Translate

Kamis, 21 November 2013

ULOS BATAK DAN PAROMPA SADUN




PENDAHULUAN
Kain Ulos telah menjadi bagian kebudayaan masyarakat Batak, Ulos adalah kain tenun khas Batak berbentuk selendang. Benda sakral ini merupakan simbol restu, kasih sayang dan persatuan, sesuai dengan pepatah Batak yang berbunyi: “Ijuk pangihot ni hodong, Ulos pangihot ni holong", yang artinya jika ijuk adalah pengikat pelepah pada batangnya maka ulos adalah pengikat kasih sayang yang terasa sama.
Ulos berarti selimut yang menghangatkan tubuh dan melindunginya dari terpaan udara dingin. Menurut kepercayaan leluhur suku Batak ada tiga sumber yang memberi panas kepada manusia, yaitu matahari, api dan ulos. Dari ketiga sumber kehangatan tersebut ulos dianggap paling nyaman dan akrab dengan kehidupan sehari-hari.
Jadi dalam pembahasan kami adalah mengenai makna pemberian parompa sadun dan ulos batak.


A.Pengertian Ulos Batak Dan Parompa Sadun
 Ulos Batak adalah kain tenun khas Batak berbentuk selendang, yang melambangkan ikatan kasih sayang antara anak dan orang tua dan anak-anaknya atau antara seseorang dan orang lain.[1] bentuknya menyerupai selendang dengan panjang sekitar 1,8 meter dan lebar 1 meter, kedua ujungnya berjuntai-juntai dengan panjang sekitar 15 cm dan pembuatan Ulos dilakukan oleh kaum perempuan. Ulos batak ini menghangatkan badan. Parompa Sadun biasanya diucapkan paroppa adalah kain tenun tradisional sub suku Batak Angkola. Kain ini berukuran kurang lebih 100 ×  200 cm, dihiasi dengan manik-manik dan rumbai di ujung kain, dan tenunan motif khas. Kadang-kadang di sertai inkripsi sesuai dengan pesanan. Paroppa dimaksudkan sebagai kain gendong, meskipun tidak dipakai sehari-hari,  karena yang di pakai tiap hari untuk menggendong tetap kain panjang.[2] Kain adat ini diberikan oleh orang tua seorang wanita yang baru di anugrahi anak pertama, baik bayi lelaki atau perempuan, tetapi jika anak pertama adalah perempuan biasanya akan di berikan lagi jika adik lelaki pertama lahir, tapi bila anak pertama lelaki, adik perempuannya tidak di beri lagi.
Dalam adat batak seringkali kita mendengar “mengulosi”. Mangulosi artinya memberikan ulos, memberikan kehangatan dan berkat. Dalam hal mangulosi, ada aturan yang harus di taati, yakni hanya yang di tuakan yang bisa memberikan ulos,
Menurut tata cara adat Batak, setiap orang akan menerima minimun tiga macam ulos sejak lahir hingga meninggal, hal ini disebut ulos “namarsintuhu” (ulos keharusan). Yaitu:
1.      Ketika seorang anak lahir, dia akan menerima ulos “parompa” dahulu di kenal sebagai ulos “paralo-olo tondi
2.      Diterima pada waktu memasuki ambang pernikahan disebut ulos “marjabu” bagu kedua pengantin (saat ini   disebut sewaktu ulos hula)
3.      Ulos yang diterima sewaktu meninggal dunia disebut ulos “saput[3]
B.Sejarah Dalam Ulos Batak Dan Parompa Sadun
            Sejak zaman dulu, nenek moyang kita sudah memiliki suatu budaya tenun. Keinikan desain yang diciptakan nenek moyang kita pada itu adalah kemampuan suatu karya yang mencerminkan unsur-unsur yang erat hubungannya dengan unsur kepercayaan, pemujaan kepada leluhur dan memuja keagungan alam. Semua itu tersimpul pada liku-liku benang, warna benang dan tarikan garis jalur benang yang menghiasi sebuah kain atau ulos hasil tenunan.
            Salah satu tempat pembuatan kain ulos di Pulau Samosir adalah Desa Perbaba. Para traveler juga bisamencoba pembuatan kain ulos dengan alat-alat tradisional di sini. Jika Salah satu tempat untuk melihat pembuatan kain ulos adalah di Pulau Samosir, yang berada ditengah-tengah Danau Toba. Anda dapat melihat keindahan Danau Toba sekaligus mempelajari pembuatan kain ulos. Di sana juga terdapat banyak toko cindera mata yang menjual kain ulos sebagai oleh-oleh. Di Pulau Samosir, banyak terdapat pengrajin kain ulos yang memakai alat-alat tradisional. Para pengrajin dari Pulau Samosir sudah terkenal dengan keahliannya membuat diperhatikan.
            Beberapa jenis ulos di antaranya sibolang,ragihotang, mangiring, sadum dan lain-lain. Harga kain ulos berkisar dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Hal tersebut tergantung dari jenis, motif dan bahannya.Menurut kepercayaan suku Batak, terdapat 3 sumber kehangatan yaitu matahari, api, dan kain ulos. Suku Batak kebanyakan tinggal di bukit yang dingin, selain matahari, ulos juga menjadi sumber kehangatan bagi mereka. Kain ulos memiliki peranan penting di kehidupan Masyarakat Batak. Selain dipakai dalam kegiatan sehari-hari, kain ulos juga digunakan dalam acara-acara besar seperti pernikahan, kelahiran dan upacara kematian.Kain ulos memiliki keistimewaan tersendiri di masyarakat batak.[4]
