
Ibid.,hlm.26-27
[11]
Tinggi Barani Perkasa Alam DKK, Burangir
Na Hombang, (padangsidimpuan,1977). Hlm. 21-22
Tidak ada komentar:
Posting Komentar