       Pembuatan benang dari kapas denga jalan “Manorha” dan menenunnya menjadi kain dengan jalan “Martonun”. Warna yang pada awalnya lebih dominan digunakan adalah tiga warna. Yaitu warna putih berarti suci di pakai untuk pihak adaboru atau keluarga suami.,  Warna Merah berarti , dan di pakai oleh pihak donagn tubu atau keluarga semarga dan warna hitam berarti kuat, teguh dan kokoh,di pakai untuk hula-hula yaitu pihak keluarga wanita.[5]  Proses pewarnaan saat ini sudah di lakukan dengan cara sintetik dan cara alami menggunakan sari daun-daunan. Belakangan ini selain merupakan warisan budaya yang perlu dilestarikan, ulos batak juga sudah banyak mengalami perubahan karena inovasi dalam peningkatan proses produksi yang menyangkut proses pewarnaan maupun desain yang digunakan.     
            Namun demikian, makna sakral yang tersirat di dalam Ulos Batak tetap di pertahankan terutama dalam upacara adat Batak. Ulos Batak pun ternyata memiliki nilai artistik yang khas dan telah memasuki pasaran hingga memiliki niliai ekonmi yang semakin tinggi. Ulos Batak saat ini peruntuknya bukan hanya berfungsi dalam kegiatan budaya masyarakat Batak.[6]
C.Corak Motif Ulos Batak Pada parompa Sadun[7]
1. Rambu-rambu
     Diperlambang dengan rambu-rambu yang mengikuti badan kain tempat bergantungan. Melambai kesana kemari, atas kehendak dari badan kain. Di ibaratkan dengan rakyat banyak yang mempunyai pimpinan yang tertur dan berdisiplin. Dengan peraturan dan tata tertib, serta cara hidup  derdasarkan Adat Istiadat yang sudah di susun Nenek Moyang. Bergerak dan bertindak sesuai dengan cara hidup yang telah digairahkan agar selamat sejahtera aman dan damai.           
2. Simata
     Diperlambangkan dengan manik-manik  yang terang dan cerah, seperti anak biji mata. Untuk hati-hati melihat dengan  terang segala susunan dan corak yang terjadi dalam kehidupan manusia. Berbagai macam yang harus diperhatikan, dihadapi, ditempuh dan dialami. Oleh karena itu, harus hati-hati dan waspada, Seperti apa yang disebut dalam adat”Mata Guru Roha Sisean.
3. Lus-lus
     Melambangkan keindahan dan kehormonisan dimana harus sejalan dan searah serta  satu derap langkah. Jesatuan dan persatuan adalah penting untuk memepertinggi harkat kemanusiaan untuk memperoleh kemuliaan, memepertinggi harga diri dan pandangan hidup. Ibarat suami istri, bila se-ia-sekata, rukun dan damai. Sudah tentu keharmonisan ini, memberikan pandangan nilai martabat yang tinggi.              
4. Pusuk Rabung
     Diperlambangkan dengan pucuk/kuncup anak bambu yang baru tumbuh (robung) dia akan cepat besar dan menjulang keangkasa. Setelah dia cukup tinggi, ranting dan daun akan tumbuh semerbak daunnya akan melindungi yang di bawah, ujung atau pucuknya akan melengkung kembali kepohon atau akarnya. Seakan-akan ia tidak melupakan asalnya, dan melindungi anak-anaknya yang tumbuh berikutnya.[8]
5. Tutup Mumbang
Diperlambangkan dengan bunga kelapa jika dia selamat lanjut usia, lama hidup, besar menjadi buah kelapa. Yang banyak manfaat untuk berbagai macam makanan. Semakin tua semakin berminyak. Jika ia jatuh sebelum menjadi buah.
6. Iran-iran
     Diperlambangkan dengan bunga yang bertaburan, masing-masing mempunyai ciri khas, warna dan bentuk tersendiri. Manusia yang banyak sudah barang tentu, masing-masing mempunyai watak yang berbeda, dan tingkah laku tersendiri. Untuk itu harus melihat  ada batasan.   
7. Ruang
     Melambangkan corak ruang besar, dengan berbagai macam warna, merupakan sisik ular  yang bertuah, yang biasa disebut “Ulok Siraganding Tua”. Ruang adalag suatu lobang atau pintu yang besar, Bila dilalui mungkin mendapat kebahagiaan, atau sebaliknya mungkin mendapat kebahagiaan, atau sebaliknya mungkin berkurang dalam  penderitaan, atau berbagai macam penanggungan hidip.
8. Sijobang
     Diperlambnagkan dengan bulu burung Uwo yang indah cantik dan rapi, tumbuh secara alamiah. Burung ini jaranga di temukan serta indranya sangat tajam. Ia mempunyai kebiasaan menggelupur-gelupur dan berkais di tanah. Merupakan ge;anggang baginya. Tempat ini selalu di bersihkannya dari apa saja. Orang sangat suka untuk menangkapnya, tetapi sulit untuk memperolehnya.
9. Singap
     Diperlambangkan dengan penampang atap rumah bahagian depan. Yang di sebut bong-bong ari “alo angin). Jenis apa saja yang bertiup  harus di hadapi baik siang maupun malam. Tabah dan tenang harus berani dan sanggup menghadapi  Segala tantangan dalam kehidupan. Berdiri diatas kaki sendiri, ketimbng mundur atau oleng, lebuh rubuh atau hancur rumah saya adalah milik saya, rumah saya adalah istana saya. Semua orang atau tamu harus tunduk atau patuh kepada peraturan rumah tangga saya. Dimana tanah di pijak di situ langit dijinjung.
10. Surat
     “HORAS MEMASUKI “
Dimana  pada bagian ini, terdapat berbagai macam bunyi surat bagus artinya, dimana pada bahagian ini terdapat berbagai macam surat, yang nagus artinya, atau nama orang yang menjadi pemilikinya.
11. Bunga
Diperlambangkan dengan bunga  ros yang cantik, yang selalu indah dipandang mata, dicintai dan di sukai setiap orang. Cantik dan keharuman sesuatu bunga, diperlambangkan manusia sejak kecil sampai akhir hayatnya. Untuk harus selalu berbuat baik dan berbudi luhur, sebagi penghias diri yang di kenang orang sepanjang hidup. “Bagaikan sekumtum bunga bunga yang tumbuh mekar, dan harum semerbak”. Semua orang menyukai bunga, maka berusahalah seperti bunga. Semua orang menyukai dan ingin memilikinya.
12. Badan
     Diperlambangkan dengan taburan iran-iran yang bertumpuk-tumpuk. Menginginkan keturunan yang banyak, yang baik-baik dan berguna, berkelompok-lompok, dapat bersatu dan bekerja sama agar dapat membangun kerajaan dan  dimana banyak menyebar.[9]         
D. Dasar Warna Benag Batak Pada Parompa Sadun yaitu:
            1. Putih melambangkan kesucian dan kejujuran
            2. Merah  melambangkan kepahlawanan dan keberanian
            3. Kuning melambangkan kaya/kesuburan
            4. Hitam melambangkan duka.
 E. Fungsi Kain Adat
     Kain Adat banyak ragamannya, di antaranya yang mempunyai nilai yang paling tinggi ada 2 (dua):
1.      Abit Batak, Abit Godang, atau Ulos Godang, adalah tenunan masyarkat, yang mempunyai fungsi Adat, di daerah Tapanuli Selatan. Yang terkenal dengan namajulukan “Tonunan Ni Boru Regar Sipirok”. Terkenal sejak dahulu sampai sekarang. Kain adat yang di hormati dan di hargai penggunaannya, mempunyai nilai kebesaran dan kemuliaan dalam upacara Adat. Mempunyai ragam corak warna dan bunga, atau gambaran-gambaran yang mengandung arti falsafah khas Adat. Dipergunakan dalam Upacara Adat, baik dalam waktu siluluton (duka cita), maupun sirion (suka cita)
             Fungsi Abit Batak antara lain:
a.       Sabe-sabe (selendang) waktu manortor.
b.      Ulos ni Tondi, yang diberikan Mora  kepada Anak Boru, sewaktu pereamian memasuki rumah baru pihak Anak Boru.
c.       Ulos Si pir Ni Tondi, yaitu selimut kayu bubungan atas (ulos ni bungkulan si raja ni hayu, sewaktu manaekkon bungkulan ni bagas), sewaktu mendirikan rumah baru.
d.      Abit Godang yang diberikan orang tua kepada ptri (barang bawaan), sewaktu peresmian perkawinan.
e.       Selimut Hombung (peti mayat),  sewaktu hemdak mau di arak atau diagung ke pemakaman.
f.       Selimut atau tali pengiring kerbau, yang di berikan sebagai membangun bantuan kepada Adat.
g.       Penutup/ulos hidangan pengupa.
Dan adapula yang berpendapat dibeberapa daerah, bahwa bila abit batak diberikan kepada anak putri sewaktu peresmian perkawinannya. Berarti pihak orang tua siputri, mendesak agar pihak orang tua si lelaki mengadakan upacara Horja Godang Mangupa Di NaHaroan Boru untuk menyambut kedatangan anak putrinya. Sehingga ada sebahagian orang tua pengantin laki-laki bila tidak sanngup manggondang (mengadakan Horja), mereka tidak mau menerima Abit Batak tersebut buat sementara.[10]    
2.      Parompa Sadun atau Panjangki Natogu.
Parompa Sadun  Adalah kain penggendong anak yang baru lahir, yang diberikan oleh pihak Mora. Ini merupakan utang adat sangat penting dari fihak Mora kepada Anak Boru. Apalagi anak yang baru lahir itu merupakan anak pertama. Maka bila ada horja adat, inilah dipakai sebagai kain penggendong anak.
Apalagi daganak panggoaran, jadi utang sagodang parompa/panjagit sian morana (ompung sang tulang).
Cara ni na manjagit panjagit on adong dua macam :
1.      Dialap tu bagas ni mora
2.      Ditaruhon mora tu bagas ni anak boru
Cara penyerahan ni Panjagit on adong muse dua macam :
1.      Mambuat disangkotan
2.      Dipasahat digokkon di jolo ni Raja-Raja.
Muda namanbuat boru disangkotan, nada pola on ditahihon dijolo harojaon/hatobangon, dohot landasan upa-upa ni on pe manuk do. Muda di pasahat di gobakkon di jolo ni Raja-Raja angkon ditahihonon dohot landasanna pe sekurang-kurangna pangkupangi (hambeng).
Panjangki on ima parompa SADUN, di waktu mangalehen on, dopei koum-koum na marsilehen pakean-pakean ni daganak i, selendang dohot nalain-lain, napatidahon godang ni roha. Halak naso tola pake parompa Sadun.[11]
Dalam upacara pemberian kain adat ini desebut Mangalehen Parompa. Kain adat ini di selempangkan di bahu kedua orang tua bayi, seolah-olah di pakai untuk menggendong. Pada waktu upacar seperti acara adat batak lainnya hadir piha-pihak yang disebut dengan dalihan natolu, yaitu pihak dari keluarga suami (kahangg/Dongan tubui), keluarga dari pihak istri (Mora/Hula-hula) dan keluarga dari pihak saudara  wanita suami (Anak Boru).
Pemberian kain ini disertai nasehat dan doa dari semua yang hadir secara bergantian agar kelak anak yang baru dilahirkan akan menjadi anak yang berguna, yang merupakan perwujudan rasa syukur keluarga besar akan kehadiran anggota keluarga baru. Disinipun diberikan juga nasi pangupaan.



KESIMPULAN
Dengan hadirnya Makalah kami yang singkat ini, mudah-mudahan dapat membantu para peminat budaya untuk bahan pelajaran dan penelitian serta pengembangan, agar adat budaya semakin kuat dalam masyarakat. Pemakalah berpendapat harus ada kemauan bersama untuk memelihara  Adat Budaya Tapanuli Selatan, agar jangan ketinggalan dari adat budaya suku-suku lainnya ynag terdapat di indonesia ini. Khususnya pada pembahasan makalah kami ini yang berjudul Makna Dari Pemberian Ulos Batak Dan Parompa Sadun. Karena dalam pembahasan kami ini, terkandung makna yang sangat berarti dalam kehidupan berbudaya. Yaitu mempunyai makan agar dalam pemberian Ulos Batak Dan parompa Sadun ini,agar sehat jiwa da raga. Dan juga memberikan kehangatan dan juga berkat. Dalam ulos ini juga berfungsi memberi panas yang memyehatkan badan dan menyenangkan fikiran sehingga kita gembira di buatnya.



[5] http://sosbud.kompasiana.com/2013/03/24/mangulosi-dan-upa-upa-tradsi-adat-batak-penuh-makna-539838.html/23/09/2013/08.40wib
[7] Sutan Tinggi Barani Perkasa Alam, Seni Budaya Tradisional Tapsel, (Padangsidimpuan,1984). Hlm.46
[8] Siregar Baumi, Kain Adat Sejarah Ornamen Dan Fungsi,(Padangsidimpuan,1980). Hlm.9-12
[9] Ibid, 13-24
[10] Ibid.,hlm.26-27
[11] Tinggi Barani Perkasa Alam DKK, Burangir Na Hombang, (padangsidimpuan,1977). Hlm. 21-22

Tidak ada komentar:

Posting Komentar